Dimulai dari nol Maret 30, 2008
Posted by alfikr in Inspirasi.trackback
“Dimulai dari angka nol ya pak”, begitulah kira-kira ungkapan dalam iklan salah satu perusahaan minyak di Indonesia yang mulai sering menghiasi layar kaca. Kalau kita perhatikan, isi dari iklan itu merupakan deskripsi itikad dan rencana baik perusahaan pengiklan untuk memberikan layanan yang jujur dan prima kepada masyarakat. Itu semua terwakili dengan pernyataan yang inspiratif: “dimulai dari angka nol”. [Ini bukan promosi lho, cuma sekedar contoh:D]
Secara manusiawi, semua kita pasti—setidaknya—akan mencium aroma kebaikan di balik ungkapan “dimulai dari nol”. Jika kita mengisi bensin dan petugasnya mengucapkan “dimulai dari angka nol”, kita akan termotivasi untuk menyakini kejujuran si petugas dan sistem pengisian bahan bakar yang digunakan. Jika seorang pengusaha sukses mengucapkan “saya memulainya dari nol”, maka akan tergambarkan bagaimana gigihnya ikhtiar sang pengusaha yang tak kenal menyerah dan rela jatuh-bangun sehingga bisa sukses di kemudian hari. Jika kita menimbang sesuatu, maka kita akan percaya dengan hasil timbangan itu jika jarum penunjuknya berawal dari angka nol.
Pada kenyataannya, konsep “dimulai dari nol” tidak hanya berkorelasi dengan fakta matematis dan konkret seperti di atas. Lebih mendasar lagi, konsep ”dimulai dari nol” pun sudah diisyaratkan dalam al-Quran sehingga konsep ini merupakan nilai universal yang berlaku pada setiap aspek kehidupan kita. Pada ranah yang paling fundamental, konsep ”dimulai dari nol” tercermin dalam kalimat tauhid ”Laa ilaaha illa Allah”.
Frase ”La ilaaha” dalam kalimat tauhid adalah sebentuk penihilan (an-nafyu) atau me-nol-kan atau mengarahkan jarum penunjuk penghambaan diri kita pada posisi nol. Pe-nol-an ini adalah upaya untuk membersihkan jiwa dan raga kita dari penghambaan yang tidak benar dan menghilangkan semua ketergantungan kepada tuhan-tuhan yang tak layak di sembah. Setelah bersih, baru disambung dengan frase ”illa Allah” (al-itsbaat). Melalui frase ini, jarum penunjuk penghambaan yang sebelumnya berada pada posisi nol/netral diarahkan agar menunjuk pada tujuan yang benar, yakni Allah swt. Pengarahan kepada tujuan yang benar ini tidak berangkat dari angka selain nol, karena pengarahan ini harus terjaga kemurniannya sejak pertama kali ia bergerak. Saudaraku, apakah mungkin kita menyeduh air murni pada gelas yang di dalamnya sudah tercampur bubuk kopi atau teh, atau bahkan gula sekalipun? Bukankah air murni hanya bisa didapatkan pada gelas yang sebelumnya kosong tak berisi?
Posisi nol pada konteks kalimat tauhid melambangkan pembersihan, penyucian, kejujuran, dan kegigihan seorang hamba untuk memurnikan penghambaan dirinya kepada satu-satunya Dzat yang patut disembah. Padanya terwujud ketenangan hati, seperti—meski tidak sebanding—pembeli yang merasa tenang karena timbangan dari sang penjual benar-benar dimulai dari angka nol. Padanya terwujud kegigihan hati, kepuasan hati dan rasa memiliki yang luar biasa terhadap satu-satunya Tuhan, seperti—meski tidak sebanding—sang pengusaha yang meraih kepuasan batin dan rasa memiliki yang prima terhadap usahanya yang dirintis dengan gigihnya mulai dari nol.
”Dimulai dari nol” : langkah pertama dalam pemecahan masalah dan pengambilan keputusan
Konsep ”dimulai dari nol” yang nafasnya dihembuskan dari kalimat tauhid seyognyanya menjadi teladan dalam sikap hidup kita, terutama dalam rangka menyelesaikan pelbagai problematika kehidupan. ”Dimulai dari nol” pada hakikatnya adalah pangkal strategi dalam setiap pemecahan masalah dan pengambilan keputusan. Karena itu, langkah pertama yang mesti kita ambil ketika menemukan suatu masalah kehidupan adalah justru dengan tidak melangkah sedikitpun, dengan berhenti sejenak, dengan tidak melakukan apapun pada pertama kalinya; bukan dengan tergopoh-gopoh memikirkan bagaimana solusinya, bukan pula dengan langsung merumuskan urut-urutan tindakan untuk memecahkan masalah tersebut. Berhentilah sejenak dan ”mulailah dari nol”. Hal ini merupakan upaya untuk menenangkan hati, menjernihkan pikiran, dan menyiapkan energi yang cukup untuk beralih ke langkah selanjutnya. Jika demikian, maka upaya perumusan strategi pemecahan masalah insya Allah akan terasa lebih mudah dan keputusan yang diambil cenderung lebih efektif serta efisien karena diawali dengan kemurnian hati dan pikiran yang berada di ”posisi nol” sebelum melesat dengan cepatnya.
Jadi, jika Anda menemukan masalah pelik yang terungkap dalam suatu rapat/forum diskusi, janganlah bertindak apapun sebelum Anda luangkan waktu untuk diam sejenak sambil menyunggingkan senyum. Anda tidak hanya berupaya menenangkan hati Anda sendiri, tapi Anda pun berperan untuk menularkan emosi positif kepada orang lain melalui senyuman Anda. Jika seseorang tiba-tiba marah pada Anda, maka sempatkan diri Anda untuk diam sejenak; turunkan emosi Anda hingga ”menunjuk pada angka nol” sebelum Anda memutuskan untuk menanggapi amarah itu. Anda tidak hanya sekedar beritikad untuk menuntaskan kemarahan orang itu, tetapi sebenarnya Anda juga sedang melapangkan hatinya agar tersedia jalan yang cukup lebar bagi Anda berdua menuju solusi terbaik.
Tunggu apa lagi sahabat, mari kita latih diri kita untuk ”memulai dari nol” dari sekarang
Ehmm, jadi inget sama quote dari bu Inge:
“Udah, kalo masih belum paham juga, baca lagi nanti sore-sore abis mandi ditemani teh anget!”
Apa hubungannya ya? hehe
to Agust Andy :
kayaknya aku tau deh hubungannya guz, intinya kalo mo belajar suasananya harus santai dan menyenangkan
).. Mandi dan minum teh anget adalah upaya untuk merelaksasi dan me-nol-kan ketegangan syaraf2 di akal kita, hehe
Btw apa sama ma meReset komputer klo lagi hang ya?
hmm, ada hubungannya dengan postingan sebelumnya tentang Al-Insyirah ya? kalo ga salah partisi-partisi ikhtiar…
to didi :
ya..mirip2 lah
to ikhfa :
ya san, ada korelasinya, tapi kalo di sini lebih ditekankan ke cara mengawali sesuatu, sedangkan yang di “partisi-partisi ikhtiar” lebih cenderung ke bagamana kesinambungan antara sesuatu dengan sesuatu yang lainnya
Salam akhi:)..
Masalah pengentasan kemiskinan di Indonesia apakah bisa “dimulai dari angka nol” dgn infak, zakat dan shodaqoh? Teringat seorang dokter, pagi harinya dia bekerja mencari nafkah untuk keluarga…sore harinya dia mjd supir taksi demi mengurangi kemiskinan di negaranya…Alangkah indah yah bila semua muslim yg mampu di Indonesia bersedekah setiap harinya, dgn dasar saling menyayangi dan mengasihi karena Allah. Insya Allah gak akan ada lagi child labor, gak akan ada lagi antrian minyak begitu pjg, dan gak akan ada lagi keluarga yg memakan nasi aking…miris memang…tapi semuanya memang harus dimulai dari nol…Wallahu’alam..
from zero to…. (teruskan..)
mungkin karena memang segalanya bermula dari ketiadaan.
Seperti kata teori Zero Based :
Seorang dosen berkunjung kepada seorang guru Zen. Guru Zen itu menuangkan teh untuk mereka berdua, dan dosen yang telah membaca banyak buku mengenai Zen tersebut mulai membicarakan apa yang telah ia baca. Sementara sang dosen terus berbicara, sang guru mengangkat teko teh itu kembali dan mulai menuangkan teh kedalam cangkir sang dosen. Teh tersebut tumpah dan mulai membasahi meja. Sang dosen berseru, “ Hentikan! Tidakkah anda lihat cangkir itu telah penuh? Ia tidak dapat lagi menampung teh!”
“Hal itu benar,” jawab sang Guru Zen
“Pertama-tama anda harus mengosongkan cangkir anda. Hanya dengan begitulah Anda dapat menerima sesuatu yang baru.”
Salam kenal
to: leli
“ Hentikan! Tidakkah anda lihat cangkir itu telah penuh? Ia tidak dapat lagi menampung teh!”
“Hal itu benar,” jawab sang Guru Zen
“Pertama-tama anda harus mengosongkan cangkir anda. Hanya dengan begitulah Anda dapat menerima sesuatu yang baru.”
ga semua hal dapt disamakan dengan cangkir yg berisi teh itu, ketika mau diiisi harus dikosongkan dulu baru bs diisi lg, gmn klo prinsip cangkir tsb diterapkan di otek manusia, apakah otaknya harus dikosongkan dulu biar hal2 baru bisa diserap oleh otak?
“klo emang ada kesalahan dalam kata, mohon maaf karena kesempurnaan hanya milik DIA”
to : buruk
Ya, benar. memang conditional
ops.. maaf.. barusan salah ketak. maksudnya, to : burunk
“memang ada kesalahan dalam kata, mohon maaf karena kesempurnaan hanya milik DIA”
Hai, Fikri! Lama gak main ke sini.
Setengah tulisan awal saya menikmati. Setengah tulisan akhir jadi kurang seru:p. Refleksinya gak sesuai tebakan saya soalnya. Hehe