jump to navigation

Spion Masa Depan Maret 3, 2008

Posted by alfikr in Inspirasi.
trackback

Waktu saya belajar nyetir mobil, sang instruktur tak pernah bosan mengingatkan: “Awas, jangan lupa lihat spionnya, kalo mo belok jangan lupa lihat spion dan nyalain lampu sein”. Meskipun kadang-kadang BT diingatkan terus menerus, setidaknya hal itu memicu saya untuk terus melatih refleks “lihat spion” ketika ingin bermanuver. Pada kesempatan yang lain, sang instruktur bilang: “Yang paling penting itu apa yang ada di depan, konsentrasi itu ke depan; melihat spion itu sekali-sekali aja”.

Hingga saat ini, saya sering prihatin kalau ada pengguna jalan yang “malas” menengok spion kendaraannya untuk melihat situasi di belakangnya, sama prihatinnya kepada siapapun (kadang-kadang saya sendiri pun termasuk :-P ) yang enggan belajar dari pengalaman dan tak pernah mau mengambil pelajaran dari apa yang terjadi di “belakang”. Hingga akhirnya saya pun menyimpulkan, spion adalah lambang keseimbangan, kesantunan, dan justru menjadi tanda kepedulian kita dalam perjalanan menggapai visi masa depan :)

Jika Anda perhatikan, spion adalah alat untuk mengetahui apa yang di belakang, untuk keperluan yang di depan. Ketika mobil Anda hendak mendahului kendaraan yang berada di depan Anda, maka Anda pun menengok kaca spion Anda untuk melihat apakah tersedia jarak aman dari arah samping dan belakang untuk segera berbelok sedikit dan kemudian melesat gesit ke depan. Anda melihat ke belakang untuk keperluan ke depan. Dengan memanfaatkan spion, Anda pun tak perlu repot-repot menghentikan kendaraan terlebih dahulu, lalu turun dari kendaraan Anda untuk memberi tahu orang-orang di belakang Anda agar memberikan jarak aman bagi Anda : “Pak/bu, maaf saya ingin mendahului kendaraan di depan saya, tolong bapak/ibu dulu berhenti dulu ya”. Kalau Anda melakukan hal ini, pastilah rentetan bunyi klakson akan menyerang telinga Anda atau bahkan Anda digebukin rame-rame akibat tindakan Anda yang menggelikan itu, hehe.

Fungsi kaca spion yang sederhana itu telah memberikan inspirasi yang berharga bagi kehidupan kita, karena sejatinya kita yang hidup terus berjalan dan melesat untuk mencapai tujuan hidup kita, meraih masa depan yang kita cita-citakan dalam hati. Kehidupan kita adalah masa kini dan masa yang akan datang. Persepsi ini adalah pegangan bagi pribadi-pribadi yang visioner. Mereka menatap ke depan, berjalan ke depan, tidak berjalan ke belakang, tetapi tidak pula melupakan begitu saja pengalaman dan peristiwa yang mereka alami di masa lalu (belakang). Mereka tidak melupakan masa lalu, tetapi tidak terpaku atau pun tenggelam dalam memori kejayaan masa lalu dan tidak pula terbiasa melamunkan keindahan masa lalu. Mereka hanya sekali-sekali saja mereferensi masa lalu agar tak lagi salah dalam melangkah dan jatuh ke lubang yang sama, seperti seorang pengemudi yang hanya sekali-sekali melihat situasi di belakangnya lewat kaca spion. Mereka yang terpaku pada masa lalu, tidak ada bedanya dengan pengemudi yang selalu melihat spion tetapi jarang melihat ke depan sehingga sangat membahayakan keselamatan dirinya sendiri serta setiap objek di depannya, jauh lebih berbahaya daripada sekedar “malas” melihat kaca spion.

Saudaraku…

Sesungguhnya al-Quran telah lama menjadi bukti bahwa Allah swt. menganjurkan kita untuk menjadi pribadi yang visioner tanpa mengabaikan masa lalu; justru masa lalu itu dijadikan sarana untuk belajar dan menggali hikmah di balik pengalaman agar langkah ke depan semakin bernas dan bijaksana. Masa lalu sebagai sarana pembelajaran, inilah yang ditekankan dalam al-Quran, bukan masa lalu yang membuat kita hanya melamunkannya, membuat kita malas bergerak, dan membuat kita takut untuk menatap masa depan. Allah berfirman dalam surat Ali Imran : 137

Sesungguhnya telah berlalu sebelum kamu sunnah-sunnah Allah; karena itu berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul) (Q.S. Ali Imran : 137)

Sunnah-sunnah Allah yang dimaksud di sini adalah hukuman Allah berupa malapetaka dan bencana yang ditimpakan kepada orang-orang yang mendustakan rasul-rasul Allah. Demikianlah maknanya seperti yang diinterpretasikan pada tafsir Jalalain, Ibnu Katsir, dan Al-Qurthubi. Ayat-ayat yang memiliki “nafas” yang sama dengan ayat ini cukup banyak jumlahnya, antara lain surat Al-An’aam : 11, Al-A’raaf : 84, Yunus : 39, Muhammad : 10, dan lain-lain. Sejauh pengamatan saya, Allah mengulang dua puluh satu kali perintah dalam al-Quran untuk memperhatikan sejarah umat yang dihancurkan akibat mendustakan rasul.

Pada ayat di atas, Allah memerintahkan kita untuk terus berjalan, tidak diam, tidak statis, melainkan terus bergerak dan bergerak. Bagaimanakah nature arah dari perilaku “berjalan”? Kita semua sepakat bahwa nature-nya adalah melangkahkah kaki ke arah depan, bukan ke belakang; berjalan itu maju, bukan mundur. Seiring-sejalan dengan perjalanan itu, kita pun diperintahkan untuk memperhatikan, belajar dan mengambil hikmah dari kejadian masa lampau. Secara spesifik, kejadian masa lampau yang dimaksudkan adalah sejarah umat terdahulu yang dihancurkan oleh Allah akibat mengingkari eksistensi para rasul. Harapan dari pembelajaran ini adalah kita tidak mencoba-coba untuk mengikuti jejak umat yang zhalim itu, sebagaimana tersirat dalam firman Allah dalam surat Muhammad : 10 :

Maka apakah mereka tidak pernah mengadakan perjalanan di muka bumi, sehingga dapat memperhatikan bagaimana kesudahan orang-orang yang sebelum mereka. Allah telah membinasakan mereka, dan bagi orang-orang kafir akan menerima (nasib) yang serupa dengan itu. (Q.S. Muhammad : 10)

Keberlakuan pesan-pesan al-Quran tak lekang oleh waktu, maka ayat di atas (dan dua puluh satu ayat lainnya) pun menjadi inspirasi bagi kita untuk terus menatap masa depan, berorientasi pada prestasi saat ini dan di masa yang akan datang, dengan tetap menggunakan “spion” kehidupan untuk memperhatikan dan belajar dari pengalaman kita di masa lampau, agar kita tidak jatuh dalam keangkuhan, tidak merasa benar sendiri, tetap rendah hati, serta semakin bijak dalam mengambil sikap dan keputusan. Inilah sebuah fenomena keseimbangan, kesantunan, dan kepedulian setiap pribadi visioner dalam jejak kehidupannya.

Jadi, tunggu apa lagi? Mari kita mengemudikan kendaraan dengan santun, arahkan visi ke depan, dan jangan lupa sekali-sekali melirik kaca spion yach… :)

Wallahu a’lam

Komentar»

1. bsw - Maret 3, 2008

OOT, kenapa rata-rata sepeda motor di Indonesia dilepas kaca spionnya (minimal satu)? Atau diganti dengan yg lebih kecil?
Adakah itu berkaitan dengan kita yg cenderung :
– malas melihat sejarah dengan benar
– cepat melupakan sejarah?
– marah-marah kalo ada yg mencoba memberikan versi sejarah yg berbeda?
:-)

2. alfikr - Maret 6, 2008

to bsw :

ini bowo IF 01 bukan?
entah ada kaitannya ato gak, tapi menurut gw orang indonesia jarang yang dididik untuk memahami sejarah, tetapi lebih sering disuruh ngapalin sejarah,hehehe. contoh : kalo ujian sejarah waktu SD, maka yang ditanya adalah “kapan Imam Bonjol memimpin perang Padri?”

3. Burunk - Maret 10, 2008

“kenapa rata-rata sepeda motor di Indonesia DILEPAS kaca spionnya (minimal satu)? Atau DIGANTI dengan yg lebih kecil?” di kalimat ntu ada awalan “DI” yg menandakan aktif, mungkin karena mereka malas untuk memakainya sehingga kalaupun memakainya mereka memilih untuk memakai dengan ukuran yg lbh kecil, atau bisa juga karena bikin SIM nya “nembak” dan ga tau ttg “safety riding” oh iya btw kendaraan kalian ada spion nya ga neh? (dalam arti bukan hanya dipakai u/ menghindari tilang polisi).

4. zahrah, inget??? - Maret 10, 2008

assalamualaikum wr wb….
Yap aq setuju,
“sejarahlah yang memberi tahu kita siapa sebenarnya kedua orang kita, sejarah juga yang membeitahu kita tempat dan tanggal lahir kita, sejarah juga yang membritahu kepada generasi mendatang bahwa mereka ada sebab kita lebih dulu ada. Jika mereka maju, maka sejarah yang akan memberi tahu mereka bahwa kemajuan yang mereka capai tidak lepas dari keringat orang-orang yang lebih dulu ada. Orang yang tidak memperhatikan sejarah masa lalu sangat mungkin untuk jatuh ke dalam lubang sama dua kali bahkan mungkin berkali-kali”. Kutipan Ketika Cinta Bertasbih. Walaupun ane suka tertidur kalo baca sejarah XDDDDDDD

5. alfikr - Maret 10, 2008

to burunk:

alhamdulillah, motor gw ada spionnya bro :D . Kalo bwt gw si, spion tuh penting banget,dia ada bukan karena gw takut ditilang polisi :)

to zahrah:

mmm… zahrah yang mana ya??? belum inget. Wah, makasih infonya bwt gw yang ga suka baca novel, hehe

6. irwan - Maret 10, 2009

maksieh…..