Hari itu Badu tampak begitu semangat dan ceria. Ada apa gerangan? Ternyata Badu berencana untuk menemui Sekum yayasan yang menaungi unit dakwah tempat ia beraktivitas. Ia dan seorang temannya akan mengajukan proposal peringatan Hari Lingkungan Hidup kepada Sekum Yayasan. Acara peringatan itu secara garis besar terdiri atas Lomba Gerak Jalan Sehat sambil membersihkan sampah yang berserakan, Gerakan Tanam Pohon di beberapa sudut kota, Lomba Menghias Bak Sampah, dan Demonstrasi Pengolahan Sampah Organik.

Dengan lancarnya Badu menjelaskan panjang lebar rencana kegiatan dalam proposal kegiatan Lingkungan Hidup itu, sembari berharap sang Sekum terpesona dan menyetujui rencana tersebut. Setelah beberapa menit melakukan presentasi, akhirnya ucapan Badu sampai juga pada ‘titik’. Sang Sekum yayasan pun menimpali dengan singkat, “Sudah selesai?”. “Sudah, pak!”, ujar Badu dengan mata yang berbinar-binar.

“Badu, mengapa sih harus bikin acara yang gede kayak gini?? Apa esensinya?”, tanya Sekum yayasan.

“Untuk memotivasi peserta agar cinta lingkungan hidup, pak”, jawab Badu masih bersemangat.

“Apa kamu yakin dua ratusan peserta itu akan ingat dan melaksanakan pesan-pesan pada acaramu itu di keseharian mereka? Kok saya ga yakin ya… Bukannya seringkali semangat di awal pas hari H, tapi setelah itu lupa?”, cecar Sekum yayasan.

“Tenang saja, pak. Kami juga merencanakan kegiatan tindak-lanjutnya kok… tidak akan berhenti pada kegiatan ini aja.. setelah kegiatan gede ini, kami mau bikin klub pecinta lingkungan hidup yang bisa melakukan hal-hal yang lebih riil”, ujar Badu masih berapi-api.

“Badu, kamu kok sukanya bikin seremonii aja…kalo memang niatnya untuk bergerak secara aktif dalam pelestarian lingkungan hidup, mengapa harus diawali dengan acara beranggaran jutaan rupiah, mengundang ratusan peserta yang belum tentu berkomitmen, dan terlalu disibukkan dengan simbol-simbol yang seringkali justru tidak bermanfaat banyak buat lingkungan hidup. Kalo usul saya sih, kalian bisa memulainya dengan kelompok kecil, 5 atau 10 orang, yang benar-benar bisa beraksi nyata untuk lingkungan meskipun skalanya kecil. Yang pasti, biayanya sangat bisa ditekan, dan pengelolaannya juga lebih mudah.”, terang Pak Sekum panjang lebar.

Badu pun termenung. Hasrat hatinya seolah tak bisa menerima argumentasi yang disampaikan Sekum Yayasan. Namun, ia tak bisa menyangkal bahwa logika di kepalanya turut mengamini nasihat itu. Badu pun terbata, mengharapkan sejurus kata bermakna yang terangkai indah dari lisannya, untuk meluluhkan hati sang sekum.

***

Saya mirip dengan Badu. Membaca lagi fragmen kisah di atas mengingatkan saya pada pengalaman yang hampir serupa, tiga tahun yang lalu. Menurut saya saat itu, adalah hal biasa dan sangat wajar sekali ketika suatu organisasi mengadakan kegiatan yang (apapun bentuknya, tetap saja) bersifat seremonial. Seremoni-seremoni itu tak ubahnya cenderamata yang menjadi pengingat dan penyemangat setiap penerimanya untuk melakukan sesuatu yang dipesankan melalui cenderamata itu. Tidak ada yang salah dengan seremoni selama ia tidak menjadi tujuan akhir dari suatu kegiatan. Begitulah pikir saya. Walhasil, kegiatan yang direncanakan memang dapat berjalan dengan cukup lancar (salut dan “angkat topi” buat panitia semuanya :D ), tetapi tetap ada satu hal yang masih mengganjal di hati :) .

Dari pengalaman tersebut, pelan-pelan saya menyimpulkan bahwa sepertinya kami saat itu belum terbiasa dan mungkin juga belum cukup berani untuk “keluar” dari pakem. Pakemnya adalah bahwa motivasi yang luar biasa itu harus bermula dari seremoni yang kolosal dan berbiaya tinggi, kemudian terseleksilah orang-orang yang punya semangat dan komitmen untuk melanjutkan  usaha-usaha yang riil (bukan sekedar formalitas belaka) secara berkesinambungan. Kami belum terbiasa “melawan arus” dalam berpikir dan kami belum punya nyali untuk menghindar dari pakem itu.

Usulan Pak Sekum pada fragmen di atas menggambarkan pola pikir yang tidak populer, yakni bermula dari kelompok kecil, tidak terekspos, dan terasa kurang atmosfer syi’arnya, padahal justru bermula dari kondisi seperti itulah sesuatu yang besar akan tercapai. Dalam ruang lingkup pakem ini, seolah-olah sulit sekali untuk menerapkan konsep “dimulai dari diri sendiri, dimulai dari yang kecil, dan dimulai dari sekarang” meskipun sebenarnya kita semua setuju dengan konsep ini.

Semoga tidak berlebihan jika saya menganggap bahwa pakem ini tanpa kita sadari telah menelusup dalam relung-relung pola pikir masyarakat kita. Hal ini menjadi suatu otokritik, karena sesungguhnya pola pikir saya pun berhasil ditelusupinya :) . Dalam skup nasional, kita bisa melihat bagaimana kegiatan Kampanye Bike to Work, Gerakan Perempuan Tanam dan Pelihara Pohon, dan kegiatan lain yang sejenis mencerminkan kuatnya pengaruh seremonialisme. Tidak sedikit nominal biaya yang dikeluarkan untuk membeli topi, kaos, dan sejumlah aksesori lainnya untuk memeriahkan acara, padahal mungkin uang sebanyak itu bisa digunakan untuk menambah pemasukan anggaran perbaikan sarana dan prasarana transportasi dan membeli jutaan pohon untuk ditanam.

Terlepas dari “haram” atau “halal”-nya seremonialisme, yang jauh lebih penting kita perhatikan adalah kesungguhan dan komitmen untuk menindaklanjuti seremoni-seremoni itu dengan aksi nyata. Ini dia yang berat, karena kita harus membuat aksi nyata itu jauh lebih meriah dan heboh daripada seremoninya.

Pada tataran yang lebih idealis, kita harus beranjak untuk mengubah pola pikir kita. Kita harus belajar berani untuk keluar dari pakem seremonialisme. Kita harus belajar melesat “melawan arus” kelaziman seremonial dalam masyarakat kita. Saya pun bermimpi untuk masa depan, semoga secara kolektif bangsa ini lebih mendahulukan pengorbanan untuk bersusah payah merintis aksi nyata sedikit demi sedikit sehingga lama-lama jadi bukit. Setelah bukti aksi nyata itu jelas terlihat , barulah kita menggelar seremoni untuk mensyukurinya sebagai anugerah dari Allah dan semakin memantapkan syiar aktivitas positif kita kepada khalayak ramai, sembari menjaga niat bahwa seremoni tersebut bukan untuk berbangga-bangga :) . Semoga Allah memudahkan ikhtiar kita.