Melengkapi Apa Adanya Desember 1, 2007
Posted by alfikr in Inspirasi.1 comment so far
Saudaraku….
Anda tentu sudah cukup akrab dengan cerita seorang raja yang memerintahkan seluruh rakyatnya agar setiap orang membawa masing-masing satu sendok madu. Cerita sederhana ini berakhir cukup menyedihkan bagi raja. Kuali raja yang seharusnya berisi penuh madu dari seluruh rakyatnya pada akhirnya hanya berisi air. Lho, mengapa air? Bukankah mereka diperintahkan membawa madu? Selidik punya selidik, ternyata penyebabnya adalah sikap saling mengandalkan yang didasari sifat kikir. Setiap orang berpikir bahwa orang lain pasti membawa sesendok madu sehingga ia merasa cukup membawa sesendok air. “Toh, cuma sesendok air, tidak akan berpengaruh dan raja tidak akan menyadarinya!”, inilah kalimat yang terbetik di benak mereka. Karena mereka semua berpikir dan melakukan hal yang sama, yakni membawa sesendok air, maka pada akhirnya tidak ada setetes pun madu yang berada di dalam kuali. Semuanya hanya air. Raja bersedih hati, sementara ada sebagian rakyatnya yang menyesali diri mereka sendiri, sebagian yang lain terperangah dan berkata dalam hati : “Kok bisa ya, semua orang berpikir hal yang sama; saya kira cuma saya yang membawa sesendok air!”, dan sebagian lain tampak tidak peduli.
Saudaraku…
Kita bisa menarik berbagai hikmah dari cerita di atas. Saya ingin mengajak Anda untuk merenungi satu dari sekian banyak hikmah itu. Hikmah itu terangkai dalam kalimat berikut: “Ketika kita mencintai sahabat-sahabat kita, maka semoga kita tidak sekedar menerima mereka apa adanya, tetapi mari kita melengkapi mereka apa adanya”. Mari kita jabarkan kalimat ini agar kita semakin mudah memahami makna di baliknya.
Dalam konteks hubungan persahabatan atau bahkan persaudaraan, dua atau lebih pribadi yang unik bertemu satu sama lain. Pribadi-pribadi yang unik itu memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Kelebihan dan kekurangan itu bisa sama bentuknya atau berbeda sama sekali. Apapun bentuknya, yang pasti kelebihan dan kekurangan sesosok pribadi secara perlahan akan diketahui dan disikapi oleh pribadi yang lain. Pada saat inilah, kita sering mendengar kalimat bijak yang kurang lebih berbunyi seperti ini: “Kalau dia adalah sahabatmu, kamu harus belajar untuk menerima dia apa adanya”. Banyak ragam kalimat bijak yang senada dengan ini, tetapi kita bisa mengambil satu frase kuncinya, yaitu “menerima apa adanya”.
Frase “menerima apa adanya” sudah sering kita dengar dan biasanya kita tidak “bermasalah” dalam memahami dan melaksanakannya. Frase ini sangat wajar dan kita semua pasti setuju dengan makna umumnya. Ya, kita memang harus menerima kelebihan dan kekurangan sahabat kita dengan lapang dada dan rela hati. Saya juga merasa tidak “bermasalah” dengan frase ini hingga pada suatu ketika saya medapatkan taushiyah tentang frase lain yang lebih menarik. Frase itu adalah “melengkapi apa adanya”.