Ikhlas Januari 29, 2008
Posted by alfikr in Puisi.1 comment so far
Entah berapa banyak langkah telah ditempuh
Untuk sekedar membuat mereka
Bergerak, berjalan, berlari, melesat menjemput cahaya
Entah berapa banyak nasihat yang mengaura di sekujur tubuh
Untuk sekedar membuat mereka
Tersenyum dalam pengertian, mengangguk dalam pemahaman
Terpatri dalam paradigma kebenaran
Entah berapa banyak pula doa yang terucap setiap detik
Untuk sekedar mengharapkan kemurahan-Nya
Agar Dia Menghujamkan hidayah di hati kami, kita dan mereka
Namun akankah kita tetap sanggup berseru: Entah berapa banyak
Padahal kita tidak tahu betapa sedikit yang telah kita berikan
Akankah pula kita tenggelam dalam ketenangan hati
Ketika kita sadar berapa banyak keinginan untuk dihargai
Benak ini begitu berbunga-bunga saat kebaikan telah terbalas
Jiwa raga ini sangat merindukan tanda terimakasih
Hati ini robek ditikam pedang-pedang pengabaian dan ketidakpedulian
Dari mereka yang kita kasihi di taman ukhuwah ini
Masihkah kita terdiam dan terlalu angkuh untuk mengakui
Bahwa kita masih tertatih dalam menggenggam keikhlasan
Kita berada di tepi jurang kehancuran amal-amal kita sendiri
Yang ternoda oleh pengharapan akan balasan dan kesyukuran
Dari manusia…
Astaghfirullah….
Masihkah kita terlalu sombong untuk sekedar meratap pilu
Ya Allah, aku memang tidak mengharap pujian
Tetapi aku begitu menanti dan senang hati saat mereka menghargai
Ya Allah, aku memang hanya mengharapkan keridhaan-Mu saja
Tetapi jiwa ini menangis ketika ucapan terimakasih tak jua kuterima
Ya Allah, aku yakin hanya Engkau yang memberikan balasan terbaik
Tetapi diri ini masih saja mengeluh saat tiada yang memahami
Bahwa aku telah lelah berjuang di jalan ini
Diri ini terus berteriak agar mereka mau mengerti
Kalau aku ingin mereka semakin berarti
Dan betapa kecewanya aku ketika mereka tetap diam dan membisu
Saat aku tengah kencang berlari menghampiri rahmat-Mu
Ya Allah ku jatuh seketika saat ratapan itu terhulur
Jika demikian, apakah memang sejatinya ku tak harapkan pujian
Jika demikian, apakah memang sejatinya ku hanya harapkan ridha-Mu
Jika demikian, apakah memang sejatinya ku yakin hanya Engkau Pemberi balasan terbaik
Jika demikian, apakah yang telah ku lakukan masih bernilai di sisi-Mu
Aku hanya manusia lemah yang berusaha bangkit dan meraih kekuatan
Di jalan dakwah ini…
Tetapi aku tetap manusia yang lemah penuh keluh kesah
Seberapa kuat ikhtiarku tak kan pernah mampu menutupi kelemahanku
Jika Engkau tak Berkenan menegakkanku
Jika Engkau tak Berkenan menguatkanku
Jika Engkau tak Berkenan menyucikan hati ini
Agar diri ini menjadi hamba yang Engkau Cintai
Ya Allaah, iyyaaka na’budu wa iyyaaka nasta’iin…
Ketika pun aku berbuat sejuta kebaikan itu adalah buah pertolongan-Mu
Karena rahman dan rahim-Mu
Ketika pun aku ikhlas itu pula adalah bukti kehadiran-Mu
Yang Menolong hati ini agar senantiasa murni dalam agama-Mu
Karena itulah Ya Allah… tiada yang bisa kupinta dari-Mu
Selain bait-bait sederhana dari lisanku
Ya Allah, jadikan diri ini dalam pertempuran tiada henti
Melawan syaithan laknat-Mu atasnya
Yang menjadikan semua…
Semua keinginan untuk dihargai dalam diri ini
Yang menjadikan semua…
Semua harapan akan ucapan terimakasih
Yang menjadikan semua…
Semua kesedihan ketika kebaikanku tak terbalas, terabaikan, tidak dipedulikan
Sebagai peluru-peluru yang kan menerjang ikhlasku
Ya Allah, jangan biarkan sebesar dzarrah pun riya sum’ah bermukim di hatiku
Ya Allah, gantikanlah semua itu
Hanya dengan pengharapan akan keridhaan-Mu
Hanya dengan kegembiraan ketika Engkau Meridhaiku
Hanya dengan keinginan akan balasan terbaik dari-Mu
Hanya dengan keyakinan bahwa semua kebaikan yang kulakukan
Adalah sebentuk kasih sayang dan pertolongan-Mu
Ya Allah anugerahkanlah kekuatan sejati
Agar aku tak kecewa ketika tiada yang menghargai kebaikanku
Agar aku tak berduka ketika tiada yang berterima kasih atas kebaikanku
Agar aku tak mengeluh ketika pun manusia mengabaikan kebaikanku
Agar ku mampu melupakan semua amal shalih
Karena sejatinya amal shalih itu bukan kebaikanku, bukan dariku
Semua kebaikan itu…
adalah kebaikan-Mu semata
yang Kau titipkan padaku…
Satu Sisi Bahagia Januari 24, 2008
Posted by alfikr in Inspirasi, Tentang Cinta.3 comments
Seorang gadis terduduk lesu. Pandangannya kosong. Wajahnya masam. Sama sekali tak terlukis di raut mukanya setitik pun tanda kegembiraan. Kekecewaan dan kesedihan; sepertinya dua hal ini yang menguasai jiwa dan raganya. Semua itu tergambar ketika siapa pun memandangnya. Perasaan iba-lah yang sontak muncul dalam kalbu orang-orang di sekitarnya begitu melihat keadaannya yang kontras dengan hiruk pikuk keramaian suasana.
Dari jauh terlihat bayangan sesosok pemuda yang lama kelamaan semakin jelas dicerna mata. Pemuda perjaka yang masih hijau itu berjalan dengan mantap mendekati si gadis. Tanpa ba-bi-bu, ia langsung duduk tepat lima sentimeter di sebelah kanan si gadis. Tangannnya segera melingkar di atas bahu si gadis seakan menjadi bantal ketenangan perempuan yang bermuram durja itu. Si gadis terkejut dan segera menoleh. Air matanya tiba-tiba saja menderas dan tanpa ba-bi-bu pula, ia meletakkan kepalanya di bahu pemuda. Tak lama kemudian, percakapan yang diwarnai isak tangis si gadis terjadi di antara sepasang anak manusia itu. Si gadis memuntahkan semua uneg-unegnya, menceritakan semua masalah yang menghimpit hati dan pikirannya, dan mengadukan segala beban yang memberati pundaknya. Sang pemuda begitu hikmat dan setia mendengarkan setiap patah kata yang meluncur dari mulut si gadis. Sesekali ia tersenyum, seakan berusaha menenangkan hati si gadis dan meredam kegelisahannya
**
Dua jam telah berselang sejak si gadis dan sang pemuda membuka forum curhat. Tangisan si gadis kini tak terdengar lagi. Sungai air matanya telah mengering dipanasi sinar mentari Zhuhur yang semakin terik. Pasangan remaja itu akhirnya beranjak dari tempat duduknya. Keduanya berjalan bersama, menembus kerumunan orang-orang, hingga akhirnya lenyap ditelan keramaian.
Nah, bagaimana, ya, keadaan si gadis sekarang? (lagi…)
Tafakkur Langit : Cerita Sang Mentari Januari 16, 2008
Posted by alfikr in Inspirasi.1 comment so far
Kita sedang berada di sebuah universitas besar. Penulis ingin mengajak pembaca untuk mengunjungi dan belajar di salah satu ruang kuliahnya. “Universitas besar” itu adalah alam semesta dan salah satu “ruang kuliah” yang penulis maksud adalah langit.
Mari kita gunakan imajinasi kita barang sebentar. Anggaplah kita sedang melayang di angkasa dengan sebuah pesawat ulang alik. Kita melintasi keindahan kerlap-kerlip cahaya di luar sana. Dan sekarang, kita siap untuk menikmati sebuah proses belajar yang menarik.
Kita sudah menikmati keindahan bebintang nun jauh dan merasa takjub akan “keajaiban” latar. Penulis yakin kita belum cukup puas dengan semua itu. Sekarang, marilah kita mengarahkan pandangan ke tata surya kita. Lihatlah bintang yang menyala di pusatnya dan renungkanlah hal-hal yang bisa kita pelajari darinya.
Pandangan Penuh Cinta Januari 16, 2008
Posted by alfikr in Inspirasi, Tentang Cinta.2 comments
Saudaraku…
Saya ingin mengajak Anda sedikit berimajinasi. Bayangkan suatu hari Anda tengah berjalan-jalan di taman kota, hari minggu pagi. Saat itu Anda tidak sendiri. Ada adik dan orang tua yang menemani Anda menikmati keindahan dan kesejukan suasana taman. Apa yang Anda rasakan? Tentu saja senang bin bahagia. Namun, ternyata ada kejadian “lucu” saat Anda sekeluarga berjalan di bawah sebuah pohon yang tinggi dan rindang. Tepat dari atas kepala Anda, tiba-tiba meluncur cairan putih dengan begitu cepatnya dan mengenai kepala Anda yang baru saja dikeramas. Wah, kira-kira gimana perasaan Anda? Kurang lebih kalau saya boleh prediksi, Anda pasti kaget dan menggumam : “Waduhh” atau yang sejenisnya. Adik dan orang tua Anda pun akan kaget melihat reaksi Anda. Tak lama kemudian, mereka boleh jadi malah tertawa (dengan maksud bercanda) melihat kejadian yang baru saja menimpa Anda. Anda yang merengut pun akhirnya tak bisa menahan senyum. Meskipun kepala tidak lagi bau shampoo, Anda pun akhirnya ikut tertawa seolah-olah menertawakan diri Anda sendiri
. Luar biasa ya, kejadian yang tidak mengenakkan malah berbuah suasana yang begitu hangat di keluarga Anda. Itulah saat-saat Anda diliputi kenyamanan dan kebahagiaan yang seakan tak memberi kesempatan bagi Anda untuk bersedih sewaktu masalah menerpa.
Namun, apa jadinya kalau Anda terkena kotoran burung itu saat Anda tengah sedih karena nilai UTS Anda kurang memuaskan, atau ada masalah pekerjaan di kantor, atau Anda baru saja bersitegang dengan teman Anda. Boleh jadi, kotoran yang cuma beberapa mililiter itu seperti batu besar yang menimpa kepala Anda. Masalah kecil terlihat seperti raksasa di pelupuk mata Anda. Anda yang sedang tidak enak hati boleh jadi malah semakin kesal dan melakukan sesuatu yang destruktif. Na’udzubillah min dzaalik.
Tafakkur Langit : Kharisma Sang Latar Januari 12, 2008
Posted by alfikr in Inspirasi.1 comment so far
Kita sedang berada di sebuah universitas besar. Penulis ingin mengajak pembaca untuk mengunjungi dan belajar di salah satu ruang kuliahnya. “Universitas besar” itu adalah alam semesta dan salah satu “ruang kuliah” yang penulis maksud adalah langit.
Mari kita gunakan imajinasi kita barang sebentar. Anggaplah kita sedang melayang di angkasa dengan sebuah pesawat ulang alik. Kita melintasi keindahan kerlap-kerlip cahaya di luar sana. Dan sekarang, kita siap untuk menikmati sebuah proses belajar yang menarik.
Setelah kita menyelami keindahan bebintang, mari kita alihkan pandangan kita lebih “jauh”. Perhatikanlah kegelapan yang melatari cahaya bintang-bintang itu; kegelapan yang tidak lebih dari sekedar warna hitam, tetapi menyimpan ribuan misteri yang belum terungkap. Kegelapan itu begitu sederhana terlihat, tetapi begitu cocok dengan cahaya bintang-bintang “di atas”nya sehingga begitu indah dilihat mata.
Tafakkur Langit : Kilau Bintang Januari 9, 2008
Posted by alfikr in Inspirasi.6 comments
Kita sedang berada di sebuah universitas besar. Penulis ingin mengajak pembaca untuk mengunjungi dan belajar di salah satu ruang kuliahnya. “Universitas besar” itu adalah alam semesta dan salah satu “ruang kuliah” yang penulis maksud adalah langit.
Mari kita gunakan imajinasi kita barang sebentar. Anggaplah kita sedang melayang di angkasa dengan sebuah pesawat ulang alik. Kita melintasi keindahan kerlap-kerlip cahaya di luar sana. Dan sekarang, kita siap untuk menikmati sebuah proses belajar yang menarik.
Coba kita perhatikan pemandangan di depan, kanan, dan kiri kita lewat jendela pesawat. Kita menemukan ribuan bintang bertebaran dari kejauhan. Bintang-bintang itu bercahaya dengan indahnya dan terus menerus, seakan tidak tega untuk tidak bersinar lagi. Kesetiaan mereka dalam memancarkan cahaya sering membuat kita lupa untuk merenungi peristiwa sebenarnya di balik keindahan itu.
Jangan ‘Takut’ dengan IT Guys :-) Januari 7, 2008
Posted by alfikr in Inspirasi, Tentang Cinta.6 comments
Coba deh Anda perhatikan anekdot yang sudah tersebar di berbagai halaman web di internet berikut ini :
Suami : Selamat malam sayang, sekarang saya logged in.
Istri : Apakah kamu bawa oleh-oleh yang aku minta?
Suami : Bad command or filename.
Istri : Tapi aku bilangnya dari tadi pagi!
Suami : Errorneous syntax. Abort?
Istri : Trus, bagaimana tentang beli televisi baru?
Suami : Variable not found.
Istri : OK deh, kalo gitu minta kartu kreditmu. Aku mo belanja sendiri aja.
Suami : Sharing violation. Access denied.
Istri : Apakah kamu lebih mencintai komputer daripada aku? Atau kamu hanya main-main saja?
Suami : Too many parameters.
Istri : Itu kesalahan terbesar kalo saya menikahi orang “idiot” sepertimu.
Suami : Data type mismatch.
Istri : Kamu tidak berguna.
Suami : It’s by Default.
Istri : Bagaiman dengan gajimu?
Suami : File in use… Try again later.
Istri : Kalo gitu apa posisiku di keluarga ini?
Suami : Unknown virus.
Hmm… jika Anda seorang netter atau bahkan sering berkecimpung dalam dunia Teknologi Informasi, mungkin Anda merasa tidak asing dengan anekdot tersebut. Intinya, anekdot ini memanipulasi kalimat-kalimat pesan error atau pesan konfirmasi tertentu yang sering Anda temukan saat bekerja dengan komputer sebagai bahasa percakapan antara sepasang suami-istri sehingga digambarkan sang istri “menyesal” karena menikah dengan seorang suami yang kebetulan adalah salah satu IT Guys.
Kalau iseng-iseng kita renungkan anekdot tersebut, mungkin kita dapat merasakan seolah-seolah telah terjadi stigmatisasi (deeuh…hiperbola nih ceritanye
) bahwa tipikal IT Guys adalah orang-orang yang kaku, kepalang sistematis, lebih senang pacaran sama komputer daripada sama manusia, dan memuji-muji logika sehingga sering lupa untuk memanfaatkan sisi emosionalnya yang lembut, sensitif, intuitif, dan hangat (Hiks, we are surely not like that! hehe).
Semburat Bahagia di Jalan Dakwah Januari 3, 2008
Posted by alfikr in Inspirasi.2 comments
Apa yang ingin Anda raih dalam kehidupan ini? Inilah pertanyaan mendasar yang seringkali ditanyakan saat kita merenungi makna hidup. Apa kira-kira jawaban Anda? Tidak peduli siapapun Anda; mahasiswa, karyawan, direktur, guru, supir angkot, koruptor, perampok, penjudi, atau apapun predikat yang Anda sandang, saya cukup yakin bahwa jawaban Anda dan kita semua sama pada intinya. Jawaban itu adalah : Saya ingin BAHAGIA. Ya, mahasiswa giat belajar supaya bahagia; karyawan gigih bekerja supaya bahagia; direktur memimpin dengan seluruh jiwa dan raga agar bahagia; supir angkot rela berpeluh ria mengelilingi kota supaya bahagia; koruptor berpikir mati-matian agar dapat meraup duit secara haram tapi elegan, tidak lain supaya bahagia; perampok rela tidak beristirahat di malam hari agar bisa merampok dengan sukses, itu pun untuk mencari kebahagiaan; penjudi juga begitu, ia rela mempertaruhkan sedikit atau banyak uang yang dimilikinya agar meraih uang yang jauh lebih banyak lagi karena ia ingin bahagia. Kita semua, siapapun kita, ingin bahagia…
Keinginan untuk hidup bahagia adalah salah satu wujud fitrah manusia. Semua orang ingin bahagia, karena bahagia itu menyenangkan, jauh dari kesedihan, dan sangat dekat dengan kenyamanan. Namun, sangat disayangkan apabila fitrah manusia yang satu ini dikotori oleh hawa nafsu dan syahwat yang tak terkendali. Kedua hal inilah yang menjadi kendaraan syaithan untuk membawa kita pada kebahagiaan yang semu, membuat kita lupa akan kebahagiaan yang sesungguhnya, dan menjadikan kita merasa cukup dengan kebahagiaan dunia yang akan hancur binasa. Lain halnya dengan orang yang terus berusaha mengendalikan hawa nafsu dan syahwatnya dalam kerangka ketakwaan kepada Allah swt. Dunia menyuguhinya beribu pernik kebahagiaan, tetapi ia tidak memandangnya, melainkan hanya sebagai anak-anak tangga menuju puncak kebahagiaan. Fokusnya adalah meraih puncak kebahagiaan sehingga ia terus berjalan menuju puncak itu. Ia tidak berhenti pada salah satu anak tangga, tetapi terus mendaki dengan susah payah agar sampai pada kebahagiaan sejati.
Lantas, apakah puncak kebahagiaan itu? (lagi…)
Bumi Terbelah Cinta-Mu Januari 3, 2008
Posted by alfikr in Puisi.add a comment
Sungguh pedih…
Saat retak-retak menjalar di atas bumi-Mu
Padahal kaki kami bertahan lemah di atasnya
Padahal tubuh kami masih bersandar
Padahal baru saja penat berlalu darinya
Ketika mentari masih di ufuk timur
Pagi itu menjadi air mata
Nurani kami menjerit
Siapa lagi yang mampu menghentikan
Siapa lagi yang mampu menahan
Siapa lagi yang mampu mendiamkan
Kami tak melihat satupun yang sanggup
Kami tak mendengar seorangpun berkata
“Sebentar lagi semuanya kan reda”
Kami adalah rakyat negara
Kami adalah petani dan pengusaha
Kami adalah guru dan pegawai
Kami adalah siswa dan mahasiswa
Kami adalah pejabat dan tentara
Yang tak lepas dari dosa
Tetapi kami merasakan hal yang sama
Saat itu..
Hanya satu yang sanggup
Yang kami sebut-sebut saat berhamburan
Kami berlari dan berteriak…Allaahu Akbar!!!
Yang kami harap saat terjepit
Kami meringis dan merajuk…..Allaahu Akbar!!!
Yang kami rindukan saat lebam dan terluka
Kami mengaduh dan merintih….Allahu Akbar!!!
Yang kami pintakan ampunan saat sadar kami tengah diuji
Kami berdoa lirih…Astaghfirullah…
Mungkin sulit bagi kami untuk memahami
Bahwa bumi ini terbelah karena Cinta-Mu
Dengan Cinta Engkau Menguji
Sanggupkah kami bertahan dalam kesabaran
Sanggupkan kami bertahan dalam iman
Sanggupkah kami untuk berbenah diri
Sanggupkah kami untuk kembali…
Tetapi setidaknya kami sangatlah yakin
Bahwa bumi ini tak mungkin bergetar sendiri
Tangan-Mu lah yang menggerakkan
Meski tak pernah kami lihat
Perintah-Mu lah yang menjadikan
Meski tak pernah kami dengar
Jika Engkau masih memberikan kesempatan
Bagi kami untuk menghitung diri
Semakin mendekat pada-Mu
Semakin yakin akan Keagungan-Mu
Maka atas izin dan kehendak-Mu
Ini adalah ujian-Mu
Bukankah guru begitu cinta kepada muridnya
Saat ia mampu menjawab dengan benar soal-soal tersulit
Maka bagaimanakah luar biasa Cinta-Mu
Saat makhluk-Mu lulus dalam ujian kehidupan
Bukankah murid begitu berharap agar guru mengajarnya dengan baik
Hingga ia mampu berprestasi dalam belajar
Maka bagaimana mungkin kami tak mengharap petunjuk dan kasih-Mu
Hingga kami mampu melewati semua ini
Dengan iman, kesabaran, dan kesungguhan
Kami masih ingin bermimpi
Kami masih ingin bersama untuk merajutnya
Menjadi keindahan masa depan
Menjadi kebahagiaan yang sempurna
Kami tak ingin roboh tanpa daya
Kami tak ingin hancur tanpa sisa
Kami tak ingin patah begitu saja…