Pesan dari Dreamonesia Februari 12, 2008
Posted by alfikr in Inspirasi, Nasional.4 comments
Matahari sudah naik sepenggalah, tetapi suasana hari itu begitu lain dari biasanya. Jalan-jalan kota dan desa mendadak sepi dan lengang. Udara lebih segar dari hari-hari sebelumnya. Jumlah mobil, bus, dan sepeda motor yang melintasi jalan-jalan protokol bisa dihitung dengan jari. Hanya sedikit toko, warung, dan pusat perbelanjaan yang terlihat tetap beraktivitas meski tak ramai seperti biasanya. Pedagang kaki lima pun jarang yang terlihat mangkal di tepi jalan. Pedagang bubur ayam, bubur kacang ijo, ketupat sayur, dan ketoprak seperti lenyap ditelan bumi, membuat para calon pembeli makanan khas buat sarapan itu gigit jari dan sedikit ngedumel dalam hati, sembari memegangi perut mereka yang lapar sejak semalam tadi.
Orang-orang di pusat kota memilih berkumpul di rumah. Orang-orang miskin di desa memilih duduk bersama di sekretariat desa atau di rumah tetangga mereka yang punya parabola. Mereka semua duduk dengan hikmat. Mata mereka tertuju penuh ke layar televisi. Tidak di kota dan tidak pula di desa, tayangan yang mereka tonton sama-sama menggambarkan ratusan sosok necis yang memakai jas plus dasi lengkap dengan kopiah hitam dan sosok-sosok anggun berkebaya yang berhiaskan selendang sutra. Ada apakah gerangan?
Carpe Diem! Februari 5, 2008
Posted by alfikr in Puisi.add a comment
Aku terjebak dalam kebekuan ruang kelas yang dingin
Sekelompok teman mengumbar senyum dan dengan kemesraan meraih tanganku
Mengajakku mendengarkan keriuhan suasana tanpa telinga, memandangi keindahan alam tanpa mata, dan mencoba terharu atas lintasan-lintasan sejarah yang begitu dinamis hanya dalam cerita.
Aku dipaksa menelan bulat-bulat realitas yang dibungkus dalam ribuan formula
Tiada kesempatanku untuk sekedar mengambil nafas, membasahi pembuluh pikiranku dengan secangkir kopi rehat, ataupun berbaring dalam kesegaran canda tawa
Aku mau muntah tapi tiada satupun yang membiarkanku menumpahkannya.
Aku pusing dalam keharusanku, tuk menajamkan mata ke arah wacana
yang membisu di atas papan kayu itu…
Aku terjaga dari kesadaran saat ini
Aku beranjak dari kursi kayu dan segera berteriak: rebutlah hari ini, teman-teman!
mengapa kita masih duduk diam di sini?
Apakah kita cukup puas dengan diri kita yang seperti patung?
Diam membeku, mendengar tanpa memahami yang didengar, memandang tanpa tahu apa yang dilihat, merasakan apa yang tidak pernah kita alami
Seperti itukah harapan kita, kita yang segera diselendangkan sutra bertuliskan pemimpin masa depan, yang akan dijuluki sultan mesin futuristik dan dianugerahi mahkota raja-raja dunia?
Kemalasan, ketakutan, kemunduran, dan keraiban kekuatan adalah pakaian lusuh kita. Pemberontakan jiwa yang menjerumuskan, perengkuhan jati diri yang melenakan, dan visi yang mengaburkan cita-cita adalah panorama dunia kita.
Hai teman semasa, tiada usaha yang pantas kita lakukan, tiada keinginan yang layak diperjuangkan selain mengganti pakaian lusuh dan panorama itu.
Lepaskan, lenyapkan, dan ganti sekarang juga atau kita jadi budak selamanya!
Aku sekali lagi berteriak dengan nada yang paling tinggi
Tidakkah kalian mendengar cita-citaku, wahai teman?
Seorang teman beranjak dan menjawab: Ya!
Semua hal di seluruh dunia ada pasangannya dan isi hatimu pun ada kecualinya.
Kecuali kita telah mampu menggenggam kemegahan dan kesenangan dunia dengan tangan kita, bukan melesapkannya dalam hati
Kecuali mahaguru telah sadar dari kemalasan dan kekeliruan jalan pikirnya
Kecuali mahapatih telah mampu memandang masa depan dan tidak lagi bergembira dengan kesedihan dirimu
Kecuali mahapatih adalah mereka yang hancur hatinya seperti hatimu
Kecuali sang raja telah turun ke relung hatimu yang terluka, menuju lorong jiwamu yang dsesaki kekecewaan
Kecuali sang raja telah pandai untuk menjadi dirimu, dirimu yang menyesali kelusuhan dan begitu mengibakan
Kecuali semua telah terbangun di malam yang gelap dan kembali berjalan mencari Cahya-Nya
Aku tidak mau mengalirkan air mataku hanya karena terharu atas kata-kata teman semasa itu
Aku tidak mau tertegun karena kagum akan kebijaksanaan kata-kata itu
Aku hanya ingin semua sedih seperti diriku, hingga akhirnya tersadar akan ketidaksadaran selama ini
Aku tidak ingin hanya bicara, tetapi ku mau mengerahkan kekuatan hati, pikiran, dan ragaku untuk berjuang melawan sakitnya kesedihan ini.
Adakah dari kalian yang setuju dengan deburan tekad ini?
Semua hanya diam dan malah menggetarkan tubuhku yang merasa lelah sejak tadi.
Aku benar-benar terjaga saat ini dan sayup-sayup kudengar pertanyaan yang memaksa sebuah jawaban
Carpe Diem, begitu merdunya kah suara Ibu, hingga pertanyaan Ibu tadi bagai angin yang meredupkan matamu?!
Aku tersenyum sembari menyampaikan salam:
Terima kasih kuucapkan untuk Ibu dan untuk angin yang begitu menyejukkan.