Mutiara Al-Fath Desember 12, 2007
Posted by alfikr in Inspirasi.trackback
Mungkin pembaca sudah mengetahui kisah Perjanjian Hudaibiyah. Meskipun demikian, izinkan saya untuk bercerita secara singkat tentang peristiwa bersejarah ini yang Insya Allah akan meneguhkan keyakinan kita akan Kemahaluasan Ilmu Allah swt.
Suatu ketika di tahun 6 H, Rasulullah saw bermimpi bahwa dirinya dan kaum muslimin akan memasuki kota Mekkah dengan aman untuk menunaikan ibadah haji dan umrah. Sebagaimana lazimnya, mimpi Nabi saw adalah merupakan wahyu dari Allah yang harus dilaksanakan. Maka berangkatlah Nabi saw beserta rombongan pengikutnya yang berjumlah 1400 orang menuju Mekkah. Karena tujuan mereka pergi ke Mekkah adalah untuk beribadah, bukan untuk berperang, maka Nabi saw memerintahkan kepada seluruh pengikutnya untuk tidak membawa senjata. Setelah sampai di Dzul Hulaifah (6 mil dari Madinah), Umar bin Khattab berpikir dan merasakan bahwa tidaklah baik melakukan perjalanan jauh tanpa membawa senjata sedikitpun. Umar pun menyampaikan pendapatnya kepada Nabi saw dan ternyata beliau menyetujuinya. Nabi saw pun memerintahkan para sahabat untuk mengambil senjata di Madinah.
Ketika kaum muslimin semakin mendekati Mekkah, salah seorang sahabat datang dan menyampaikan bahwa kaum Quraisy tidak mengizinkan Nabi saw dan pengikutnya untuk memasuki Mekkah. Setelah mendengar informasi tersebut, Nabi saw memutuskan untuk singgah di lembah Hudaibiyah. Di lembah inilah, berbagai upaya diplomasi dilakukan. Kaum Quraisy mengirimkan beberapa utusannya untuk mengetahui kondisi kaum muslimin dan mencegah mereka memasuki Mekkah. Setiap kali utusan ini kembali ke Mekkah, informasi yang diterima para petinggi Quraisy sama saja, yakni bahwa Nabi saw sama sekali tidak berniat untuk berperang, tetapi datang ke Mekkah semata-mata untuk menunaikan ibadah haji. Nabi saw juga mengirim utusannya ke Mekkah, yakni Utsman bin Affan untuk menjelaskan secara langsung tentang niat ibadah haji tersebut. Meskipun demikian, penjelasan-penjelasan tersebut tidak melunturkan larangan menuju Mekkah yang dicanangkan oleh para petinggi Quraisy. Bahkan, tersiar isu bahwa Utsman bin Affan telah dibunuh. Maka Nabi pun bergerak cepat. Beliau mengambil janji setia dari kaum muslimin yang menyatakan siap berjihad terhadap kaum kafir sampai titik darah penghabisan. Janji setia ini kemudian dikenal dengan sebutan Bai’atur Ridwaan atau Bai’atusy Syajarah.
Sebagai langkah pamungkas, kaum Quraisy mengirim Suhail bin Amr untuk mengadakan perundingan dengan Nabi saw di Hudaibiyah. Perundingan itu menghasilkan perjanjian yang sepintas sangat merugikan umat Islam, yakni perjanjian Hudaibiyah. Nabi saw memerintahkan Ali untuk menuliskan perjanjian tersebut. Di awal surat perjanjian, Nabi memerintahkan Ali untuk menulis kalimat “Bismillaahirrahmanirrahiim”. Utusan kafir memprotes kalimat tersebut karena ia tidak mengenal “Ar-Rahman”. Ia pun menawarkan kalimat lain, yakni “Bismika Allahumma”. Nabi setuju saja dan langsung memerintahkan Ali untuk menghapusnya serta menggantinya sesuai keinginan utusan itu. Dengan gemetar sebagai tanda ketidaksetujuannya, Ali menuruti perintah Nabi saw.
Pada baris berikutnya, Ali menuliskan pihak-pihak yang mengadakan perjanjian sesuai yang dilafadzkan oleh Nabi. Ketika Ali telah selesai menulis “Muhammad Rasul Allah”, lagi-lagi utusan kafir memprotesnya karena ia tidak mengakui Nabi saw sebagai utusan Allah. Ia mengusulkan agar dituliskan “Muhammad bin Abdullah” saja. Dengan lapang dada, Nabi saw meminta Ali untuk menghapusnya dan menggantinya dengan “Muhammad bin Abdullah”. Ali dengan spontan menolak permintaan Nabi karena apabila ia menghapusnya berarti ia mengingkari kerasulan Muhammad. Nabi tidak goyah dan tetap meminta Ali melakukannya. Ali pun bersikeras untuk tidak memenuhi permintaan tersebut. Akhirnya, Nabi saw meminta surat itu dan menghapus tulisan “Muhammad Rasul Allah” dengan tangan beliau sendiri. Beliau lalu memerintahkan Ali untuk menuliskan “Muhammad bin Abdullah”. Subhaanallah, begitu luwes dan halusnya akhlak Rasulullah saw dalam menghadapi kaum kafir!
Perjanjian Hudaibiyah secara resmi berlaku setelah Nabi saw memberikan cap dengan cincin beliau. Namun, para sahabat mengajukan protes keras kepada Nabi yang begitu mudahnya menerima perjanjian yang merendahkan umat Islam tersebut. Mereka sangat yakin bahwa perjanjian tersebut sangat merugikan umat Islam. Mereka, kecuali Abu Bakar, sangat menyesali langkah yang diambil Rasulullah saw yang sangat tidak masuk akal tersebut. Umar bin Khattab yang geram dengan sikap Nabi pun sampai melontarkan kata-kata yang keras kepada beliau.
“Wahai Nabi Allah! Bukankah engkau Rasul Allah?”
“Tentu saja ya”, jawab Nabi.
“Bukankah musuh-musuh kita penyembah berhala?”
“Itu sudah pasti”, jawab Nabi.
“Lalu mengapa kita mengaibkan agama kita?”
“Aku adalah utusan Allah dan aku tidak menyalahi Perintah-perintah-Nya”, sahut Nabi tegas.
Setelah penandatanganan perjanjian yang menyesakkan dada itu, kaum muslimin kembali ke Madinah. Di tengah perjalanan, Allah menurunkan surat Al-Fath. Nabi begitu senangnya menerima ayat-ayat “kemenangan ” ini dan bahkan diriwayatkan bahwa Nabi mencintai ayat-ayat tersebut lebih dari segalanya di dunia ini. Pada ayat ke 27, Allah menegaskan tentang kebenaran mimpi Rasulullah saw bahwa beliau akan memasuki Mekkah untuk beribadah haji dengan aman. Pada ayat yang sama Allah juga menegaskan bahwa Allah mengetahui apa yang tidak diketahui oleh kaum muslimin berkaitan dengan kebenaran mimpi tersebut. Seiring waktu berjalan, Nabi saw mulai merasakan keuntungan besar yang tersembunyi di balik perjanjian Hudaibiyah yang terkesan kontroversial itu. Keuntungan yang sangat signifikan adalah meluasnya dakwah islamiyah hingga ke berbagai penjuru dunia. Masih banyak keuntungan-keuntungan lainnya yang akhirnya malah cenderung menimbulkan kerugian di pihak Kafir Quraisy. Pada akhirnya, kaum Quraisy sendiri yang melanggar perjanjian tersebut. Pelanggaran ini disambut oleh kaum muslimin dengan peristiwa yang membuktikan bahwa Allah tidak pernah melanggar janjinya sebagaimana yang termaktub dalam surat al-Fath. Peristiwa itu adalah Fathu Makkah…
Banyak sekali hikmah berharga yang bisa kita ambil dari peristiwa di atas. Salah satu hikmah yang sepatutnya membuat hati bergetar adalah bagaimana Allah mendudukkan wahyu-Nya jauh sekali di atas kemampuan akal dan logika manusia. Hal ini tercermin dalam perjanjian Hudaibiyah yang disetujui Rasulullah saw atas petunjuk Allah swt.
Hikmah ini menjadi begitu unik karena kita telah membaca bagaimana para sahabat sangat meragukan keputusan yang diambil oleh Rasulullah saw, bahkan sahabat sekaliber Umar pun hampir-hampir meragukan integritas pribadi Nabi Muhammad sebagai utusan Allah. Alhamdulillah, para sahabat itu memiliki iman yang sangat kuat sehingga seberapa besar pun kekesalan mereka, mereka tetap patuh kepada Nabi saw. Andaikata saya yang berada pada posisi sahabat saat itu, boleh jadi dengan kadar iman yang seperti ini saya meninggalkan Nabi dan tidak menuruti perintahnya! Naudzubillah min dzaalik.
Peristiwa Hudaibiyah tersebut sangat jelas menunjukkan pada kita bahwa ilmu yang dititipkan Allah kepada kita tidaklah lebih dari buih di samudera ilmu-Nya. Selain itu, peristiwa ini menunjukkan bahwa skenario Allah yang diperuntukkan bagi hamba-Nya adalah yang terbaik, meskipun logika kita kadangkala sangat sulit menerimanya. Oleh sebab itu, sudah selayaknya kita kembali melihat ke dalam diri kita. Sebagai manusia yang tak lepas dari kesalahan, boleh jadi kita pernah “lupa” bahwa apa pun yang menimpa diri kita merupakan skenario Allah Yang Maha Bijaksana. Boleh jadi kita pernah putus asa ketika apa yang kita dapatkan tidak sesuai dengan keinginan kita sehingga semangat kita untuk meraih rahmat-Nya mengendur begitu rupa. Boleh jadi kita pernah terlalu berbangga ketika kita meraih keberhasilan sehingga kita tidak mengoptimalkan rasa syukur kepada-Nya.
Setelah kita meluruskan niat untuk meraih ridha Allah, berikhtiar dengan optimal dan dengan cara yang halal, dan bertawakkal hanya kepada Allah, marilah kita mengazzamkan diri kita untuk senantiasa meyakini bahwa apa pun yang kita dapatkan nantinya adalah wujud Kemahabijaksanaan Allah yang menyimpan ribuan mutiara hikmah. Mari kita ambil mutiara-mutiara itu untuk menguatkan semangat dan kesyukuran kita kepada-Nya.
Betul memang skenario Allah adalah yang paling baik bagi hamba-Nya. Karena Allah Maha Tahu Yang Terbaik yang kita tidak tahu.
“There’s a time and place for everything, for everyone. Allah works in mysterious way”
Wallahua’lam…