jump to navigation

Pesan dari Dreamonesia Februari 12, 2008

Posted by alfikr in Inspirasi, Nasional.
trackback

Matahari sudah naik sepenggalah, tetapi suasana hari itu begitu lain dari biasanya. Jalan-jalan kota dan desa mendadak sepi dan lengang. Udara lebih segar dari hari-hari sebelumnya. Jumlah mobil, bus, dan sepeda motor yang melintasi jalan-jalan protokol bisa dihitung dengan jari. Hanya sedikit toko, warung, dan pusat perbelanjaan yang terlihat tetap beraktivitas meski tak ramai seperti biasanya. Pedagang kaki lima pun jarang yang terlihat mangkal di tepi jalan. Pedagang bubur ayam, bubur kacang ijo, ketupat sayur, dan ketoprak seperti lenyap ditelan bumi, membuat para calon pembeli makanan khas buat sarapan itu gigit jari dan sedikit ngedumel dalam hati, sembari memegangi perut mereka yang lapar sejak semalam tadi.

Orang-orang di pusat kota memilih berkumpul di rumah. Orang-orang miskin di desa memilih duduk bersama di sekretariat desa atau di rumah tetangga mereka yang punya parabola. Mereka semua duduk dengan hikmat. Mata mereka tertuju penuh ke layar televisi. Tidak di kota dan tidak pula di desa, tayangan yang mereka tonton sama-sama menggambarkan ratusan sosok necis yang memakai jas plus dasi lengkap dengan kopiah hitam dan sosok-sosok anggun berkebaya yang berhiaskan selendang sutra. Ada apakah gerangan?

Ternyata hari itu adalah hari spesial buat rakyat Dreamonesia (baca: drimonesia). Negara ini akan segera memiliki pemimpin baru; pemimpin yang tampaknya membawa semangat perubahan, pemimpin yang malas berkampanye di atas panggung, tetapi lebih memilih ‘bersembunyi’ dalam perjuangannya yang nyata (setidaknya inilah yang diamati rakyat sewaktu sang presiden anyar ini masih menjadi menteri).

Hmmm… orang-orang kota harap-harap cemas dengan presiden baru mereka. Mereka tak mau lagi termakan bujuk rayu para pemimpin seperti yang terjadi sebelumnya. Mereka sudah banyak berinvestasi dan mendukung pemimpin-pemimpin masa lalu secara moril dan material, tapi ternyata performa mereka masih sebatas aksi panggung yang kemudian melemah setelah mereka turun dari panggung itu; panggung tempat para selebriti politik itu mengobral idealisme. Mereka melihat pemimpin Iran, Mahmoud Ahmadinejad, dan mencoba bermimpi bahwa sang presiden Dreamonesia memiliki kekuatan dan keteguhan prinsip sepertinya.

Orang-orang desa pun berharap-harap cemas. Mereka bertanya dalam hati bagaimana nasib keluarga mereka di bawah kepemimpinan presiden baru. Mereka khawatir harga-harga sembako kembali memuncak. Mereka pun masih bermimpi bahwa suatu saat anak-anak mereka tidak kecele dengan slogan sekolah gratis. Mereka juga tak habis pikir, mengapa mereka harus mengantri sepanjang lima kilometer hanya untuk mendapatkan lima liter minyak tanah dan mengapa para spekulan minyak tanah itu susah sekali dilacak. Tetapi mereka hanya orang kecil. Keluhan-keluhan mereka seperti angin yang berhembus, terasa tetapi tidak terlihat. Jadi, mereka hanya bisa pasrah (mungkin lebih tepatnya ‘menyerah’) dalam ketidakberdayaan. Meskipun demikian, mereka masih sanggup membayangkan pemimpin Dreamonesia ini adalah sosok sederhana yang kharismatis, layaknya Mbah Marijan dari Indonesia.

Tiba-tiba rakyat Dreamonesia melupakan harap-cemas dan angan-angan mereka sejenak. Perhatian mereka tertuju kepada pidato Presiden Dreamonesia tepat setelah ia selesai dilantik dan mengucapkan sumpah jabatan di hadapan ratusan wakil rakyat.

Azzad Aulia Shiddiq Biladli berdiri di atas podium. Dia menatap seluruh yang hadir saat itu dan memulai pidato pertamanya sebagai presiden.

Saya, Azzad Aulia Shiddiq Biladli, saat ini telah dilantik sebagai Presiden Dreamonesia. Kini saya telah resmi memegang amanah yang diletakkan oleh saudara-saudara dan rakyat Dreamonesia seluruhnya di pundak saya.

Saya tidak bisa memungkiri bahwa kegembiraan meliputi jiwa raga saya atas anugerah kepemimpinan yang Allah berikan ini. Namun, kegembiraan itu tetap jua tak sanggup mengalahkan bayang-bayang ketakutan atas hukuman Allah yang mencengkram bila saya tak mampu menjalankan roda pemerintahan dengan jujur dan adil. Saya benar-benar malu dengan makna nama saya sendiri yang seolah-olah merefleksikan perintah Allah agar saya bisa membuktikan kepantasan saya dalam menyandang nama itu. Anda bisa perhatikan kata-kata dalam nama saya: Aulia Shiddiq Biladli. Dalam konteks pelantikan saya sebagai presiden, secara bebas saya bisa mengartikan tiga frase ini sebagai pemimpin jujur yang memerintah dengan adil.
Allah sedang menagih saya untuk membuktikan kebenaran nama saya. Seolah-olah Tuhan berkata kepada saya: “Hai Azzad, buktikan bahwa engkau pantas menyandang nama itu!”

Semoga Anda bisa membayangkan betapa beratnya posisi saya saat ini, karena bukan lagi seorang kreditor kelas teri yang menagih, tetapi yang sedang menagih adalah Tuhan, Dzat yang menciptakan saya dan Anda semua. Tanpa dukungan dari Anda yang selalu mengingatkan saya, boleh jadi saya hanya menunggu waktu sebelum Allah menghukum saya atas ketidakadilan dan kezhaliman saya dalam memimpin bangsa ini.

Saudara-saudaraku, sebangsa dan setanah air.

Saya ingin sedikit mengilas balik perjalanan saya hingga saya sampai dan berdiri di atas podium ini.

Saya sangat berharap tidak ada seorangpun dari Anda di seluruh Dreamonesia yang memilih saya karena paksaan, bukan dari hati nurani Anda. Saya memohon maaf yang seluas-luasnya, karena saya tidak bisa selalu memantau gerak-gerik seluruh kru dalam tim kampanye saya. Jika ada di antara mereka yang mengiming-imingi uang atau bentuk materi lainnya agar Anda memilih saya atau bahkan mereka mengancam dan memaksa Anda untuk memilih saya, maka laporkanlah kepada pihak yang berwajib dan jangan lupa untuk beritahukan saya secara pribadi. Jika saya terbukti bersalah secara sah dan meyakinkan terkait dengan laporan Anda, maka rekamlah kata-kata saya ini agar Anda bisa menagihnya kelak: Saya akan mundur dari jabatan kepresidenan ini!

Saya juga berharap Anda tidak memilih saya karena apa yang saya ucapkan ketika berkampanye. Bagaimanapun juga, kata-kata itu, saat ini, masih sebatas janji yang belum terpenuhi. Hal ini sudah saya sampaikan kepada Anda semua sejak hari pertama kampanye. Perjalanan saya sebagai menteri, semua hal positif dan negatif yang Anda temukan di dalamnya, adalah pedoman yang lebih baik bagi nurani Anda untuk memilih atau tidak memilih saya.

Saudara-saudaraku, sebangsa dan setanah air.

Setiap kepala negara tentunya memiliki cita-cita yang selalu diusahakan selaras dengan suara rakyat. Begitu pun saya. Semua kita pasti memiliki cita-cita yang sangat idealis. Kita ingin rakyat sejahtera, tercukupi kebutuhan pokok mereka, dapat bersekolah hingga mengenyam pendidikan tinggi, mendapatkan pekerjaan dan penghidupan yang layak, terjamin rasa aman mereka dan selalu mendapatkan layanan yang terbaik dari kita semua, para abdi negara.

Pada skala makro, kita pun menginginkan stabilitas ekonomi nasional yang terus membaik, iklim investasi yang menjanjikan, supremasi hukum yang selalu dijunjung tinggi, pembangunan fisik dan mental yang seiring-sejalan secara proporsional, kehidupan politik yang bersih dan sehat, dan terciptanya kedaulatan negara pada setiap aspeknya.

Entah sudah berapa banyak dokumen hukum positif di negeri yang inti isinya adalah idealisme yang saya sebutkan tadi, dan entah sudah berapa rumusan strategi yang telah dibangun dan diimplementasikan untuk meraih semua itu. Demikian itu disebabkan betapa kompleksnya problematika dan tantangan yang dihadapi bangsa Dreamonesia. Kita sama-sama tahu bahwa semua itu tidak akan selesai sekejap mata atau sekedar membalikkan telapak tangan. Semua itu adalah rangkaian proses yang memerlukan kesabaran, kedisiplinan, dan keteguhan.

Di tengah kompleksitas tersebut, pasti badai godaan akan datang menyerbu. Semuanya tergantung kita, apakah kita akan terhanyut derasnya arus godaan itu atau kita memilih bertahan di tempat kita berpijak. Dimanakah kita berpijak? Saya optimis, kita semua mau bertahan untuk berpijak di atas tanah kejujuran. Kepada siapakah kita bersandar agar kaki-kaki kita tetap berada di pijakan itu? Saya yakin, kita semua bersandar pada sandaran terkuat di seluruh alam semesta, dia lah Allah, Tuhan Yang Maha Esa

Saudara-saudaraku, sebangsa dan setanah air.

Kejujuran yang hakiki bukanlah sekedar perkara lisan yang tak mau berdusta, melainkan tercermin pada sikap mental dan perbuatan kita.

Marilah kita jujur melihat betapa besarnya gaji yang kita dapatkan setiap bulannya atau bahkan setiap tahunnya. Marilah kita jujur, apakah kita sampai hati untuk bermewah-mewah, sementara tukang sapu jalanan di depan rumah kita menatap kita dengan mata nanar penuh harapan yang bercampur kesedihan dan keputusasaan? Mari kita bertanya dalam hati, darimana uang jutaan rupiah yang kita dapatkan setiap bulannya. Itulah rizki yang Tuhan berikan kepada kita lewat tangan rakyat kita, lewat pajak yang mereka bayarkan. Mereka adalah sejatinya orang-orang yang menggaji kita, mereka adalah bos kita, jadi kita tak punya alasan untuk menyakiti mereka.

Marilah kita jujur melihat betapa pentingnya kebijakan yang kita putuskan pada ranah hajat hidup orang banyak. Marilah kita jujur, apakah kita tega melihat rakyat negeri ini yang sarapan paginya adalah kemacetan, sementara kita duduk manis sambil menyantap setumpuk sandwich di dalam mobil dinas yang dikawal Polisi Militer, yang terus menerobos jalan di depan kita, seolah-olah kita kembali ke zaman batu yang tidak mengenal lampu lalu lintas? Apakah kita tega bersenang-bersenang dan memaksa rakyat untuk bersekolah, padahal gedung sekolah mereka di pelosok desa hanya cukup menunggu satu kali hujan deras dan angin kencang agar roboh, sementara kita begitu bangga melihat gedung-gedung pencakar langit berdiri kokoh yang terus bertambah dan terus bertambah. Belum lagi kebingungan mereka yang terus berseliweran dalam benak: darimana kami dapatkan uang untuk menyekolahkan anak kami?

Marilah kita jujur, sudah berapa banyak air mata yang menetes karena takut atas siksa Tuhan seandainya kita berbuat zhalim, dan apakah air mata itu jauh lebih banyak daripada air mata yang terurai karena takut kehilangan jabatan?

Saudara-saudaraku, sebangsa dan setanah air.

Ternyata sungguh berat menjadi pribadi yang jujur, tetapi justru itulah langkah ke seratus dari seratus langkah strategis agar sampai ke semua tujuan kita. Kejujuran tidak mudah, tetapi tidak pula mustahil. Kita hadir di sini sebagai pemimpin, adalah orang-orang yang mempertaruhkan harga diri untuk meraih kejujuran itu, menerobos semua kesulitan yang akan menghadang kita untuk sampai di pulau kejujuran impian kita bersama.

Saudara-saudaraku, sebangsa dan setanah air.

Menjadi pemimpin negara seringkali identik dengan hidup yang berkecukupan, sarat dengan beragam fasilitas dan kemudahan. Marilah kita anggap itu tak lebih dari sekedar sarana untuk menunjang kita dalam menjalankan tugas berat ini. Tidaklah salah hidup berkecukupan dan tidak salah pula menikmati beragam fasilitas yang sudah menjadi hak kita, tetapi semoga itu semua bukan tujuan kita, agar kita tidak terlena dan lupa pada rakyat yang telah menggaji kita. Pada hakikatnya, kepemimpinan bukanlah profesi, bukan pula pekerjaan yang rutin, tetapi ia adalah amanah yang harus dipegang teguh, janji yang harus ditunaikan, dan tanggung jawab yang akan dimintai laporannya oleh Tuhan kita.

Adakah orang yang berhutang benar-benar tenang sebelum hutangnya lunas? Adakah orang yang berjanji benar-benar bebas dari bayang-bayang janji itu di kepalanya? Adakah orang yang bisa bersantai-santai di ruang kerja, padahal di depannya menumpuk ratusan dokumen pekerjaan yang harus diselesaikan? Dan layakkah kita beristirahat sebelum jam istirahat tiba?

Saudara-saudaraku, sebangsa dan setanah air

Akhirnya saya mengucapkan terimakasih atas kepercayaan yang berat ini. Semoga kita tidak menjadikan amanah ini sebagai taman bermain tempat kita bersenang-senang. Semoga kita tidak menjadikannya pundi-pundi untuk mengumpulkan sebanyak mungkin harta kekayaan. Semoga kita semua dapat menjalankan amanah dengan sebaik-baiknya. Semoga Allah, Tuhan yang Maha Esa senantiasa memberikan petunjuk-Nya, menyertai langkah kita, dan meridhai setiap langkah dan keputusan yang kita tetapkan.

Jutaan pasang mata menatap layar kaca tanpa sepatah kata pun. Hening. Semua tertegun. Semua berdoa. Semua berharap. Dan semua merindukan angin segar yang berhembus dari setiap penjuru Dreamonesia…

Komentar»

1. ikhfa - Februari 14, 2008

haha, bener2 Dream-onesia.. pemimpin bangsa yang begitu memang baru ada dalam mimpi..

2. ilham - Februari 23, 2008

salamu’alaikum

fik, ini ilham ic dulu kelas 1 sebangku ama lo…

lo mabok ya???

Mbah Marijan yang MUSYRIK lo bilang karismatik???
Kata mbah, “gunung merapi meletus gara2 kurang sajen”

Tolong perbaiki dulu wawasan lo, semoga bermanfaat
salam, trims

3. alfikr - Februari 25, 2008

to Ilham :

Waalaikum salam wr wb :)

Ham, coba dibaca ceritanya yang lengkap ya, ini adalah cerita fiksi… penggunaan cerita mbah marijan di sini bukanlah justifikasi saya atas kelakuan si mbah, tetapi sebagai perlambang harapan masyarakat grass root yang -mohon maaf- sebagian masih awam (termasuk dalam hal aqidah) dan lebih melihat sosok dan bukti nyata yang dekat dengan keseharian mereka dibandingkan retorika2 politik para pembesar negara

4. Burunk - Maret 11, 2008

to Ilham :

judulnya Dreamonesia, jd bebas donk mo mimpiin Mbah Marijan mjd tokoh yg karismatik, toh dlm mimpi ini