jump to navigation

The Illogical Logic of Electronical Cinemas Desember 31, 2007

Posted by alfikr in Nasional.
7 comments

Saya bukanlah penikmat sinetron karena tahu pasti bahwa sebagian besar sinetron di Indonesia tidak bermutu. Namun, sekali waktu saya mencoba melihat sepintas adegan sinetron, sekedar iseng saja, atau sekedar ingin “membuktikan” ketidakbermutuan itu :) .

Adegan yang saya lihat memiliki latar sebuah keluarga kaya raya. Saat itu sang ayah buru-buru pergi ke kantor dengan menumpangi Alphard baru-nya. Di tengah perjalanan, ia teringat bahwa laptopnya tertinggal di rumah, padahal ia sangat membutuhkannya untuk meeting di kantor karena semua data presentasi ada di laptop itu. Ia pun segera meminta pak driver untuk memutar balik arah mobil mewah itu kembali ke rumahnya yang bak istana.

Sementara itu, di rumah, anak perempuan sang ayah sedang asyik berdua-duaan dengan kekasihnya di ruang tengah. Mereka duduk di atas sofa, ditemani dua cangkir teh plus laptop sang ayah yang sedang mereka pakai di atas meja. Mungkin karena grogi didera derasnya aliran hormon-hormon masa remaja di pembuluh darah mereka, kedua lengan sejoli ini sangat berdekatan sekali saat mengangkat cangkir teh dan kedua cangkir teh itu kemudian bertubrukan satu sama lain sehingga air teh pun tumpah. Sialnya, tumpahan air teh itu tepat membanjiri keyboard laptop sang ayah. Layar laptop kecil yang awalnya menyala itu pun sontak menggelap (terlihat dari layar televisi karena sang kameraman menyorot layar laptop secara close-up, tetapi sangat disayangkan nih : adegan “rusak”-nya laptop karena tumpahan air teh itu benar-benar terlihat sebagai rekayasa atau trik kamera).

Seperti biasa, selalu ada pihak inferior yang dikambinghitamkan dalam adegan seperti di atas. Anak perempuan tersebut memanggil adik tirinya yang dalam sinetron itu diperlakukan layaknya pembantu rumah tangga. Anda pasti sudah bisa menebak bahwa sang kakak ingin menimpakan kesalahannya kepada sang adik. Yups, benar sekali. Sang kakak kemudian meminta si adik untuk mengeringkan laptop itu, lalu ia bersama kekasihnya buru-buru ngacir dari ruang tengah.

(lagi…)

Madu Sang Raja Desember 29, 2007

Posted by alfikr in Puisi.
2 comments

Masih ingatkah engkau kan cerita raja
Ketika ia berseru ke segara rakyatnya
“Bawalah sesendok madu untukku”
“Agar terkumpul seluruhnya di dalam kuali raksasa”
Sebagai ujian kesetiaan dan bukti penghormatan

Dan mereka semua berbisik
Biarlah kubawa sesendok air
Yang tak kan mengubah madu
Menjadi air semata
Dan mereka tidak menyadarinya

Hingga akhirnya kuali madu raja
Hanya berisi air persembahan rakyatnya
Tiada madu yang menjadi harapan
Tiada madu bukti kesetiaan
Layaklah raja menangis sedih
Agar sempurna isi kualinya
Ditambah sekendi air mata

Ketika madu adalah persembahan terbaik
Sebuah ikhtiar istimewa untukmu yang kusebut
Sahabatku..
Karena aku ingin mengenalmu
Memahamimu agar menjadi hikmah bagiku
Menerimamu untuk mengisi kuali dirimu
Dengan sikap terbaik lagi berkhasiat
Seperti madu

Apa yang kuisi untukmu
Tak kan pernah mengubah kualimu
Menjadi segunung berlian dan mutiara
Ketika madu yang kuberi
Kualimu tetap kualimu
Tetapi kau bisa menemukan sejuta khasiat dari madunya

Ketika air yang kuberi
Karena kupikir kualimu sudah berisi madu
Yang kapanpun bisa kuminta
Maka saat itu aku tidak sadar
Bahwa sesungguhnya setetes yang kuberikan
Adalah sesuatu yang sangat berarti
Meski kualimu tak kan penuh dengannya

Engkau seperti raja pemilik sejuta perhiasan
Tetapi sama seperti diriku
Engkau pun memiliki kuali kosong
Harapanmu sama dengan harapanku
Ingin sekali di antara kita
Saling mengisi kuali-kuali persahabatan
Yang hampa tanpa pengertian
Yang gelap tanpa nasihat
Yang dalam tanpa hikmah
Yang sepi tanpa tawa

Sahabatku…
Hanya sesendok madu yang kuharapkan
Semoga tetes demi tetesnya kan bersatu
Menjadi segara madu yang tak perlu kugenapkan
Dengan sekendi air mataku

Meng-qadha Shalat Desember 25, 2007

Posted by alfikr in Syariah.
3 comments

Beberapa hari lalu, teman saya yang saat ini kuliah S2 di UK bertanya mengenai hukum meng-qadha shalat wajib/fardhu. Ia sempat keheranan melihat teman-temannya sesama muslim di sana yang cenderung sering meng-qadha shalat tanpa udzur yang jelas. Hmm… Alhamdulillah saya mendapatkan hadits dari Shahih Muslim yang membolehkan kita meng-qadha shalat dengan kondisi tertentu. Saya akan menyampaikan satu hadits–di antara enam hadits yang berbicara tentang peng-qadha-an shalat–yang kiranya cukup representatif untuk menjawab pertanyaan teman saya tadi. Berikut ini terjemahannya.

Hadits No. 641

Dari Abu Qatadah r.a., katanya: Rasulullah saw. berpidato di hadapan kami. Antara lain beliau bersabda: Kamu akan berjalan sejak petang dan sepanjang malam. Insya allah baru akan bertemu air besok.” Pasukan terus berjalan tanpa menoleh satu sama lain. Kata Abu Qatadah, “Ketika hari sudah larut malam, –aku berada di samping beliau– Rasulullah saw. mengantuk sehingga duduknya di atas kendaraan jadi miring. Aku mendekati beliau, dan menopang beliau tanpa membangungkannya sehingga duduk beliau di atas kendaraan lurus kembali. Kemudian beliau miring pula kembali, lalu kuluruskan pula. Demikianlah kulakukan sepanjang jalan pada malam itu, sehingga akhirnya ketika waktu sahur tiba, beliau sangat miring dari sebelumnya dan hampir jatuh. aku mendekati beliau dan menopangnya. Beliau terbangun dan mengangkat kepalanya seraya berkata, “Siapa ini!” Jawabku, “Abu Qatadah!” Tanya beliau, “Sejak kapan engkau berjalan seperti ini di sampingku?” Jawabku, “sudah sejak sepanjang malam.” Kata beliau, “Semoga Allah menjagamu, karena kamu telah menjaga Nabi-Nya. Apakah kita telah ketinggalan? Masih adakan orang di sekitar kita?” Jawabku, “Ini ada beberapa orang pengendara.”

(lagi…)

Feromon Cinta Desember 23, 2007

Posted by alfikr in Inspirasi, Tentang Cinta.
15 comments

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya adalah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri supaya kamu merasa tentram dengannya. Dan Dia menjadikan di antara kalian rasa kasih sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda –tanda (kekuasaan-Nya) bagi kaum yang berpikir. (Ar-Ruum: 21)      

Seorang mahasiswa program doktor dalam bidang neurologi terkesima dengan ayat ke 21 dari surat Ar-Ruum yang dibacanya. Hatinya bergetar dan, seperti gayung bersambut, intelektualitasnya memerintahkan dirinya untuk mendalami makna ‘kasih sayang’¾salah satu tema sentral dalam kandungan firman Allah tersebut. Ada rahasia apa di balik ‘kasih sayang’? Bagaimana ‘kasih sayang’ mempengaruhi kehidupan manusia? Pertanyaan-pertanyaan semacam inilah yang ingin ia jawab. Meskipun demikian, ia sadar bahwa pertanyaan-pertanyaan itu bisa memberikan sejuta jawaban dan ia pun sadar akan keterbatasan dirinya. Nah, karena ia punya kompetensi dalam bidang neurologi, maka pertanyaan yang harus ia jawab adalah ‘Apa hubungan sistem saraf dengan kasih sayang?’. Wah…, Anda pasti setuju kalau ini pertanyaan sulit, tetapi toh mahasiswa ini tidak main-main. Ia bertekad kuat untuk dapat menjawabnya. Bahkan, ia berencana menjadikan jawaban tersebut sebagai bahan disertasinya kelak.     

Entah kebetulan atau tidak, sang mahasiswa membaca dokumentasi kitab Negarakertagama yang dikarang Mpu Prapanca pada zaman Majapahit itu. Salah satu bab kitab tersebut memuat pernyataan yang semakin mengobarkan semangat sang mahasiswa. Inti pernyataan tersebut adalah: Sebuah jalinan cinta antara dua orang anak manusia tidak akan bertahan lama tanpa adanya rasa kasih sayang. Keabadian cinta ditentukan oleh besarnya rasa kasih sayang itu. 

**   (lagi…)

Perjuangan Belum Usai Desember 17, 2007

Posted by alfikr in Puisi, Tentang Cinta.
9 comments

Kami dedikasikan untuk orang tua kami yang tak pernah berhenti mengingat dan mendoakan kami…

Pada detik ini…
Segenap rasa berpadu dalam hati kita semua
Seluruhnya tunduk bersujud, bersyukur atas kasih sayang Allah, Tuhan yang Maha Esa

Izinkan saya menyapamu, sahabat-sahabat wisudawan dan wisudawati.
Ibarat sekumpulan pendaki gunung, kita saat ini, telah berada di puncak gunung perjuangan. Gunung perjuangan itu adalah masa-masa kuliah kita di Teknik Informatika ITB. Atas nikmat Tuhan, kita berhasil mencapai puncaknya, lulus sebagai sarjana Informatika. Saat ini pula, boleh jadi kita berada di puncak kebahagiaan karena perjuangan kita tidak selalu bebas hambatan. Adakalanya terjatuh, tergelincir, dan tersengal-sengal. Dan adakalanya pula, kita mampu mendaki dengan cepat dan penuh semangat. Dan sekarang kita telah melewati itu semua. Karena itu, wajarlah apabila kebahagiaan kita mencapai puncaknya. Tetapi, tahukah engkau sahabat-sahabatku, siapa yang jauh lebih berbahagia dari kita? Siapakah yang puncak kebahagiaannya lebih tinggi dari puncak kebahagiaan kita?

Sahabat-sahabatku. Bumi ini tidak hanya diciptakan dengan satu gunung saja. Begitu pula perjuangan kita. Saat kita berada di puncak gunung perjuangan seperti sekarang ini, mari kita lihat pemandangan di sekitar. Ternyata masih banyak gunung perjuangan yang jauh lebih tinggi, yang puncak-puncaknya lebih tinggi dari tempat kita berpijak saat ini. Itulah serangkaian perjuangan berikutnya setelah kita lulus sebagai sarjana. Kita tidak boleh berlama-lama di puncak ini. Kita harus bersiap-siap untuk mendaki kembali. Puncak yang kita pijak saat ini bukanlah yang terakhir, bukan pula yang tertinggi. Masih banyak perjuangan yang harus kita lewati, tentunya dengan semangat dan strategi yang lebih mumpuni. Apapun perjuangan kita setelah ini, apakah bekerja di perusahaan, menciptakan pekerjaan atau melanjutkan studi ke tingkat yang lebih tinggi, kita tentu sangat berharap bisa meraih kesuksesan yang lebih baik dan lebih bermakna bagi kehidupan kita. Akan tetapi, tahukah engkau sahabat-sahabatku, siapa yang harapannya lebih besar dari harapan kita? Siapakah yang lebih menginginkan kita sukses daripada diri kita sendiri?

(lagi…)

Mutiara Al-Fath Desember 12, 2007

Posted by alfikr in Inspirasi.
1 comment so far

Mungkin pembaca sudah mengetahui kisah Perjanjian Hudaibiyah. Meskipun demikian, izinkan saya untuk bercerita secara singkat tentang peristiwa bersejarah ini yang Insya Allah akan meneguhkan keyakinan kita akan Kemahaluasan Ilmu Allah swt.

Suatu ketika di tahun 6 H, Rasulullah saw bermimpi bahwa dirinya dan kaum muslimin akan memasuki kota Mekkah dengan aman untuk menunaikan ibadah haji dan umrah. Sebagaimana lazimnya, mimpi Nabi saw adalah merupakan wahyu dari Allah yang harus dilaksanakan. Maka berangkatlah Nabi saw beserta rombongan pengikutnya yang berjumlah 1400 orang menuju Mekkah. Karena tujuan mereka pergi ke Mekkah adalah untuk beribadah, bukan untuk berperang, maka Nabi saw memerintahkan kepada seluruh pengikutnya untuk tidak membawa senjata. Setelah sampai di Dzul Hulaifah (6 mil dari Madinah), Umar bin Khattab berpikir dan merasakan bahwa tidaklah baik melakukan perjalanan jauh tanpa membawa senjata sedikitpun. Umar pun menyampaikan pendapatnya kepada Nabi saw dan ternyata beliau menyetujuinya. Nabi saw pun memerintahkan para sahabat untuk mengambil senjata di Madinah.

Ketika kaum muslimin semakin mendekati Mekkah, salah seorang sahabat datang dan menyampaikan bahwa kaum Quraisy tidak mengizinkan Nabi saw dan pengikutnya untuk memasuki Mekkah. Setelah mendengar informasi tersebut, Nabi saw memutuskan untuk singgah di lembah Hudaibiyah. Di lembah inilah, berbagai upaya diplomasi dilakukan. Kaum Quraisy mengirimkan beberapa utusannya untuk mengetahui kondisi kaum muslimin dan mencegah mereka memasuki Mekkah. Setiap kali utusan ini kembali ke Mekkah, informasi yang diterima para petinggi Quraisy sama saja, yakni bahwa Nabi saw sama sekali tidak berniat untuk berperang, tetapi datang ke Mekkah semata-mata untuk menunaikan ibadah haji. Nabi saw juga mengirim utusannya ke Mekkah, yakni Utsman bin Affan untuk menjelaskan secara langsung tentang niat ibadah haji tersebut. Meskipun demikian, penjelasan-penjelasan tersebut tidak melunturkan larangan menuju Mekkah yang dicanangkan oleh para petinggi Quraisy. Bahkan, tersiar isu bahwa Utsman bin Affan telah dibunuh. Maka Nabi pun bergerak cepat. Beliau mengambil janji setia dari kaum muslimin yang menyatakan siap berjihad terhadap kaum kafir sampai titik darah penghabisan. Janji setia ini kemudian dikenal dengan sebutan Bai’atur Ridwaan atau Bai’atusy Syajarah.

(lagi…)

Cinta yang (Tak) Hilang Desember 9, 2007

Posted by alfikr in Tentang Cinta.
7 comments

Jika kita mencintai karena harta, maka ia akan habis ketika harta pun habis. Jika kita mencintai karena eloknya rupa, maka ia akan keriput seiring perjalanan waktu yang membuat raga menua dan memburuk. Jika kita mencintai karena kekuasaan, maka ia akan terlepas bersama kekuasaan yang kelak diletakkan atau bahkan terjatuh ketika kekuasaan direbut dan dikudeta. Jika kita mencintai karena ilmu, maka mungkin cinta akan terlupa ketika pikiran mulai pikun dan menua. Jika kita mencintai karena nasab, maka cinta akan pupus ketika aib mengusik dan meruntuhkan harga diri generasi. Jika demikian, adakah cinta yang tersisa? Masih adakah cinta yang tak hilang?

Jika kita mencintai karena Allah, maka apakah Allah akan habis, apakah Allah akan menua, apakah Allah akan dikudeta, apakah Allah akan pikun, apakah akan hilang kemuliaan dan keagungan-Nya? Jika kita menjawab “Ya”, maka jawaban itu tidak datang dari hati, tetapi dari nafsu yang menguasai akal, dari akal yang tak sanggup mencitra tujuan hidup sebenarnya. Jika kita menjawab “Tidak”, maka itulah kesadaran yang fitri, itulah pengakuan yang memperlihatkan kepasrahan, tetapi bukanlah kepasrahan yang erat dengan kelemahan, melainkan kepasrahan yang dikemas dalam kantung-kantung keyakinan, kekuatan, dan kemampuan untuk menuju tujuan hidup yang sempurna.

Jika diperlukan…,

Cukuplah mencintai harta, tanpa perlu mencintai karena harta. Cukuplah mencintai keelokan rupa, tanpa perlu mencintai karenanya. Cukuplah mencintai kekuasaan, tanpa perlu mencintai karena kekuasaan. Cukuplah mencintai ilmu, tanpa perlu mencintai karena ilmu. Cukuplah mencintai nasab, tanpa perlu mencintai karenanya. Cintailah itu semua sekedarnya… karena Ada yang lebih Berhak Menjamin kita atas semua perhiasan dunia itu.

Cukuplah mencintai karena Allah; semoga dengannya harta tak akan habis keberkahannya, pribadi yang elok tak kan lekang seiring waktu, kekuasaan tak  kan pernah tercerabut dari kalbu para pencinta kita meski panjinya kelak terlepas dari genggaman, dan ilmu pun semakin bermanfaat untuk umat, serta generasi kita akan diteguhkan oleh-Nya. Insyaa Allah…

Cahaya di atas Cahaya Desember 6, 2007

Posted by alfikr in Inspirasi.
2 comments

Allah seringkali mengajarkan ilmu-Nya kepada hamba-hamba-Nya yang mau berpikir melalui berbagai perumpamaan. Salah satu perumpamaan yang sangat menakjubkan tercantum pada surat An-Nuur ayat 35. Pada ayat ini Allah menjelaskan eksistensi-Nya sebagai Pemberi cahaya di langit dan bumi.

Subhaanallah..sungguh indah redaksi ayat ke-35 dari surat An-Nuur. Keindahan susunan katanya seiring dengan kemisteriusan makna di balik kalamullah ini. Apa sebenarnya makna lubang yang tak tembus, pelita besar, tabung kaca, dan minyak zaitun yang Allah sebutkan di ayat ini? Apa pula makna di balik keterkaitan entitas-entitas itu satu sama lain?

Sebagian ulama tafsir mengaitkan ayat ini dengan konstelasi benda-benda langit di ruang angkasa. Kehadiran kata cahaya, pelita, bintang dan sebagainya dipahami sebagai hal-hal yang terkait langsung dengan objek-objek alam semesta yang dapat bersinar atau memantulkan cahaya (lihat penjelasan ayat ini di kitab Tafsir Ibn Katsir). Selain itu, ternyata ada penafsiran yang tidak mengaitkan ayat tersebut dengan benda-benda langit. Salah satunya adalah yang dikemukakan oleh Imam Al-Ghazali dalam kitab Misykaat Al-Anwar. Al-Ghazali membawa penafsiran terhadap surat An-Nuur : 35 ini keluar dari batas-batas paradigma konvensional (yang mengaitkan ayat ini secara fisik dengan rahasia Allah di ruang angkasa) menuju paradigma berpikir metaforis-komprehensif yang sederhana tetapi sarat hikmah mengenai konsep diri untuk seluruh pribadi, terutama pribadi muslim. Paradigma konvensional boleh jadi cukup sulit untuk dijadikan sarana penghayatan kandungan ayat ini secara praktis bagi orang-orang yang tidak berprofesi sebagai saintis di bidang ilmu alam. Namun, paradigma metaforis-komprehensif versi Al-Ghazali, menurut saya, adalah paradigma alternatif yang cukup mudah dipahami oleh semua kalangan pembelajar.

Saya membaca bahasan Al-Ghazali tentang ayat tersebut dalam buku Yang Tersembunyi : Jin, Iblis, Setan & Malaikat dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah serta Wacana Pemikiran Ulama Masa Lalu dan Masa Kini karangan M. Quraish Shihab. Al-Ghazali—sebagaimana dikutip M. Quraish Shihab—mengawali penjelasannya dengan memaparkan karakteristik lampu semprong atau lampu tempel. Berikut ini kutipannya.

(lagi…)

Melengkapi Apa Adanya Desember 1, 2007

Posted by alfikr in Inspirasi.
1 comment so far

Saudaraku….
Anda tentu sudah cukup akrab dengan cerita seorang raja yang memerintahkan seluruh rakyatnya agar setiap orang membawa masing-masing satu sendok madu. Cerita sederhana ini berakhir cukup menyedihkan bagi raja. Kuali raja yang seharusnya berisi penuh madu dari seluruh rakyatnya pada akhirnya hanya berisi air. Lho, mengapa air? Bukankah mereka diperintahkan membawa madu? Selidik punya selidik, ternyata penyebabnya adalah sikap saling mengandalkan yang didasari sifat kikir. Setiap orang berpikir bahwa orang lain pasti membawa sesendok madu sehingga ia merasa cukup membawa sesendok air. “Toh, cuma sesendok air, tidak akan berpengaruh dan raja tidak akan menyadarinya!”, inilah kalimat yang terbetik di benak mereka. Karena mereka semua berpikir dan melakukan hal yang sama, yakni membawa sesendok air, maka pada akhirnya tidak ada setetes pun madu yang berada di dalam kuali. Semuanya hanya air. Raja bersedih hati, sementara ada sebagian rakyatnya yang menyesali diri mereka sendiri, sebagian yang lain terperangah dan berkata dalam hati : “Kok bisa ya, semua orang berpikir hal yang sama; saya kira cuma saya yang membawa sesendok air!”, dan sebagian lain tampak tidak peduli.

Saudaraku…
Kita bisa menarik berbagai hikmah dari cerita di atas. Saya ingin mengajak Anda untuk merenungi satu dari sekian banyak hikmah itu. Hikmah itu terangkai dalam kalimat berikut: “Ketika kita mencintai sahabat-sahabat kita, maka semoga kita tidak sekedar menerima mereka apa adanya, tetapi mari kita melengkapi mereka apa adanya”. Mari kita jabarkan kalimat ini agar kita semakin mudah memahami makna di baliknya.

Dalam konteks hubungan persahabatan atau bahkan persaudaraan, dua atau lebih pribadi yang unik bertemu satu sama lain. Pribadi-pribadi yang unik itu memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Kelebihan dan kekurangan itu bisa sama bentuknya atau berbeda sama sekali. Apapun bentuknya, yang pasti kelebihan dan kekurangan sesosok pribadi secara perlahan akan diketahui dan disikapi oleh pribadi yang lain. Pada saat inilah, kita sering mendengar kalimat bijak yang kurang lebih berbunyi seperti ini: “Kalau dia adalah sahabatmu, kamu harus belajar untuk menerima dia apa adanya”. Banyak ragam kalimat bijak yang senada dengan ini, tetapi kita bisa mengambil satu frase kuncinya, yaitu “menerima apa adanya”.

Frase “menerima apa adanya” sudah sering kita dengar dan biasanya kita tidak “bermasalah” dalam memahami dan melaksanakannya. Frase ini sangat wajar dan kita semua pasti setuju dengan makna umumnya. Ya, kita memang harus menerima kelebihan dan kekurangan sahabat kita dengan lapang dada dan rela hati. Saya juga merasa tidak “bermasalah” dengan frase ini hingga pada suatu ketika saya medapatkan taushiyah tentang frase lain yang lebih menarik. Frase itu adalah “melengkapi apa adanya”.

(lagi…)