Dimulai dari nol Maret 30, 2008
Posted by alfikr in Inspirasi.11 comments
“Dimulai dari angka nol ya pak”, begitulah kira-kira ungkapan dalam iklan salah satu perusahaan minyak di Indonesia yang mulai sering menghiasi layar kaca. Kalau kita perhatikan, isi dari iklan itu merupakan deskripsi itikad dan rencana baik perusahaan pengiklan untuk memberikan layanan yang jujur dan prima kepada masyarakat. Itu semua terwakili dengan pernyataan yang inspiratif: “dimulai dari angka nol”. [Ini bukan promosi lho, cuma sekedar contoh:D]
Secara manusiawi, semua kita pasti—setidaknya—akan mencium aroma kebaikan di balik ungkapan “dimulai dari nol”. Jika kita mengisi bensin dan petugasnya mengucapkan “dimulai dari angka nol”, kita akan termotivasi untuk menyakini kejujuran si petugas dan sistem pengisian bahan bakar yang digunakan. Jika seorang pengusaha sukses mengucapkan “saya memulainya dari nol”, maka akan tergambarkan bagaimana gigihnya ikhtiar sang pengusaha yang tak kenal menyerah dan rela jatuh-bangun sehingga bisa sukses di kemudian hari. Jika kita menimbang sesuatu, maka kita akan percaya dengan hasil timbangan itu jika jarum penunjuknya berawal dari angka nol. (lagi…)
Sekuntum Mawar Untukmu Maret 17, 2008
Posted by alfikr in Tentang Cinta.19 comments
Aduhai indah nian, ya Allah, mawar yang Engkau hadiahkan untukku. Ia lah permata hatiku, yang menebar sejuk dan harum ke segara penjuru hati hamba. Merah mahkotanya adalah cinta kasih-Mu. Hijau segar kelopaknya adalah kekuatan-Mu untuk diri yang lemah ini. Untai tangkai berdurinya adalah ujian keimananku agar tak pernah sedetik pun berpaling, mencari pengganti Diri-Mu. Aromanya adalah terapi jiwaku yang ingin selalu bersandar pada-Mu, bergantung pada kuasa dan kehendak agung-Mu…
Mawar ini adalah bukti betapa sayang-Mu pada hamba; lebih luas dari alam semesta-Mu; lebih dalam dari samudera biru-Mu; lebih lembut dari sutera surga-Mu; lebih kokoh dari langit dan bumi-Mu. Betapa elok rupanya, membuat mata zhahir dan bathin hamba tak kuasa menahan haru. Air mata cinta mengalir, menyejukkan wajah dan hatiku, saat kunikmati keindahannya. Saat sendiri di tengah malam, saat terbina dalam ukhuwah, adalah saat saat terindah…ketika sang mawar mekar bersemi…menebar harum yang terus mewangi…
Engkau telah tetapkan ya Allah. Mawarku juga untuk hamba-Mu, teman hidupku. Saat ini, hanya Engkau yang Maha Tahu rahasia itu. Kepada siapa kurangkaikan mawar terindah ini, agar terjalin dua kuntumnya di dua hati yang bersatu selamanya; agar sempurna jalan yang harus ditempuh dalam kemuliaan agama-Mu; agar tentramnya selalu bercahaya di sepanjang jalan menuju ridha-Mu.
Terkadang hati ini gundah dan tak sabar menunggu. Saat itulah sejatinya, Engkau menguji kesetiaanku pada-Mu. Saat itu pula, musuhku yang paling nyata menertawakan kelemahanku; saat tanpa sadar, kaki ini melangkah menjauh dari-Mu; saat tanpa sadar, hati ini berharap pada makhluk-Mu, bukan pada-Mu. Ampuni hamba, ya Allah. Sungguh, hamba tidak tahu, sedang Engkau Mengetahui segalanya. Engkau mengetahui yang terbaik untuk hamba-Mu.
Aku hanya bisa mengerahkan ikhtiar dan menghulurkan doa. Harap dan cemas berpadu, tunduk di bawah kebesaran-Mu. Rabbii, aku tak berharap kesempurnaan, tetapi hamba merindukan harmoni yang selalu menggubah nada-nada cinta-Mu, di dalam mahligai mawar yang terangkai indah. Rabbii, aku tak mau melayang dalam angan yang panjang. Karenanya, hamba memohon kekuatan dan ketegaran agar terjaga dalam kekhusyukan, membara dalam persiapan jiwa dan raga, menanti hari yang tak pernah dilupakan. Itulah hari, saat hamba mengucapkan dan Engkau pun menyaksikan : “Sekuntum mawar ini kurangkaikan untukmu, teman sejatiku…”
Keaslian Hati 1 Maret 14, 2008
Posted by alfikr in Tentang Cinta.2 comments
Hati adalah lentera atau tabir kelam. Ia adalah lentera ketika putih menebar kesejukan untuk mereka yang tersiram simpul-simpul senyum. Ia bercahaya bagai kunang-kunang di tengah dingin malam. Menghidupkan kedamaian bagi telinga yang lelah oleh kebisingan dunia. Ia sehangat jabat erat dua sahabat. Yang berpelukan dalam keridhaan dan kerinduan para pejuang kebenaran. Ia semanis kata yang meluncur perlahan. Dari lisan-lisan bermakna yang senantiasa mengambil pelajaran. Ia selembut kapas yang melembutkan selimut-selimut perlindungan. Yang mudah basah di jatuhi air mata ratapan. Mengharap perkenan dan rahmat teragung dari Diri-Nya yang Maha Bijaksana. Yang kan mengusap lembut dengan belaian hikmah sejuta rahasia kehidupan.
Lentera itu adalah sinar yang menerangi taman kecenderungan manusia. Tempat manusia bermain dengan sebuah tujuan. Menuju taman yang terindah dari segala taman. Yang memelihara bunga cinta dengan nutrisi keimanan. Yang menghujani mereka dengan pengharapan tiada batas kepada Allah Ash-Shamad. Yang melenakan mereka dalam cinta dan kerinduan kepada-Nya. Yang membuat terjaga dari segala penyimpangan dan kesalahan arah tujuan. Lalu, mengapa keredupan menyelimuti lentera manusia-manusia sepertiku.
Ketika kulihat jalan yang kutapak sekarang. Kusadari hatiku tak asli lagi. Begitu banyak ku jumpa perhiasan yang tak jua memperindah. Perhiasan yang membuatnya hitam dan ternoda. Perhiasan yang menyilaukan mata hatiku, mengalahkan cahaya lentera pemberian Tuhanku. Mengapa semua penjuru hatiku berubah menjadi tabir kelam kelabu. Yang hanya sedikit menyisakan kehangatan sinar-Nya. Yang menghalangi kedamaian rindu sejatiku. Aku telah menjauh dari-Nya. Kini meski berat. Ku coba beranjak dari kelabu yang mengelilingi. Dengan berharta sisa emas cintaku. Ku ‘kan raih semesta Cinta-Nya.
Dunia penuh cinta yang disuguhkan kepadaku. Ku ambil beribu untuk mereka yang kukasihi. Tak ku teliti lagi. Di dalamnya tersimpan titipan nafsu yang mengoyak-ngoyak jiwaku. Yang menggelayut melemahkan di salah satu keping cintaku. Tuhan kini telah menegurku. Jangan sampai kugadaikan terlalu lama. Hatiku. Untuk sesuatu yang kan musnah dan binasa. Biarkan hatiku tenang dengan satu-satunya cinta yang pantas kuberikan. Hanya kepada Dzat yang telah benar-benar memberikan Cinta-Nya kepadaku. Lalu kusebarkan harum aroma Cinta-Nya untuk mereka yang bergantung kepada Tuhanku. Untuk mereka yang menyerahkan jiwa raga atas nama Cinta tersuci sepanjang sejarah ketentuan-Nya. Tuhanku, kepada siapa kau titipkan pandangan hati dan ketenanganku yang indah. Dia lah jua yang kan mendampingiku tuk bersama menuju Diri-Mu. Berkahilah kami Ya Allahu Ya Muqallibal Quluub.
Tulisan ini menjadi kenangan bagiku akan revolusi cinta yang kualami, hampir sewindu tahun yang lalu
Bike to Work Maret 6, 2008
Posted by alfikr in Numpang Lewat.2 comments
Isu Global Warming mulai marak belakangan ini. Meskipun Al Gore udah koar-koar sejak lama (gw nonton DVDnya
), tapi kaya’nya isu ini semakin hangat dan sering dibicarakan sejak dihelatnya konperensi perubahan iklim (UNCCC) di Bali. Salah satu efek dari euphoria itu adalah semangat untuk mengurangi penggunaan bahan bakar fosil, yang sebagiannya diterjemahkan dalam bentuk kampanye “Bike to Work”.
Ngomong-ngomong tentang “Bike to Work”, mungkin pembaca juga udah sering ngelihat semacam “ironi” (lebih tepatnya sih anekdot-ironi) di keseharian. Sebagai contohnya adalah seperti yg gw alamin kemarin banget pas pulang dari kantor. Tanpa sengaja, gw liat ada stiker “Bike to Work” nempel di dashboard motor Yamaha. Mungkin pengalaman ini menurut Anda biasa-biasa aja, tapi terus terang gw sempet tersenyum melihatnya.
Dalam benak gw, stiker itu menjadi semacam “sindiran” buat kampanye “Bike to Work”. Stiker itu mungkin menjadi gambaran semangat yang berkobar-kobar untuk menyelamatkan lingkungan hidup, tetapi sekaligus menunjukkan “ketidakberdayaan” komunal untuk melepaskan diri dari jerat pengaruh sepeda motor. Siapa sih yang ga pengen udara sejuk pas berangkat ke kantor pagi-pagi, tapi siapa juga yang mo (lebih) tersiksa menghirup udara berpolutan sambil mengayuh pedal sepeda tak bermesin dan ditemani raungan klakson kendaraan bermotor yang berusaha mendahului? Kalo kite mo nyaman, tentunya tidak sedikit biaya yang harus dikeluarkan untuk membeli aksesoris agar tingkat kenyamanan dan kemanan bersepeda tetap tinggi. (lagi…)
Spion Masa Depan Maret 3, 2008
Posted by alfikr in Inspirasi.6 comments
Waktu saya belajar nyetir mobil, sang instruktur tak pernah bosan mengingatkan: “Awas, jangan lupa lihat spionnya, kalo mo belok jangan lupa lihat spion dan nyalain lampu sein”. Meskipun kadang-kadang BT diingatkan terus menerus, setidaknya hal itu memicu saya untuk terus melatih refleks “lihat spion” ketika ingin bermanuver. Pada kesempatan yang lain, sang instruktur bilang: “Yang paling penting itu apa yang ada di depan, konsentrasi itu ke depan; melihat spion itu sekali-sekali aja”.
Hingga saat ini, saya sering prihatin kalau ada pengguna jalan yang “malas” menengok spion kendaraannya untuk melihat situasi di belakangnya, sama prihatinnya kepada siapapun (kadang-kadang saya sendiri pun termasuk
) yang enggan belajar dari pengalaman dan tak pernah mau mengambil pelajaran dari apa yang terjadi di “belakang”. Hingga akhirnya saya pun menyimpulkan, spion adalah lambang keseimbangan, kesantunan, dan justru menjadi tanda kepedulian kita dalam perjalanan menggapai visi masa depan
(lagi…)