jump to navigation

Cahaya di atas Cahaya Desember 6, 2007

Posted by alfikr in Inspirasi.
trackback

Allah seringkali mengajarkan ilmu-Nya kepada hamba-hamba-Nya yang mau berpikir melalui berbagai perumpamaan. Salah satu perumpamaan yang sangat menakjubkan tercantum pada surat An-Nuur ayat 35. Pada ayat ini Allah menjelaskan eksistensi-Nya sebagai Pemberi cahaya di langit dan bumi.

Subhaanallah..sungguh indah redaksi ayat ke-35 dari surat An-Nuur. Keindahan susunan katanya seiring dengan kemisteriusan makna di balik kalamullah ini. Apa sebenarnya makna lubang yang tak tembus, pelita besar, tabung kaca, dan minyak zaitun yang Allah sebutkan di ayat ini? Apa pula makna di balik keterkaitan entitas-entitas itu satu sama lain?

Sebagian ulama tafsir mengaitkan ayat ini dengan konstelasi benda-benda langit di ruang angkasa. Kehadiran kata cahaya, pelita, bintang dan sebagainya dipahami sebagai hal-hal yang terkait langsung dengan objek-objek alam semesta yang dapat bersinar atau memantulkan cahaya (lihat penjelasan ayat ini di kitab Tafsir Ibn Katsir). Selain itu, ternyata ada penafsiran yang tidak mengaitkan ayat tersebut dengan benda-benda langit. Salah satunya adalah yang dikemukakan oleh Imam Al-Ghazali dalam kitab Misykaat Al-Anwar. Al-Ghazali membawa penafsiran terhadap surat An-Nuur : 35 ini keluar dari batas-batas paradigma konvensional (yang mengaitkan ayat ini secara fisik dengan rahasia Allah di ruang angkasa) menuju paradigma berpikir metaforis-komprehensif yang sederhana tetapi sarat hikmah mengenai konsep diri untuk seluruh pribadi, terutama pribadi muslim. Paradigma konvensional boleh jadi cukup sulit untuk dijadikan sarana penghayatan kandungan ayat ini secara praktis bagi orang-orang yang tidak berprofesi sebagai saintis di bidang ilmu alam. Namun, paradigma metaforis-komprehensif versi Al-Ghazali, menurut saya, adalah paradigma alternatif yang cukup mudah dipahami oleh semua kalangan pembelajar.

Saya membaca bahasan Al-Ghazali tentang ayat tersebut dalam buku Yang Tersembunyi : Jin, Iblis, Setan & Malaikat dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah serta Wacana Pemikiran Ulama Masa Lalu dan Masa Kini karangan M. Quraish Shihab. Al-Ghazali—sebagaimana dikutip M. Quraish Shihab—mengawali penjelasannya dengan memaparkan karakteristik lampu semprong atau lampu tempel. Berikut ini kutipannya.

Anda tentu pernah melihat lampu semprong. Ada sumbu yang menyala karena ada minyak yang membasahi sumbu itu. Bila lampu atau pelita itu digantung pada satu tembok tertutup, nyalanya tidak mudah padam karena angin terhalangi untuk keluar masuk menghembusnya akibat tertutup tembok; apalagi jika nyala apinya di dalam satu tabung kaca. Cahayanya akan sangat terang jika kacanya bening, apalagi jika minyak yang digunakan adalah minyak yang jernih. Anda tahu, bahwa minyak zaitun adalah minyak yang paling jernih apalagi yang selalu diterpa panas matahari, bukan hanya waktu matahari terbit dari sebelah Timur atau terbenam di sebelah Barat. Sungguh cahaya pelita itu, dengan keadaan seperti yang dilukiskan di atas, sangatlah terang, cahaya di atas cahaya. Begitulah petunjuk Tuhan yang dianugerahkan-Nya kepada makhluk. Ia bertingkat-tingkat.

Kemudian, Al-Ghazali menjelaskan bahwa perumpamaan lampu semprong itu menggambarkan potensi daya tangkap manusia yang bertingkat-tingkat. Berikut ini adalah lanjutan kutipan M. Quraish Shihab mengenai potensi daya tangkap manusia versi Al-Ghazali.

Tingkat pertama diperoleh melalui panca indera. Ini dilambangkan oleh ayat di atas dengan misykaat, yakni sebuah lubang yang tak tembus. Tingkat kedua adalah pelita yang berada di dalam misykaat itu. Pelita ini adalah akal yang menerima informasi dari panca indra kemudian mengolahnya sehingga melahirkan makna dan ide-ide. Makna dan ide-ide itu tidak jelas batas-batasnya. Nah yang membatasinya adalah semprong atau tabung kaca di mana pelita itu diletakkan. Tidakkah anda perhatikan cahaya lampu menjadi berpencar, tidak terkonsentasi, jika tidak dibatasi oleh semprong, yakni tabung kaca itu? Kaca yang disebut oleh ayat di atas adalah daya imajinasi yang berfungsi sebagai wadah yang menampung ide-ide. Kaca itu juga membatasi ide-ide itu dan memberinya bentuk tertentu. Dari mana daya itu memperoleh kekuatan? Dari minyak zaitun yang bersumber dari Syajarat (en) mubaarakah/Pohon yang banyak berkahnya. Anda harus ingat, bahwa tanpa minyak, lampu tidak akan menyala. Minyak yang bersumber dari pohon itu adalah lambang wahyu atau ilham, yakni intuisi. Di sini berakhir rentetan daya, karena wahyu atau ilham sedemikian jelas dan kukuh sehingga tidak lagi dipertanyakan kebenaran atau sumbernya. Bukankah ia dari Allah? Jangan berhenti pada misykaat, karena Anda akan terpaku pada informasi panca indra yang sangat terbatas, lagi tidak jarang keliru, bahkan boleh jadi menipu. Bukankah mata menginformasikan, bahwa bintang terlihat lebih kecil di langit, padahal sesungguhnya amat besar? Jangan berhenti di sana, karena pelita Anda akan mudah padam, pada saat tidak ada yang menghalangi angin menghembusnya. Usahakan pelita Anda berada dalam tabung kaca, agar angin tidak menerpanya. Kukuhkan informasi Anda dengan daya nalar. Tetapi jangan juga berhenti pada informasi akal, karena pelita Anda boleh jadi tidak menyala akibat kekurangan minyak atau tidak berminyak sama sekali. Kalau Anda memilih minyak, usahakanlah tidak memilih minyak biasa, tetapi minyak istimewa, yakni wahyu ilahi atau ilham serta intuisi. Jika Anda dapat memadukan semua daya itu, Anda akan memperoleh cahaya di atas cahaya, dan ketika itu tidak ada sesuatu yang kabur bagi Anda.

Maha Besar Allah yang telah menganugerahkan kemampuan kepada hamba-Nya dalam menguak tabir hikmah dibalik keagungan kalam-Nya. Apa yang disampaikan Al-Ghazali adalah mutiara yang patut kita jadikan perhiasan tafakur diri. Ada empat entitas nikmat Allah pada diri kita yang dikaitkan dengan empat entitas di surat An-Nuur : 35 menurut Al-Ghazali, yakni panca indera (misykaat/lubang yang tak tembus), akal (pelita), daya imajinasi/nalar (tabung kaca), dan wahyu/ilham (minyak zaitun). Panca indera adalah pintu gerbang bagi seluruh informasi yang masuk ke dalam diri kita. Keberadaan panca indera, di satu sisi, sangat penting untuk menjamin keutuhan informasi secara kuantitatif. Namun, di sisi lain, panca indera tidak mampu menyediakan pemahaman yang juga utuh serta komprehensif secara kualitatif. Apabila informasi yang disampaikan oleh panca indera langsung kita tanggapi tanpa diolah lebih lanjut, maka hasilnya adalah tindakan-tindakan bodoh, seringkali tidak logis, dan cenderung destruktif. Tindakan-tindakan seperti ini mencerminkan reaksi yang tidak didasari pemahaman yang menyeluruh terhadap informasi tersebut. Selanjutnya, tindakan yang hanya didasari pemahaman panca indera akan membuat kita tidak sadar terhadap efek-efek yang mungkin ditimbulkan dari tindakan tersebut. Inilah segenap tindakan dari orang yang kalap serta dikuasai amarah dan hawa nafsunya. Pada titik yang terendah, tindakan mereka tak ubahnya tingkah laku binatang.

Setelah melalui panca indera, informasi yang kita terima seharusnya kita olah dengan akal. Hasil pengolahan ini berupa ide-ide yang menjadi sumber respons kita terhadap informasi tersebut. Ide-ide tersebut layaknya cahaya pelita yang menerangi jalan gelap. Seperti halnya pelita yang cahayanya menyebar (non-konsentris), maka ide-ide tersebut juga belumlah terarah. Dengan kata lain, ide-ide itu masih mentah karena lebih merupakan hasil instan dari pengolahan akal. Kita harus membentuk dan membatasi ide-ide itu dengan “tabung kaca” kita, yakni kemampuan nalar. Dengan menggunakan nalar, ide-ide itu tidak hanya akan menjadi logis untuk kita terapkan, tetapi juga cocok dengan kondisi aktual yang sedang terjadi. Apa yang dilakukan oleh nalar adalah mengkombinasikan informasi utama yang sebelumnya diterima akal dengan pengetahuan yang telah tersimpan di memori otak dan informasi pendukung lainnya untuk melahirkan keputusan terbaik mengenai reaksi yang harus dilakukan. Oleh karena itu, satu informasi yang diterima di dua waktu yang berbeda bisa jadi (seharusnya) melahirkan reaksi yang berbeda setelah informasi itu diolah daya nalar kita. Hal ini mirip dengan aktivitas yang dilakukan oleh dokter dalam mendiagnosis pasien. Ketika suatu saat banyak pasien yang mengeluh demam, belum tentu semuanya mengindikasikan satu penyakit yang sama. Setelah dokter melakukan diagnosis (menggunakan nalarnya dalam menilai gejala-gejala yang menyertai demam tiap pasien), ia dapat memutuskan apa penyakitnya dan obat apa yang cocok untuk tiap pasien. Obat-obat tersebut boleh jadi sama atau berbeda satu sama lain.

Karena kekuatan nalar kita terbatas, pengolahan informasi dengan daya nalar tidak menjamin akan melahirkan sikap/reaksi yang benar-benar terbaik. Masih ada satu entitas lagi yang harus kita rujuk dalam hal pengolahan informasi. Entitas itu menjadi “bahan bakar” yang tak pernah habis, seperti minyak zaitun yang terus menerus diproduksi pohonnya sepanjang tahun. Itulah entitas tertinggi yang merepresentasikan kekuatan abadi, yang eksistensinya menunjukkan bahwa kekuatan akal pikiran manusia yang paling cerdas sekalipun tidak ada artinya sama sekali jika dibandingkan dengan ilmu Penciptanya. Entitas tersebut adalah wahyu Allah ( yang pada tingkat yang lebih rendah, entitas itu dapat mewujud sebagai ilham atau intuisi). Inilah entitas yang apabila dipahami niscaya akan membuat kita rela menguburkan kesombongan kita dalam-dalam. Inilah entitas yang membuat kita selalu merasa kecil di hadapan-Nya, selalu menghadirkan ketawadhdhuan dalam hati, dan selalu menghindari sikap meremehkan orang yang dianggap paling bodoh sekalipun oleh para manusia.

Wahyu Allah adalah rujukan tertinggi dalam melahirkan sikap yang tidak hanya logis dan tepat sasaran menurut ukuran manusia, tetapi juga tepat (atas izin-Nya) menurut ukuran Allah. Apa yang tepat menurut manusia berdasarkan sejuta penelitian dan eksperimen ilmiah, belum tentu tepat menurut Allah. Namun apa yang tepat menurut ukuran Allah, pastilah tepat untuk manusia meskipun kita sering tidak menyadarinya. Dengan demikian, persandaran kita kepada wahyu Allah akan melahirkan kebijaksanaan tertinggi. Nah, pada tingkat inilah manusia dianggap memperoleh cahaya di atas cahaya. Seperti yang ditulis Al-Ghazali, pada kondisi ini tidak ada yang kabur/buram bagi si manusia itu. Saya memahami hal ini sebagai kondisi yang bebas dari keraguan, tetapi justru ketenangan yang meliputi seluruh isi hati. Ketenangan ini mewujud karena kita selalu mengharapkan Allah menerangi perjalanan hidup kita dengan cahaya-Nya. Ketika cahaya Allah telah menerangi jalan kita, apakah masih ada kekhawatiran bahwa diri ini akan tersesat?

Saudaraku…Hikmah yang bisa kita ambil dari penafsiran Al-Ghazali tentang surat An-Nuur : 35 ini adalah sebuah anjuran agar kita terus belajar untuk memanfaatkan seluruh potensi daya tangkap kita secara optimal dan sinergis, mulai dari panca indera, akal, daya nalar hingga kesadaran untuk selalu bersandar kepada wahyu Allah. Pemanfaatan yang menyeluruh terhadap semua potensi ini, insya Allah, akan melahirkan pribadi-pribadi cerdas lagi rendah hati. Pribadi-pribadi seperti ini dapat menembus misteri langit dan bumi dengan kekuatan dari Allah, tetapi kaki mereka tetap berpijak di atas tanah.

Wallahu a’lam…

Komentar»

1. aryanto - Oktober 31, 2009

makasih mas atas penjelasan tentang ayat ini karena saya mencari arti ayat ini semenjak satu tahun yang lalu karena ini merupakan landasan untuk ilmu yang sedang saya tekuni tentang cahaya

2. alfikr - November 13, 2009

@aryanto :

sama2, semoga bermanfaat :)