jump to navigation

Pesan dari Dreamonesia Februari 12, 2008

Posted by alfikr in Inspirasi, Nasional.
4 comments

Matahari sudah naik sepenggalah, tetapi suasana hari itu begitu lain dari biasanya. Jalan-jalan kota dan desa mendadak sepi dan lengang. Udara lebih segar dari hari-hari sebelumnya. Jumlah mobil, bus, dan sepeda motor yang melintasi jalan-jalan protokol bisa dihitung dengan jari. Hanya sedikit toko, warung, dan pusat perbelanjaan yang terlihat tetap beraktivitas meski tak ramai seperti biasanya. Pedagang kaki lima pun jarang yang terlihat mangkal di tepi jalan. Pedagang bubur ayam, bubur kacang ijo, ketupat sayur, dan ketoprak seperti lenyap ditelan bumi, membuat para calon pembeli makanan khas buat sarapan itu gigit jari dan sedikit ngedumel dalam hati, sembari memegangi perut mereka yang lapar sejak semalam tadi.

Orang-orang di pusat kota memilih berkumpul di rumah. Orang-orang miskin di desa memilih duduk bersama di sekretariat desa atau di rumah tetangga mereka yang punya parabola. Mereka semua duduk dengan hikmat. Mata mereka tertuju penuh ke layar televisi. Tidak di kota dan tidak pula di desa, tayangan yang mereka tonton sama-sama menggambarkan ratusan sosok necis yang memakai jas plus dasi lengkap dengan kopiah hitam dan sosok-sosok anggun berkebaya yang berhiaskan selendang sutra. Ada apakah gerangan?

(lagi…)