Sang Seremonialis April 10, 2008
Posted by alfikr in Inspirasi, Nasional.trackback
Hari itu Badu tampak begitu semangat dan ceria. Ada apa gerangan? Ternyata Badu berencana untuk menemui Sekum yayasan yang menaungi unit dakwah tempat ia beraktivitas. Ia dan seorang temannya akan mengajukan proposal peringatan Hari Lingkungan Hidup kepada Sekum Yayasan. Acara peringatan itu secara garis besar terdiri atas Lomba Gerak Jalan Sehat sambil membersihkan sampah yang berserakan, Gerakan Tanam Pohon di beberapa sudut kota, Lomba Menghias Bak Sampah, dan Demonstrasi Pengolahan Sampah Organik.
Dengan lancarnya Badu menjelaskan panjang lebar rencana kegiatan dalam proposal kegiatan Lingkungan Hidup itu, sembari berharap sang Sekum terpesona dan menyetujui rencana tersebut. Setelah beberapa menit melakukan presentasi, akhirnya ucapan Badu sampai juga pada ‘titik’. Sang Sekum yayasan pun menimpali dengan singkat, “Sudah selesai?”. “Sudah, pak!”, ujar Badu dengan mata yang berbinar-binar.
“Badu, mengapa sih harus bikin acara yang gede kayak gini?? Apa esensinya?”, tanya Sekum yayasan.
“Untuk memotivasi peserta agar cinta lingkungan hidup, pak”, jawab Badu masih bersemangat.
“Apa kamu yakin dua ratusan peserta itu akan ingat dan melaksanakan pesan-pesan pada acaramu itu di keseharian mereka? Kok saya ga yakin ya… Bukannya seringkali semangat di awal pas hari H, tapi setelah itu lupa?”, cecar Sekum yayasan.
“Tenang saja, pak. Kami juga merencanakan kegiatan tindak-lanjutnya kok… tidak akan berhenti pada kegiatan ini aja.. setelah kegiatan gede ini, kami mau bikin klub pecinta lingkungan hidup yang bisa melakukan hal-hal yang lebih riil”, ujar Badu masih berapi-api.
“Badu, kamu kok sukanya bikin seremonii aja…kalo memang niatnya untuk bergerak secara aktif dalam pelestarian lingkungan hidup, mengapa harus diawali dengan acara beranggaran jutaan rupiah, mengundang ratusan peserta yang belum tentu berkomitmen, dan terlalu disibukkan dengan simbol-simbol yang seringkali justru tidak bermanfaat banyak buat lingkungan hidup. Kalo usul saya sih, kalian bisa memulainya dengan kelompok kecil, 5 atau 10 orang, yang benar-benar bisa beraksi nyata untuk lingkungan meskipun skalanya kecil. Yang pasti, biayanya sangat bisa ditekan, dan pengelolaannya juga lebih mudah.”, terang Pak Sekum panjang lebar.
Badu pun termenung. Hasrat hatinya seolah tak bisa menerima argumentasi yang disampaikan Sekum Yayasan. Namun, ia tak bisa menyangkal bahwa logika di kepalanya turut mengamini nasihat itu. Badu pun terbata, mengharapkan sejurus kata bermakna yang terangkai indah dari lisannya, untuk meluluhkan hati sang sekum.
***
Saya mirip dengan Badu. Membaca lagi fragmen kisah di atas mengingatkan saya pada pengalaman yang hampir serupa, tiga tahun yang lalu. Menurut saya saat itu, adalah hal biasa dan sangat wajar sekali ketika suatu organisasi mengadakan kegiatan yang (apapun bentuknya, tetap saja) bersifat seremonial. Seremoni-seremoni itu tak ubahnya cenderamata yang menjadi pengingat dan penyemangat setiap penerimanya untuk melakukan sesuatu yang dipesankan melalui cenderamata itu. Tidak ada yang salah dengan seremoni selama ia tidak menjadi tujuan akhir dari suatu kegiatan. Begitulah pikir saya. Walhasil, kegiatan yang direncanakan memang dapat berjalan dengan cukup lancar (salut dan “angkat topi” buat panitia semuanya
), tetapi tetap ada satu hal yang masih mengganjal di hati
.
Dari pengalaman tersebut, pelan-pelan saya menyimpulkan bahwa sepertinya kami saat itu belum terbiasa dan mungkin juga belum cukup berani untuk “keluar” dari pakem. Pakemnya adalah bahwa motivasi yang luar biasa itu harus bermula dari seremoni yang kolosal dan berbiaya tinggi, kemudian terseleksilah orang-orang yang punya semangat dan komitmen untuk melanjutkan usaha-usaha yang riil (bukan sekedar formalitas belaka) secara berkesinambungan. Kami belum terbiasa “melawan arus” dalam berpikir dan kami belum punya nyali untuk menghindar dari pakem itu.
Usulan Pak Sekum pada fragmen di atas menggambarkan pola pikir yang tidak populer, yakni bermula dari kelompok kecil, tidak terekspos, dan terasa kurang atmosfer syi’arnya, padahal justru bermula dari kondisi seperti itulah sesuatu yang besar akan tercapai. Dalam ruang lingkup pakem ini, seolah-olah sulit sekali untuk menerapkan konsep “dimulai dari diri sendiri, dimulai dari yang kecil, dan dimulai dari sekarang” meskipun sebenarnya kita semua setuju dengan konsep ini.
Semoga tidak berlebihan jika saya menganggap bahwa pakem ini tanpa kita sadari telah menelusup dalam relung-relung pola pikir masyarakat kita. Hal ini menjadi suatu otokritik, karena sesungguhnya pola pikir saya pun berhasil ditelusupinya
. Dalam skup nasional, kita bisa melihat bagaimana kegiatan Kampanye Bike to Work, Gerakan Perempuan Tanam dan Pelihara Pohon, dan kegiatan lain yang sejenis mencerminkan kuatnya pengaruh seremonialisme. Tidak sedikit nominal biaya yang dikeluarkan untuk membeli topi, kaos, dan sejumlah aksesori lainnya untuk memeriahkan acara, padahal mungkin uang sebanyak itu bisa digunakan untuk menambah pemasukan anggaran perbaikan sarana dan prasarana transportasi dan membeli jutaan pohon untuk ditanam.
Terlepas dari “haram” atau “halal”-nya seremonialisme, yang jauh lebih penting kita perhatikan adalah kesungguhan dan komitmen untuk menindaklanjuti seremoni-seremoni itu dengan aksi nyata. Ini dia yang berat, karena kita harus membuat aksi nyata itu jauh lebih meriah dan heboh daripada seremoninya.
Pada tataran yang lebih idealis, kita harus beranjak untuk mengubah pola pikir kita. Kita harus belajar berani untuk keluar dari pakem seremonialisme. Kita harus belajar melesat “melawan arus” kelaziman seremonial dalam masyarakat kita. Saya pun bermimpi untuk masa depan, semoga secara kolektif bangsa ini lebih mendahulukan pengorbanan untuk bersusah payah merintis aksi nyata sedikit demi sedikit sehingga lama-lama jadi bukit. Setelah bukti aksi nyata itu jelas terlihat , barulah kita menggelar seremoni untuk mensyukurinya sebagai anugerah dari Allah dan semakin memantapkan syiar aktivitas positif kita kepada khalayak ramai, sembari menjaga niat bahwa seremoni tersebut bukan untuk berbangga-bangga
. Semoga Allah memudahkan ikhtiar kita.
kegiatan seremonial pun awalnya dari kelompok kecil, bukan? minimal panitianya udah punya keinginan..
to ikhfa:
ya betul, kegiatan seremonial pun berawal dari kelompok kecil. Namun, yang ingin ditekankan di sini bukan runutan atau hubungan kausalitasnya…, tetapi lebih pada pola kebiasaan yang membentuk persepsi sehingga kita merasa kurang “sreg” kalo belum mengadakan seremoni untuk memulai suatu aksi massal yang diharapkan bermanfaat bagi hajat hidup orang banyak. Pola kebiasaan itulah yang menjadi sasaran otokritik pada artikel ini
de javu…
NDESO oleh : Ika S. Creech *)
Deso (baca ndeso) itulah sebutan untuk orang yang norak, kampungan, udik, shock culture, countrified dan sejenisnya. Ketika mengalami atau merasakan sesuatu yang baru dan sangat mengagumkan, maka ia merasa takjub dan sangat senang, sehingga ingin terus menikmati dan tidak ingin lepas, kalau perlu yang lebih dari itu. Kemudian ia menganggap hanya dia atau hanya segelintir orang yang baru merasakan dan mengalaminya. Maka ia mulai atraktif, memamerkan dan sekaligus mengajak orang lain untuk turut merasakan dan menikmatinya, dengan harapan orang yang diajak juga sama terkagum-kagum sama seperti dia.
Lebih dari itu ia berharap agar orang lain juga mendukung terhadap langkah-langkah untuk menikmatinya terus-menerus. Hal ini biasa, seperti saya juga sering mengalami hal demikian, tetapi kita terus berupaya untuk terus belajar dari sejarah, pengalaman orang lain, serta belajar bagaimana caranya tidak jadi orang norak, kampungan alias deso.
Semua kampus di Jepang penuh dengan sepeda, tak terkecuali dekan atau bahkan Rektorpun ada yang naik sepeda datang ke kampus. Sementara si Pemilik perusahaan Honda tinggal di sebuah apartemen yang sederhana. Ketika beberapa pengusaha ingin memberi pinjaman kepada pemerintah Indonesia mereka menjemput pejabat Indonesia di Narita. Dari Tokyo naik kendaraan umum, sementara yang akan dijemput, pejabat Indonesia naik mobil dinas Kedutaan yaitu mercy.
Ketika saya di Australia berkesempatan melihat sebuah acara seremoni dari jarak yang sangat dekat, dihadiri oleh pejabat setingkat menteri, saya tertarik mengamati pada mobil yang mereka pakai merk Holden baru yang paling murah untuk ukuran Australia. Yang menarik, para pengawalnya tidak terlihat karena tidak berbeda penampilannya dengan tamu-tamu, kalau tidak jeli mengamati kita tidak tahu mana pengawalnya.
Di Sidney saya berkenalan dengan seorang pelayan restoran Thailand. Dia seorang warga negara Malaysia keturunan Cina, sudah selesai S3, sekarang lagi mengikuti program Post Doc. Dia anak serorang pengusaha yang kaya raya. Tidak mau menggunakan fasilitas orang tuanya malah jadi pelayan. Dia juga sebenarnya dapat beasiswa dari perguruan tingginya.
Satu bulan saya di Jepang tidak melihat orang pakai HP Communicator, mungkin kelemahan saya mengamati. Dan setelah saya baca koran ternyata konsumen terbesar HP communicator adalah Indonesia . Sempat berkenalan juga dengan seorang yang berada di stasiun kereta di Jepang, ternyata dia anak seorang pejabat tinggi negara, juga naik kereta. Yang tak kalah serunya saya juga jadi pengamat berbagai jenis sepatu yang di pakai masyarakat Jepang ternyata tak bermerek, wah ini yang deso siapa yaa?
Sulit membedakan tingkat ekonomi seseorang baik di Jepang atau di Australia , baik dari penampilannya, bajunya, kendaraannya, atau rumahnya. Kita baru bisa menebak kekayaan seseorang kalau sudah tahu pekerjaan dan jabatannya di perusahaan. Jangan-jangan kalau orang Jepang diajak ke Pondok Indah bisa pingsan melihat rumah segitu gede dan mewahnya. Rata-rata rumah di sana memiliki tinggi plafon yang bisa dijambak dengan tangan hanya dengan melompat. Sehingga duduknyapun banyak yang lesehan.
Ketika Indonesia sedang terpuruk, hutang lagi numpuk, rakyat banyak yang mulai ngamuk, negara sedang kere, banyak yang antri beras, minyak tanah, minyak goreng dll. Maka harga diri kita tidak bisa diangkat dengan medali emas turnamen olah raga, sewa pemain asing, banyak seremonial yang gonta-ganti baju seragam, baju dinas, merek mobil, proyek mercusuar, dll, dsb, dst.
Bangsa ini akan naik harga dirinya kalo utang sudah lunas, kelaparan tidak ada lagi, tidak ada pengamen dan pengemis, tidak ada lagi WTS (Wanita Tidak Sholat, di Malaysia “Wanita Tak Senonoh”) , angka kriminal rendah, korupsi berkurang, punya posisi tawar terhadap kekuatan global. Maka orang Deso (alias norak) tidak mampu mengatasi krisis karena tidak bisa menjadikan krisis sebagai paradigma dalam menyusun APBD dan APBN. Nah, karena yang menyusun orang-orang norak maka asumsi dan paradigma yang dipakai adalah negara normal atau bahkan mengikut negara maju.
Bayangkan ada daerah yang menganggarkan sepak bola 17 milyar sementara anggaran kesra-nya 100 juta, wiiieh!
Akhirnya penyakit norak ini menjadi wabah yang sangat mengerikan dari atas sampai bawah :
- Orang bisa antri raskin sambil pegang HP
- Pelajar bisa nunggak SPP sambil merokok
- Orang tua lupa siapkan SPP, karena terpakai untuk beli tv dan kulkas
- Orang bule mabuk krn kelebihan uang, orang kampung mabuk beli minuman patungan
- Pengemis bisa pake walkman sambil goyang kepala
- Para pengungsi bisa berjoged dalam tendanya
- Orang beli gelar akademis di ruko-ruko tanpa kuliah
- Ijazah S3 luar negeri bisa di beli sebuah rumah petakan gang sempit di Cibubur
- Kelihatannya orang sibuk ternyata masih sering keluar masuk McDonald
- Kelihatannya orang penting, ternyata sangat tahu detail dunia persepakbolaan.
- Kelihatan seperti aktivis tapi habis waktu untuk mencetin HP
- 62 tahun merdeka, lomba-lombanya masih makan kerupuk saja
- Agar rakyat tidak kelaparan maka para pejabatnya dansa dansi di acara tembang kenangan.
- Agar kampanye menang harus berani sewa bokong-bokong bahenol ngebor
- Agar masyarakat cerdas maka sajikan lagu goyang dombret dan wakuncar
- Agar bisa disebut terbuka maka harus bisa buka-bukaan
- Agar kelihatan inklusif maka hrs bisa menggandeng siapa saja, kalo perlu jin Tomang jg digandeng
Yang lebih mengerikan lagi adalah supaya kita tidak terlihat kere, maka harus bisa tampil keren. Makin kiamatlah kalo si kere tidak tahu dirinya kere.
*) Penulis adalah Putra Indonesia Asli, kini bertempat tinggal di Paris, Perancis dan bekerja sebagai Pembawa Acara di salah satu stasiun di Perancis.
to burunk :
begitulah dunia, berada di bawah bayang-bayang kenisbian… perlu ikhtiar yang istiqamah untuk terus melihat cahaya absolut
Wah tulisan NDESOnya bagus tu
Ya bisa dibilang jujur lah