Kita sedang berada di sebuah universitas besar. Penulis ingin mengajak pembaca untuk mengunjungi dan belajar di salah satu ruang kuliahnya. “Universitas besar” itu adalah alam semesta dan salah satu “ruang kuliah” yang penulis maksud adalah langit.

Mari kita gunakan imajinasi kita barang sebentar. Anggaplah kita sedang melayang di angkasa dengan sebuah pesawat ulang alik. Kita melintasi keindahan kerlap-kerlip cahaya di luar sana. Dan sekarang, kita siap untuk menikmati sebuah proses belajar yang menarik.

Coba kita perhatikan pemandangan di depan, kanan, dan kiri kita lewat jendela pesawat. Kita menemukan ribuan bintang bertebaran dari kejauhan. Bintang-bintang itu bercahaya dengan indahnya dan terus menerus, seakan tidak tega untuk tidak bersinar lagi. Kesetiaan mereka dalam memancarkan cahaya sering membuat kita lupa untuk merenungi peristiwa sebenarnya di balik keindahan itu.

Pernahkah kita serius berpikir bahwa boleh jadi bintang yang kita lihat cahayanya itu sudah tidak ada lagi saat ini? Ya, hal ini jelas sangat mungkin. Jarak mereka ribuan tahun cahaya dari mata kita. Gambaran bintang yang kita lihat sekarang adalah cahaya yang baru sampai ke mata kita setelah ia menempuh jarak milyaran kilometer. Cahaya bintang yang kita lihat berasal dari “masa purba” bintang itu. Dengan kata lain, cahaya yang kita lihat itu tidak lebih dari sekedar masa lalu. Bintang yang kita lihat itu bisa jadi sudah meledak atau bahkan sudah keriput menjadi sebuah lubang hitam pada saat ini. Kalau demikian, kita telah melihat keberadaan sesuatu yang pada hakikatnya telah tiada.

Apa yang dapat kita pelajari dari bintang-bintang itu? Pertama, mereka “mengajarkan” kekekalan manfaat dalam realitas kefanaan. Bintang itu senantiasa bersinar meskipun mungkin eksistensinya telah hancur. Kita, manusia, juga sebaiknya seperti itu. Kita hendaknya mampu menjadi manusia yang bermanfaat sampai kapan pun. Manfaat yang kita berikan untuk manusia dan makhluk Allah lain di sekitar kita jangan sampai dibatasi oleh usia kita. Kita harus berpikir bagaimana caranya menjadi orang yang berguna pada saat ini, di masa depan, dan setelah kita mati nanti. Intinya, kita harus berusaha mengekalkan manfaat kita untuk mereka (setidaknya hingga sangkakala ditiup) di tengah kenyataan bahwa kita ini adalah makhluk yang fana. Bukankah salah satu parameter manusia terbaik adalah adalah manusia yang bermanfaat bagi manusia lainnya? Tidakkah kita mengingat sabda nabi saw. berikut: “Barang siapa yang mengasihi yang di bumi, maka Yang di langit akan mengasihinya”?

Kedua, bintang-bintang itu “mengajarkan” keikhlasan dalam beramal. Bintang-bintang itu bersinar, tetapi kita tidak mengetahui secara pasti eksistensi bintang tersebut Kita selayaknya mencontoh perilaku bintang yang satu ini. Jika kita melakukan amal baik, jangan biarkan orang lain mengetahui bahwa kita telah berbuat amal itu. Jika tangan kanan kita memberikan sedekah, jangan biarkan tangan kiri kita mengetahuinya. Sikap ini sangatlah berguna untuk membantu menjaga keikhlasan hati kita dalam beramal baik.

Ketiga, bintang-bintang itu “mengajarkan” kita untuk bekerja keras. Saban hari, bintang-bintang itu rela “mengirimkan” cahayanya ke bumi meski harus menempuh jarak ribuan tahun cahaya. Jarak itu adalah jarak yang sangat panjang. Dalam satu detik saja, cahaya menempuh 300.000 km, bagaimana kalau satu tahun, bagaimana kalau ribuan tahun? Subhanallah. Satu bintang yang cahayanya menempuh jarak ribuan tahun cahaya itu, ternyata hanya menghasilkan satu titik cahaya di depan mata kita. Ini tentu tidak sebanding dengan jarak yang ia tempuh. Namun, ia toh tetap melakukannya. Sungguh, suatu kerja keras yang patut dibanggakan. Sekarang, marilah kita melihat diri kita sendiri. Marilah kita bertanya apakah kita sudah bekerja keras dengan optimal atau belum. Kita sebaiknya mencontoh bintang dalam bekerja keras. Seseorang yang bekerja keras dengan baik akan senantiasa menempatkan orientasi utamanya pada proses bekerja, bukan pada hasil bekerja.

Proses adalah sebuah ikhtiar yang akan dinilai kesungguhan dan keikhlasannya oleh Allah. Apapun hasil yang kita raih sesudahnya, itu sepenuhnya menjadi hak prerogatif Allah semata. Di sinilah Allah menilai kelegowoan kita untuk bertawakkal kepada-Nya. Pembaca yang budiman, sebuah bintang tidak menyesali visualisasinya di mata kita yang hanya sebagai titik cahaya kecil. Hal yang sangat penting baginya adalah menjalankan tugas dari Allah swt. (Sunnatullah) sebaik-baiknya. Sudahkah kita seperti itu?

Keempat, bintang-bintang itu “mengajarkan” kita untuk bekerja sama dalam rangka melahirkan kekuatan. Pernahkah kita mengamati satu bintang yang bercahaya dalam kesendirian di tengah gulita malam? Mungkin ada yang menjawab “ya”. Namun, penulis yakin jawaban “ya” tersebut sangat relatif, tidak mutlak. Kesendirian bintang yang diamati oleh si penjawab paling-paling disebabkan cuaca yang mendung, atau ada bintang yang kebetulan letaknya agak berjauhan dengan teman-temannya sesama bintang. Pada keadaan visual yang sebenarnya (bukan berdasarkan posisi faktual di alam semesta), bintang-bintang itu berkumpul dan membentuk kelompok-kelompok. Lantas, apa yang membuat hati kita takjub ketika memandang langit di malam hari? Tentu saja kumpulan bintang yang mengerlap-ngerlipkan cahaya secara bersamaan, bukan? Inilah pelajaran yang bisa kita ambil. Para bintang bekerja sama untuk melahirkan keindahan yang menakjubkan. Mata kita tergoda untuk menatap langit malam karena keindahan bintang-bintang yang berkumpul itu, bukan karena kesendirian si bintang. Jika kita mau menciptakan sebuah kekuatan yang menakjubkan, kita harus mau bekerja sama dengan orang lain. Kita tidak akan dapat bertahan dalam kehidupan ini apabila hanya mengandalkan kesendirian dan keegoisan kita.