Bike to Work Maret 6, 2008
Posted by alfikr in Numpang Lewat.trackback
Isu Global Warming mulai marak belakangan ini. Meskipun Al Gore udah koar-koar sejak lama (gw nonton DVDnya
), tapi kaya’nya isu ini semakin hangat dan sering dibicarakan sejak dihelatnya konperensi perubahan iklim (UNCCC) di Bali. Salah satu efek dari euphoria itu adalah semangat untuk mengurangi penggunaan bahan bakar fosil, yang sebagiannya diterjemahkan dalam bentuk kampanye “Bike to Work”.
Ngomong-ngomong tentang “Bike to Work”, mungkin pembaca juga udah sering ngelihat semacam “ironi” (lebih tepatnya sih anekdot-ironi) di keseharian. Sebagai contohnya adalah seperti yg gw alamin kemarin banget pas pulang dari kantor. Tanpa sengaja, gw liat ada stiker “Bike to Work” nempel di dashboard motor Yamaha. Mungkin pengalaman ini menurut Anda biasa-biasa aja, tapi terus terang gw sempet tersenyum melihatnya.
Dalam benak gw, stiker itu menjadi semacam “sindiran” buat kampanye “Bike to Work”. Stiker itu mungkin menjadi gambaran semangat yang berkobar-kobar untuk menyelamatkan lingkungan hidup, tetapi sekaligus menunjukkan “ketidakberdayaan” komunal untuk melepaskan diri dari jerat pengaruh sepeda motor. Siapa sih yang ga pengen udara sejuk pas berangkat ke kantor pagi-pagi, tapi siapa juga yang mo (lebih) tersiksa menghirup udara berpolutan sambil mengayuh pedal sepeda tak bermesin dan ditemani raungan klakson kendaraan bermotor yang berusaha mendahului? Kalo kite mo nyaman, tentunya tidak sedikit biaya yang harus dikeluarkan untuk membeli aksesoris agar tingkat kenyamanan dan kemanan bersepeda tetap tinggi.
Sesuatu yang membuat gw prihatin adalah belum adanya itikad yang komprehensif untuk mendukung kampanye yang luhur itu. Gw salut sama rekan2 yang sudah susah payah mengkampanyekan “Bike to Work”, tetapi sekaligus merasa iba kepada mereka karena pemikiran brilian itu belum benar-benar difasilitasi oleh para pejabat negeri yang sama-sama kita cintai karena Allah ini. Para pejuang lingkungan hidup itu sepertinya masih harus berjuang “sendirian”.
Jika para pejabat negeri memang benar-benar serius dalam mencintai lingkungan hidup negeri ini, maka seharusnya mereka lebih memilih untuk memperbaiki dan memelihara sarana dan prasarana transportasi umum sehingga nyaman dan ga berjubel (kayak Busway sekarang), mendidik para supir angkutan umum, dan meningkatkan anggaran pendidikan hingga 20% (supaya lowongan menjadi pencopet semakin berkurang) sehingga secara alami dan bertahap mengurangi ketergantungan pada kendaraan bermotor pribadi, daripada harus menuai kontroversi dengan membatasi subsidi premium serta memberlakukan aturan 3 in 1 (satu pengemudi, dua orang lain nyomot di jalan). Selanjutnya, boleh deh mereka meningkatkan pajak kendaraan bermotor.
Jadi, selain berusaha, mari kita berdoa agar Allah membukakan pintu hati kita dan para pejabat negeri ini agar mau mendengar dan berempati atas curahan hati ini
. Seharusnya kita malu lho, soalnya Pak SBY udah dapet standing applause dari para peserta UNCCC karena terus mendesak agar konperensi internasional itu jangan sampai gagal. Kita yang menentukan, apakah standing applause itu hanya sekedar menjadi memori seremonial yang tersimpan dalam rekaman video UNCCC, atau benar-benar disambung oleh standing applause semesta alam kepada kita
klo menurut gw global warming ntu efek dari perbuatan manusia sendiri dan fenomeno alam bkn satu2 nya penyebab global warming. karena jelas “telah tampak kerusakan dimuka bumi yang disebabkan oleh tangan2 jahil manusia” (maaf aja klo ada salah dlm kata2nya).
“..menuntut perubahan menciptakan perubahan…”
let’s bike to work