jump to navigation

Pandangan Penuh Cinta Januari 16, 2008

Posted by alfikr in Inspirasi, Tentang Cinta.
trackback

Saudaraku…

Saya ingin mengajak Anda sedikit berimajinasi. Bayangkan suatu hari Anda tengah berjalan-jalan di taman kota, hari minggu pagi. Saat itu Anda tidak sendiri. Ada adik dan orang tua yang menemani Anda menikmati keindahan dan kesejukan suasana taman. Apa yang Anda rasakan? Tentu saja senang bin bahagia. Namun, ternyata ada kejadian “lucu” saat Anda sekeluarga berjalan di bawah sebuah pohon yang tinggi dan rindang. Tepat dari atas kepala Anda, tiba-tiba meluncur cairan putih dengan begitu cepatnya dan mengenai kepala Anda yang baru saja dikeramas. Wah, kira-kira gimana perasaan Anda? Kurang lebih kalau saya boleh prediksi, Anda pasti kaget dan menggumam : “Waduhh” atau yang sejenisnya. Adik dan orang tua Anda pun akan kaget melihat reaksi Anda. Tak lama kemudian, mereka boleh jadi malah tertawa (dengan maksud bercanda) melihat kejadian yang baru saja menimpa Anda. Anda yang merengut pun akhirnya tak bisa menahan senyum. Meskipun kepala tidak lagi bau shampoo, Anda pun akhirnya ikut tertawa seolah-olah menertawakan diri Anda sendiri :) . Luar biasa ya, kejadian yang tidak mengenakkan malah berbuah suasana yang begitu hangat di keluarga Anda. Itulah saat-saat Anda diliputi kenyamanan dan kebahagiaan yang seakan tak memberi kesempatan bagi Anda untuk bersedih sewaktu masalah menerpa.

Namun, apa jadinya kalau Anda terkena kotoran burung itu saat Anda tengah sedih karena nilai UTS Anda kurang memuaskan, atau ada masalah pekerjaan di kantor, atau Anda baru saja bersitegang dengan teman Anda. Boleh jadi, kotoran yang cuma beberapa mililiter itu seperti batu besar yang menimpa kepala Anda. Masalah kecil terlihat seperti raksasa di pelupuk mata Anda. Anda yang sedang tidak enak hati boleh jadi malah semakin kesal dan melakukan sesuatu yang destruktif. Na’udzubillah min dzaalik.

Saudaraku, tidak selamanya hidup kita sesuai dengan apa yang kita harapkan atau yang kita rencanakan. Beragam masalah datang silih berganti sebagai sebuah keniscayaan dan bukti bahwa kita masih hidup. Ada masalah yang bisa kita atasi dengan cepat dan tuntas dengan hasil akhir yang begitu memuaskan. Namun, ada pula masalah yang tak kunjung selesai, membuat semangat kita mengendur, dan bahkan mengalihkan hampir seluruh konsentrasi kita kepada masalah itu. Akibatnya, banyak hal lain yang akhirnya luput dari perhatian kita gara-gara kita terlalu memusingkan diri dengan satu masalah pelik itu. Berhati-hatilah saudaraku, karena yang bisa terjadi berikutnya adalah efek domino, yakni ketika satu masalah pelik “menyebabkan” hal-hal lain dalam kehidupan kita menjadi bermasalah pula. Sebagai contoh, misalnya kita begitu gusar setelah disakiti oleh salah seorang teman kita. Kemudian, kita menjadi tak bergairah untuk makan dan belajar. Akhirnya muncul masalah berikutnya, yakni kita menjadi sakit dan gagal dalam UTS. Sangat disayangkan, ketika satu masalah harus dibayar mahal dengan kehadiran masalah lain yang semestinya bisa kita cegah. Ketika efek domino telah terjadi, maka ada dua kemungkinan yang bisa terjadi berikutnya. Kemungkinan pertama adalah kita justru terpacu dengan semangat yang dahsyat untuk segera menghentikan efek domino tersebut. Kemungkinan kedua, kita malah semakin terpuruk ke dalam timbunan masalah yang terus menggunung.

Saudaraku, pangkal dari semua ikhtiar dalam menghadapi masalah adalah cara pandang kita terhadap masalah tersebut. Ada cara pandang yang positif (konstruktif), ada pula cara pandang yang negatif (destruktif). Kita diberikan kebebasan untuk memilih cara pandang yang mana pun, seperti halnya Anda yang “memilih” untuk tersenyum dan tertawa daripada menumpuk kekesalan saat terkena kotoran. Namun, tidak mustahil Anda justru merasa begitu marah ketika kotoran itu itu jatuh pada “saat yang tidak tepat”, yakni ketika Anda sedang BT-BT-nya. Apapun pilihan Anda, itulah hak Anda sepenuhnya. Kalaupun Anda memilih marah-marah, boleh jadi Anda tidak sepenuhnya salah dengan pilihan itu, karena toh tetap sebagai suatu hal yang manusiawi. Meskipun demikian, kualitas hidup yang baik tentu tidak akan tercapai jika selalu menuruti kecenderungan alami hawa nafsu kita, tetapi justru lebih ditentukan oleh sejauh mana kita mampu mengambil kecenderungan yang lebih positif dari sisi-sisi kemanusiaan kita.

Ketahanan diri untuk selalu bersikap dengan didasarkan cara pandang positif biasanya tergoyahkan saat kita berada dalam kondisi yang tidak nyaman atau tidak menyenangkan. Saat suasana hati sukacita, masalah berat bisa jadi terasa enteng. Namun, ketika hati ini berduka, masalah sebesar semut terkadang menjadi sekecil gajah dan pada gilrannya membuat kita berprilaku negatif. Kita seringkali tidak bisa mengendalikan hal-hal yang akan terjadi atau kondisi yang akan kita alami (apakah menyenangkan atau tidak), tetapi kita selalu bisa memilih cara pandang yang positif dalam menyikapi setiap kondisi yang kita alami, betapapun buruknya kondisi itu. Dan semuanya akan mengalir dalam koridor sunnatullah. Ketika cara pandang positif yang dipilih, maka sikap positif akan tercipta dan membuahkan perilaku positif serta efek yang sangat positif. Hal sebaliknya terjadi ketika kita memilih cara pandang negatif. Masih ingat perilaku Rasululullah SAW yang begitu mulia dalam menyikapi seseorang yang selalu melempari beliau dengan kotoran? Cara dan sikap positif Rasulullah itu kemudian membuahkan pengalaman yang tak tergantikan, yakni ketika orang tersebut melantunkan dua kalimat syahadat dengan penuh ketulusan. Semua itu berawal dari cara pandang positif.

Mengetahui cara pandang yang positif dari yang negatif adalah sesuatu yang terbilang mudah, tetapi memilih serta bertahan pada cara pandang yang positif dan meninggalkan yang negatif terkadang sangat berat bagi kita. Insya Allah ada beberapa hal yang mudah-mudahan dapat kita renungkan dan amalkan untuk senantiasa memilih dan bertahan pada cara pandang yang positif

Pertama, mari kita perkuat keimanan kita kepada Allah Yang Maha Hidup, Yang Senantiasa Mengurus makhluk2-Nya. Mari kita renungi kembali apa yang menjadi aktivitas esensial dan terminal akhir dari hidup ini melalui surat Ali Imran 142 : Apakah kamu mengira kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad di antara kamu, dan belum nyata orang-orang yang sabar; dan juga pada surat Al-Ankabut 1 : Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, “Kami telah beriman”, dan mereka tidak diuji?.

Itulah dua ayat dari sekian banyak ayat lain yang mengisyaratkan bahwa masalah adalah suatu keniscayaan dalam hidup. Sikap dan tingkah laku kita dalam menghadapi masalah pada gilirannya akan menjadi parameter kualitas keimanan kita dan menjadi “ukuran” pula bagi Allah untuk menentukan dengan kehendak-Nya, apakah kita layak berteduh di taman surga ataukah tidak. Seseorang akan sulit mempertahankan dan meningkatkan kualitas keimanannya ketika sedang berikhtiar menyelesaikan masalah, kecuali ia senantiasa mendekatkan diri kepada-Nya dan selalu berikhtiar untuk meraih hikmah dari setiap peristiwa. Hikmah itulah yang akan menghadirkan ketakjuban diri akan kemahasempurnaan skenario Allah di balik setiap masalah kehidupan.

Keyakinan yang kuat bahwa masalah yang berada di sekeliling kita adalah cara Allah dalam menguji hamba-Nya akan menumbuhkan keikhlasan. Dengan berbekal sikap ikhlas, seseorang akan melakukan yang terbaik dan merasa nothing to lose. Seorang dermawan yang memberi hartanya kepada fakir miskin dengan ikhlas, maka ia tidak merasa kehilangan apapun meskipun secara nominal jumlah hartanya berkurang. Seorang mahasiswa yang belajar siang malam dalam kerangka ikhlas, maka ia tidak akan merasa telah “menyia-nyiakan” waktunya ketika ternyata nilai ujiannya kurang memuaskan. Pernyataan nothing to lose ini hadir dari hati orang-orang yang ikhlas, karena yang diharapkannya bukan semata-mata hasil akhir dari perbuatan itu di dunia, tetapi pada hakikatnya hanya mengharapkan hasil akhir yang bebas kerugian di akhirat kelak

Ketika kita selalu berikhtiar untuk ikhlas dalam menghadapi setiap masalah, maka kita pun akan merasa nothing to lose. Artinya, kalaupun masalah itu sulit dipecahkan dan begitu memberati pundak kita secara berkepanjangan, kita tidak lantas dikalahkan olehnya. Orang yang dikalahkan oleh masalah adalah orang yang berhasil didominasi oleh masalahnya sendiri dan tenggelam di dalam keruwetannya sehingga tidak mampu melaksanakan amanah-amanah kehidupan lainnya secara optimal. Pikirannya dikuasai oleh masalah itu sehingga konsentrasinya pun melemah. Akibatnya, efek domino pun terjadi. Nah, kondisi ini cukup rentan terjadi pada mahasiswa atau pelajar. Apabila ia begitu pusing memikirkan masalah organisasinya, masalah keluarganya, atau masalah hubungan dengan rekan-rekannya, seringkali semua itu menyebabkan semangat belajarnya di perkuliahan/sekolah menurun. Jika demikian, boleh jadi ia telah dikalahkan oleh masalahnya sendiri. Na’udzubillah min dzaalik.

Saudaraku…

Senantiasa mendekatkan diri kepada Allah, berusaha menemukan hikmah setiap peristiwa, dan berikhtiar untuk memantapkan keikhlasan hati adalah tiga modal pertama dan utama untuk melahirkan cara pandang positif atas segenap masalah. Mengapa demikian? Sebab, cara pandang positif akan hadir dengan syarat kita dalam kondisi yang relatif tenang, meyakini bahwa ada sesuatu yang positif pada apa yang kita pandang, dan mengharapkan efek terbaik untuk sesuatu yang kita pandang itu.

Apa pendapat Anda tentang orang yang sedang dikuasai amarah (bukan sekedar marah lho)? Apakah saat itu ia mampu memandang secara positif?. Di sinilah ketenangan dibutuhkan. Kemudian, apa pendapat Anda tentang dua orang yang melakukan kesalahan yang sama derajatnya pada Anda; orang yang pertama sudah dikenal sangat shalih sementara orang yang kedua terkenal sebagai preman? Kesalahan siapa yang lebih cepat anda maklumi dan maafkan? Lazimnya orang pertama lebih mudah dimaafkan karena anda tahu sebenarnya dia orang baik-baik, bukan?. Di sinilah kesadaran akan adanya sesuatu yang positif pada sesuatu yang dipandang sangat diperlukan. Lalu, misalnya suatu saat anda sedang berjalan-jalan di sebuah lembah. Kemudian saat Anda beristirahat di bantaran sungai, Anda mencium bau yang tidak enak. Selidik punya selidik, ternyata ada kotoran kerbau yang menempel di batu tempat Anda duduk. Bagaimana reaksi Anda? Tentunya Anda akan segera menjauh dari batu itu, bukan? Namun, apa yang terjadi saat Anda sedang membuang (maaf3x) kotoran/feses Anda sendiri? Anda tentu tidak akan menjauh darinya sampai Anda selesai mengeluarkannya meski bau tak sedap menyeruak ke seluruh penjuru, bukan? Bahkan Anda sangat ikhlas mengeluarkannya karena Anda yakin hal itu akan menyehatkan/baik untuk Anda meski sebelumnya Anda mengkonsumsi makanan terlezat sedunia! Saat itu Anda tidak lagi berpikir tentang makanan yang telah berubah menjadi feses, tetapi Anda hanya berpikir bagaimana Anda bisa “membersihkan” perut Anda dari feses tersebut. Pengharapan terbaik untuk sesuatu yang kita pandang akhirnya menjadi kekuatan yang mampu mengubah cara pandang kita.

Saudaraku… ketenangan sejati hanyalah mewujud di saat-saat kita dekat dengan-Nya. Kita hanya bisa yakin ada sesuatu yang positif di balik sesuatu setelah kita merenungi sejuta hikmah di dalamnya, dan hikmah-hikmah di setiap detik yang kita alami. Dan kita hanya tergerak untuk mengharapkan serta melakukan sesuatu yang terbaik, ketika keikhlasan menjadi cahaya di hati ini. Saudaraku, itulah beberapa bekal untuk senantiasa memandang positif apa-apa yang Allah sajikan untuk kita, termasuk berbagai masalah yang mewarnai hari-hari kita.

Ketika suatu masalah menghampiri diri ini, pertama kali yang harus kita lakukan adalah tidak melakukan apapun. Berdiam sejenak dan menenangkan diri. Diri, hati, dan pikiran yang tenang adalah pintu gerbang untuk sebuah cara pandang yang positif. Selanjutnya, coba kita renungi apa hikmah di balik kehadiran masalah itu. Kita coba ingat kembali pengalaman masa lalu dan nasihat-nasihat yang terkait dengan masalah itu. Pada saat itulah kita bisa mengetahui apa dan dimana akar masalahnya dan secara perlahan kita bisa mengetahui pula apa “manfaat” masalah itu bagi kita. Kemudian, mari kita menerima masalah itu sebagai sebuah ujian atau peringatan dari Allah, berusaha sebaik mungkin dan memilih cara-cara terbaik untuk mengatasinya agar Allah mencatat kita sebagai hamba-Nya yang tak pernah lelah mendaki untuk mencapai puncak keimanan, agar Allah semakin mencintai dan meridhoi hamba-Nya yang terus berusaha mengikhlaskan diri. Saudaraku, ketika kesungguhan yang ikhlas mewarnai ikhtiar kita, maka niscaya Allah akan menunjukkan jalan-jalan-Nya, menganugerahkan kekuatan, dan menurunkan ketenangan kepada kita. Semua ini lah yang akan membuat kita tangguh dan tetap bisa berkonsentrasi dalam menyelesaikan amanah-amanah lainnya. Jika demikian, pada gilirannya kita akan mampu menghindari efek domino dalam dinamika kehidupan ini.

Saudaraku. Sampai kapanpun kita hidup di dunia ini, masalah akan terus mengetuk pintu diri kita. Suatu saat mungkin kita terjatuh, lalu tertimpa tangga. Terkadang ketika satu masalah belum usai diselesaikan, masalah lain datang menghampiri. Inilah salah satu ciri kehidupan dunia, yang tak akan kita temui di akhirat nanti. Saudaraku.., tidak ada pilihan lain bagi kita selain berikhtiar menyelesaikan masalah-masalah itu dengan tetap yakin sepenuh hati, bahwa Allah tidak akan pernah menzhalimi hamba-hamba-Nya. Mari kita berusaha sekuat tenaga untuk memandang secara positif apapun masalah yang kita hadapi. Hanya cara pandang positif yang akan melahirkan sikap dan perilaku positif dan akhirnya menghadirkan manfaat yang luar biasa untuk diri serta lingkungan kita. Itulah cara pandang yang kemana pun kita arahkan, tiada satupun yang kita temukan selain noktah-noktah cinta Allah kepada hamba-Nya. Itulah Pandangan Penuh Cinta… Wallaahu a’lam bi ash-shawwaab

Komentar»

1. Burunk - Januari 18, 2008

“Ga ada noda ya ga belajar, tp bukan berarti setiap belajar itu harus bernoda kan bro….?”

2. alfikr - Januari 22, 2008

@burunk : bener banget bro ^_^