jump to navigation

Keaslian Hati 1 Maret 14, 2008

Posted by alfikr in Tentang Cinta.
2 comments

Hati adalah lentera atau tabir kelam. Ia adalah lentera ketika putih menebar kesejukan untuk mereka yang tersiram simpul-simpul senyum. Ia bercahaya bagai kunang-kunang di tengah dingin malam. Menghidupkan kedamaian bagi telinga yang lelah oleh kebisingan dunia. Ia sehangat jabat erat dua sahabat. Yang berpelukan dalam keridhaan dan kerinduan para pejuang kebenaran. Ia semanis kata yang meluncur perlahan. Dari lisan-lisan bermakna yang senantiasa mengambil pelajaran. Ia selembut kapas yang melembutkan selimut-selimut perlindungan. Yang mudah basah di jatuhi air mata ratapan. Mengharap perkenan dan rahmat teragung dari Diri-Nya yang Maha Bijaksana. Yang kan mengusap lembut dengan belaian hikmah sejuta rahasia kehidupan.

Lentera itu adalah sinar yang menerangi taman kecenderungan manusia. Tempat manusia bermain dengan sebuah tujuan. Menuju taman yang terindah dari segala taman. Yang memelihara bunga cinta dengan nutrisi keimanan. Yang menghujani mereka dengan pengharapan tiada batas kepada Allah Ash-Shamad. Yang melenakan mereka dalam cinta dan kerinduan kepada-Nya. Yang membuat terjaga dari segala penyimpangan dan kesalahan arah tujuan. Lalu, mengapa keredupan menyelimuti lentera manusia-manusia sepertiku.

Ketika kulihat jalan yang kutapak sekarang. Kusadari hatiku tak asli lagi. Begitu banyak ku jumpa perhiasan yang tak jua memperindah. Perhiasan yang membuatnya hitam dan ternoda. Perhiasan yang menyilaukan mata hatiku, mengalahkan cahaya lentera pemberian Tuhanku. Mengapa semua penjuru hatiku berubah menjadi tabir kelam kelabu. Yang hanya sedikit menyisakan kehangatan sinar-Nya. Yang menghalangi kedamaian rindu sejatiku. Aku telah menjauh dari-Nya. Kini meski berat. Ku coba beranjak dari kelabu yang mengelilingi. Dengan berharta sisa emas cintaku. Ku ‘kan raih semesta Cinta-Nya.

Dunia penuh cinta yang disuguhkan kepadaku. Ku ambil beribu untuk mereka yang kukasihi. Tak ku teliti lagi. Di dalamnya tersimpan titipan nafsu yang mengoyak-ngoyak jiwaku. Yang menggelayut melemahkan di salah satu keping cintaku. Tuhan kini telah menegurku. Jangan sampai kugadaikan terlalu lama. Hatiku. Untuk sesuatu yang kan musnah dan binasa. Biarkan hatiku tenang dengan satu-satunya cinta yang pantas kuberikan. Hanya kepada Dzat yang telah benar-benar memberikan Cinta-Nya kepadaku. Lalu kusebarkan harum aroma Cinta-Nya untuk mereka yang bergantung kepada Tuhanku. Untuk mereka yang menyerahkan jiwa raga atas nama Cinta tersuci sepanjang sejarah ketentuan-Nya. Tuhanku, kepada siapa kau titipkan pandangan hati dan ketenanganku yang indah. Dia lah jua yang kan mendampingiku tuk bersama menuju Diri-Mu. Berkahilah kami Ya Allahu Ya Muqallibal Quluub.

Tulisan ini menjadi kenangan bagiku akan revolusi cinta yang kualami, hampir sewindu tahun yang lalu