jump to navigation

Karena Mawar Bukanlah Melati November 29, 2007

Posted by alfikr in Tentang Cinta.
4 comments

Allifandra merenungi dirinya sendiri. Dalam sendirinya, ia mencoba menghamparkan segenap alpa yang telah dibuatnya hari ini. Tiba-tiba butir air bercahaya bagai kristal di pelupuk matanya. Suara ratapnya memecah suasana Isya dan kebekuan air matanya . Tiada sungai air mata, tetapi sungai-sungai tanya mengalir deras di hatinya. Ribuan kubik kata “mengapa” menjadi arus yang mencari hilir kedamaian, yang terlempar ke sana kemari di antara batu-batu yang gagah merintangi…

“Sudahlah Alli. Jangan jadikan masa lalumu pakaian kebesaran yang hendak kau kenakan untuk pesta esok hari. Cukuplah ia menjadi bukti kedewasaan yang menuntunmu untuk memilih. Karena esok harimu adalah masa depanmu. Pesta masa depanmu adalah sesuatu yang terindah, yang mungkin belum pernah terpikirkan olehmu. Boleh jadi, Allah merahasiakannya saat ini, karena Dia ingin mengujimu. Dia ingin Tahu, seberapa besar kepasrahanmu kepada-Nya. Dia ingin Tahu seberapa besar engkau bergantung pada-Nya. Dia ingin Tahu, seberapa besar engkau memahami Kemutlakan Dzat-Nya di antara berjuta kenisbian di sekitarmu. Satu hal lagi Alli, segala keputusan di langit dan bumi ada di Tangan-Nya. Apabila Dia ingin memberikan mawar kepadamu, maka Dia tidak akan salah dengan memberikan melati…”

“Siapakah engkau?”, teriak Allifandra dalam hatinya. “Aku adalah suara hatimu, Alli”. “O suara hati, yang engkau katakan memang benar”, cukup berat Allifandra mengiyakan. Kemudian keluhnya tercurah lagi: “Tetapi mengapa, mengapa masa laluku masih membayang… Ketika hikmah yang ingin kupahami, terlintas pula sebuah kenangan… Kenangan itu seolah ingin kuulang kembali. Ketika aku menatap esok hari, mentari pagi kuharapkan, tetapi seolah-olah aku tak mau bulan yang kukagumi malam tadi…pergi…”

(lagi…)

Setiap Detik Kita Bisa Membina Diri November 28, 2007

Posted by alfikr in Inspirasi.
4 comments

Berbicara tentang pembinaan di lingkungan organisasi dakwah atau bahkan dimanapun adalah seperti mengambil air dari lautan. Ketika pun kita mengambil air itu berulang kali, air laut itu seakan tidak berkurang volumenya. Begitu pula saat kita berdiskusi tentang pembinaan yang seakan-akan tidak ada habis-habisnya. Diskusi tersebut terus berkembang, seringkali sarat dengan wacana yang beragam tentang makna pembinaan itu sendiri, dan sepertinya sampai kapan pun bisa menjadi bahan diskusi yang menarik (iya gituh? J). Meskipun demikian, kita tentunya sepakat bahwa yang lebih penting adalah bagaimana kita melaksanakan pembinaan itu dan bagaimana setiap aktivitas pembinaan dapat memberi manfaat yang sebesar-besarnya untuk kita. Nah, pada rubrik ini, kita akan coba menyoroti pembinaan dari sebuah sudut pandang yang mudah-mudahan bisa menjadi bahan renungan sahabat-sahabat semua. Selamat membaca.

Apa sih “pembinaan” itu?

Kata “pembinaan” berasal dari kata dasar “bina” yang ternyata berasal dari bahasa Arab. Kata “bina” merupakan serapan dari kosakata Arab “binaa-an” yang merupakan bentuk mashdar (kata benda yang berasal dari kata kerja -red) kata “banaa-a – yabna-u”. “bana-a – yabna-u” masing-masing adalah fi’il madhi dan fi’il mudhari’ yang berarti “membangun”. Jadi, “membina” atau “pembinaan” dapat diselaraskan dengan “membangun” atau “pembangunan”. Membina diri berarti membangun diri dan membina adik berarti membangun adik.

Apa yang pertama kali kita pikirkan ketika mendengar kata “membangun”? Setidaknya, kita akan membayangkan ada banyak komponen (kecil) yang kemudian akan digabungkan sedemikian rupa sehingga membentuk sesuatu yang lebih besar, lebih indah, dan tentunya lebih bermakna. Misalnya, kita mengambil contoh aktivitas membangun rumah. Apa dan siapa saja yang terlibat dalam pembangunan rumah? Pertama, pasti ada bahan-bahan bangunan seperti batu pondasi, kayu, pasir, semen, dan batu bata. Kedua, tentu juga ada alat-alat pertukangan untuk mengolah bahan-bahan bangunan tadi, seperti paku, palu, gergaji, pengaduk semen dan pasir, dan masih banyak lagi. Ketiga, tukang-tukang bangunan yang akan bekerja siang malam untuk membangun rumah tersebut di bawah pengawasan seorang mandor. Nah, kita sudah mengurai tiga kelompok komponen besar dalam pembangunan rumah. Kira-kira masih ada lagi ga’ ya? Ya, masih ada. Rumah tersebut tentunya tidak akan dibangun seenak perut tukang bangunan atau perutnya Pak Mandor, tetapi terlebih dahulu ada orang yang merancang arsitektur rumah tersebut sehingga sesuai dengan keinginan sang calon pemilik rumah. Semua aktivitas pembangunan rumah dilakukan berdasarkan rancangan tersebut agar rumah itu dapat difungsikan dengan sebagaimana mestinya.

(lagi…)

Bentang di Antara Dua Hati November 24, 2007

Posted by alfikr in Tentang Cinta.
add a comment

Anda pernah marah? Jika ya, coba ingat-ingat kembali momen-momen ketika Anda meluapkan kemarahan. Apakah ada perilaku umum yang sering berulang saat Anda marah? Apa kira-kira?

Hmm…semoga Anda sepakat dengan saya. Ketika kita sedang marah, maka perilaku umum yang sering kita tampilkan adalah bersuara keras, entah pada saat kita memaki-maki diri sendiri, membentak-bentak objek kemarahan kita, atau pada saat kita berteriak-teriak sambil merusak barang-barang di sekitar kita (melempar piring misalnya J). Bahkan, kalaupun pada saat marah Anda diam seribu bahasa, hati Anda sebenarnya juga berteriak-teriak meskipun tak terdengar oleh Anda sendiri dan orang lain. Teriakan suara hati ini menurut saya termasuk dalam kategori bersuara keras.

Nah, boleh jadi tidak banyak di antara kita yang pernah bertanya: mengapa saat marah kita bersuara keras, padahal orang-orang yang menjadi sasaran kemarahan kita berada tak jauh dari kita? Bukankah sebenarnya kita cukup bersuara dengan volume sedang atau pelan pada saat “menyampaikan” kemarahan kita, karena toh orang-orang yang kita marahi tidaklah budek?

Kalau kita perhatikan, pertanyaan-pertanyaan di atas seolah-olah tidak penting dan terkesan mengada-ada. Marah aja kok repot, pake dianalisis segala kenapa volume suara kita menjadi keras saat marah?, mungkin ini komentar kita saat disodori pertanyaan-pertanyaan tersebut. Nah, sebelum kita berkomentar lebih jauh, ada baiknya kita baca kisah sederhana berikut ini (kalau Anda sudah pernah membacanya, silakan dibaca lagi ya). Setelah membacanya, semoga kita tidak merasa membuang-buang waktu ketika merenungkan kembali pertanyaan-pertanyaan “konyol” di atas.

(lagi…)

Impian Si Katak November 24, 2007

Posted by alfikr in Tentang Cinta.
2 comments

Saya dapet inti cerita ini dari rekan saya. Nah, die sendiri dapet cerita ini dari rekannya yang ternyata berprofesi sebagai programmer. Saya juga ga ngerti, kenapa ya cerita ini menjadikan seorang programmer sebagai pemeran utamanya?! :p. Anyway, this is the story.

Suatu hari seorang programmer muda menemukan seekor katak. Ia melihat ada sesuatu yang berbeda pada katak itu. Karena tertarik, sang programmer mengambil katak itu dan memasukkannya ke dalam kantung plastik. Katak itu pun sepertinya begitu senang berada di dekat sang programmer.Tak lama kemudian, sesuatu yang ajaib terjadi. “Wahai pemuda, sebenarnya saya adalah seorang putri yang sangat cantik”. Sang programmer kaget bukan main mendengar suara yang berasal dari kantung plastik yang ditentengnya itu. Ternyata, si katak bisa bicara dan ngaku-ngaku kalau dirinya adalah putri yang cantik.

Sang programmer segera membuka kantung plastik, mengeluarkan si katak, lalu meletakkannya di atas telapak tangannya. “Benar, Tak?”, sergah sang programmer menuntaskan keheranannya. “Ya, pemuda. Saya akan berubah wujud menjadi seorang putri yang cantik kalau kau bersedia mencium saya”. Walah, nyium katak,hiiii..?”, pikir sang programmer dalam hati.

(lagi…)

Saat Gundah Berdiam di Hati November 22, 2007

Posted by alfikr in Tentang Cinta.
add a comment

Pernahkah Anda merasa gundah gulana atau khawatir? Saya yakin kita semua pernah merasa khawatir meski intensitas dan frekuensi kekhawatiran berbeda antara satu orang dengan orang lainnya. Jenis kekhawatiran itu pun bermacam-macam, mulai dari kekhawatiran yang berorientasi pada diri sendiri (khawatir gagal dalam UTS/UAS/SPMB, khawatir terjatuh, khawatir kalah, dsb) sampai kepada kekhawatiran yang berorientasi pada orang lain/lingkungan (khawatir mengecewakan orang lain, khawatir akan keselamatan orang lain, dsb). Apapun, kapanpun, dan dimanapun kita berada saat kekhawatiran itu muncul dari dalam hati kita, maka seyogyanya kita berikhtiar untuk menyikapinya secara tepat dan mencegah diri kita agar tidak terhanyut ke dalamnya.

Saudaraku,
Sebenarnya cara untuk menyikapi kekhawatiran itu terangkai dalam kata-kata yang cukup sederhana, tetapi memang terkadang berat dan butuh kesabaran serta keistiqamahan dalam menjalankannya. Kata-kata itu adalah “ikhtiar, doa, dan tawakkal”. Saya yakin sebagian besar dari kita memahami kata-kata ini.
Ikhtiar, doa dan tawakkal adalah beberapa entitas yang memang sudah menjadi kewajiban kita sehari-hari. Kekhawatiran yang kontraproduktif akan muncul ketika kita tidak sabar dan istiqamah dalam berproses melalui ketiga entitas tersebut. Kita tidak akan sabar dan istiqamah, kecuali kita terus berusaha untuk memahami: mengapa kita harus ikhtiar, mengapa kita berdoa, dan mengapa kita bertawakkal.

(lagi…)

Qurratu A’yun November 20, 2007

Posted by alfikr in Puisi.
1 comment so far

Seperti Musa alaihissalaam
Yang bertelekan di dalam keranjang kecil
Terbawa tenangnya Nil mengalir
Hingga tergapai permaisuri Fir’aun
“Inilah bayi kecil, penenang hatiku dan hatimu”
“Jangan kau sakiti dia”
“Alangkah bahagianya bila ia menjadi permata kita” 

Begitulah jua dirimu
Penenang hati, penyejuk mata hatiku
Itulah doa yang selalu kupanjatkan
Kepada-Mu

Kecantikanmu bercahaya
Dari hatimu yang berakhlak mulia
Kesempurnaanmu terpancar
Dari keikhlasanmu menatap anugerah-Nya
Di setiap sudut jiwa dan ragamu, jiwa dan ragaku

Kasih sayangmu terwujud indah
Dengan belai tangan yang mengusap perlahan
Kening-kening kecil yang lugu, tertawa ceria, di antara kita
Kehormatanmu membuatku terpana
Saat kau jaga kami selembut senyumanmu
Dan aku pun merunduk bersyukur

Wahai penyejuk mata, sebaik-baik perhiasan dunia
Penghambaanmu membuatku bangkit
Bersama saling menguatkan, saling mengingatkan
Membawa permata hati, penyejuk hati kita
Meniti jalan yang panjang
Ke satu tujuan…

Ruang-Ruang Kehidupan November 20, 2007

Posted by alfikr in Inspirasi.
1 comment so far

Saya menemukan sebuah artikel bagus tentang “Manajemen Waktu” di komputer kantor saya. Saya modifikasi sedikit di beberapa bagian dan kini saya sajikan untuk Anda.

Suatu hari seorang ahli manajemen waktu berbicara di depan sekelompok mahasiswa bisnis. Ia tidak berceramah panjang lebar tentang manajemen waktu, tetapi ia memilih untuk menunjukkan sebuah ilustrasi sederhana. Ilustrasi itu begitu luar biasa sehingga tidak akan dengan mudah dilupakan para siswanya.

Ketika dia berdiri di hadapan siswanya dia berkata, “Baiklah, sekarang waktunya kuis.” Kemudian dia mengeluarkan toples berukuran satu galon yg bermulut cukup lebar dan meletakkannya di atas meja. Lalu ia juga mengeluarkan sekitar selusin batu berukuran segenggam tangan dan meletakkan dengan hati-hati batu-batu itu ke dalam toples.

Ketika batu-batu itu memenuhi toples sampai ke ujung atas dan tidak ada batu lagi yang bisa masuk ke dalamnya, dia bertanya, “Apakah toples ini sudah penuh?” Semua siswanya serentak menjawab, “Sudah.”

Kemudian dia berkata, ” Benarkah? Dia lalu meraih dari bawah meja sekeranjang kerikil. Lalu dia memasukkan kerikil-kerikil itu ke dalam toples sambil sedikit mengguncang-guncangkannya, sehingga kerikil itu mendapat tempat di antara celah-celah batu.

Lalu ia bertanya kepada siswanya sekali lagi, “Apakah toples ini sudah penuh?”

(lagi…)

The Ultimate Meaning di Balik Idealisme Mahasiswa November 10, 2007

Posted by alfikr in Nasional.
2 comments

Waktu yang Anda miliki selama menjadi mahasiswa terlalu berharga untuk dilewati “hanya” dengan rajin kuliah. Beraktivitas di wilayah ekstrakurikuler (ekskul) adalah pilihan bijak untuk mendampingi aktivitas kuliah di kampus agar keberhargaan masa kuliah bisa kita raih secara optimal. Dimana sebenarnya letak keberhargaan masa kuliah kita? Boleh jadi banyak yang menjawab bahwa letaknya ada pada prestasi akademik yang cemerlang, aktualisasi diri yang optimal, pergaulan yang bertambah luas, kemampuan mencari pekerjaan yang baik setelah lulus, wawasan yang bertambah, pengalaman organisasi yang banyak, popularitas sebagai aktivis, dan masih banyak alasan lain yang menjadi jawaban.

Menurut saya, sayang sekali kalau kita kuliah dan ber-ekskul ria hanya untuk memenuhi jawaban-jawaban di atas. Sebab, semua hal duniawi itu pada umumnya memenuhi hukum kausalitas. Artinya, sebagian besar atau semuanya insya Allah bakal kita dapatkan seiring perjalanan waktu yang kita tempuh secara bersungguh-sungguh di setiap kegiatan akademik dan ekskul. Kita jangan berhenti pada hal-hal tersebut saja. Kita harus mencari sesuatu yang lebih hakiki dan lebih berarti dari semua itu. Meminjam istilah Ary Ginanjar Agustian, menurut saya kita harus menemukan the ultimate meaning (makna tertinggi) yang menembus batas-batas duniawi, sebagai puncak keberhargaan masa kuliah kita. Penemuan the ultimate meaning di masa kuliah merupakan satu episode pendek dari serangkaian episode panjang penemuan the ultimate meaning dari hidup kita. 

Penemuan the ultimate meaning bagi seorang mahasiswa adalah wujud kesadaran spiritualnya bahwa masa kuliah adalah masa peletakan nilai-nilai kemanusiaan tingkat lanjut yang akan menjadi pondasi kehidupannya di kala dewasa, bukan sekedar rentang waktu untuk mencari nilai akademik terbaik dan memperpanjang Curriculum Vitae dengan sederet pengalaman kegiatan dan prestasi ekskul. Ketika “pondasi” tersebut tidak kuat atau salah susun, maka kehidupan masa dewasanya pun terancam goyah.

The ultimate meaning secara umum berpangkal pada kebutuhan primordial semua manusia, yakni keharmonisan antara tujuan penciptaan kita oleh Sang Khalik dengan aktivitas kita sebagai makhluk. Parameter abstrak yang menunjukkan keharmonisan itu adalah Ridha Allah. Selanjutnya, konsepsi Ridha Allah bisa kita turunkan sesuai dengan kapasitas kita. Apabila kita sebagai mahasiswa, maka sedapat mungkin kita arahkan seluruh aktivitas akademik dan ekskul kita agar Allah berkenan meridhai kita.  

Aktivitas akademik adalah yang utama bagi kita dan aktivitas ekskul kita niatkan untuk mengakselerasi penemuan the ultimate meaning. Setiap kita memiliki hak untuk mendefinisikan the ultimate meaning masing-masing asal tetap berpangkal pada kebutuhan primordial tadi.

Saya memandang aktivitas ekskul sebagai proses untuk mengakselerasi penemuan the ultimate meaning; mengapa demikian? Ya, karena setiap fragmen kehidupan yang kita lalui selama beraktivitas non-akademik ini penuh dengan sentuhan-sentuhan emosional dalam lingkup hubungan antar manusia dan hubungan manusia dengan realitas kehidupan. Sentuhan-sentuhan ini secara langsung atau tidak langsung memotivasi kita untuk meresapi beragam hikmah yang sangat sulit kita temui di ruang-ruang kuliah, padahal hikmah-hikmah itu sangat kita butuhkan untuk menempa kedewasaan kita. Perenungan hikmah-hikmah itulah yang mengaktifkan kesadaran spiritual kita. Nah, kenyataan ini juga berimplikasi terhadap proses kuliah yang kita jalani.

Semakin kita terbiasa meresapi hikmah-hikmah non-akademik, maka kita seharusnya terbiasa pula untuk mengekplorasi hikmah baru yang berhubungan dengan suatu mata kuliah meski tidak dijelaskan secara eksplisit saat kuliah tersebut berlangsung. Pada gilirannya, kita memiliki peluang besar untuk memaknai kuliah kita dari berbagai sudut pandang, bukan sekedar memiliki kesempatan untuk meraih nilai A.  

Akumulasi dari hikmah yang kita dapatkan, baik dalam kegiatan akademik maupun ekskul, adalah informasi yang sangat penting bagi kita untuk merumuskan the ultimate meaning. Apa yang kita lakukan saat merumuskan the ultimate meaning adalah mengkombinasikan berbagai hikmah yang telah kita dapatkan sehingga kita mampu menyimpulkan “redaksi” the ultimate meaning kita sendiri.

Satu Mutiara di Perjalanan Menuju The Ultimate Meaning

Saudaraku,
Perjalanan yang kita tempuh dalam usaha penemuan the ultimate meaning bagaikan sumber mutiara yang terus memancarkan kilaunya. Di setiap kilometer yang kita tempuh, akan ada saja hasil perenungan yang begitu dalam (minimal bagi diri kita sendiri) dari sesuatu yang kita anggap sepele, biasa, atau kurang penting.  Sehubungan dengan itu, saya ingin berbagi kepada Anda mengenai satu dari sekian banyak “mutiara” di perjalanan. Pada kesempatan ini, saya ingin menyampaikan “mutiara” yang saya temukan di dasar samudera “Komunikasi”.  

Komunikasi adalah aspek yang sangat penting dalam organisasi apa pun, dimana pun dan kapan pun. Di organisasi yang saya ikuti semasa kuliah (mungkin juga di kebanyakan organisasi), masalah pada aspek ini seringkali menjadi sebab inefektivitas atau inefisiensi aktivitas organisasi. Kita seringkali “menyalahkan” aspek yang satu ini apabila terjadi sekian banyak masalah teknis di lapangan.

Idealnya, komunikasi yang efektif menjadi pangkal pemecahan berbagai masalah organisasi. Karena sedemikian pentingnya, materi “komunikasi efektif” menjadi materi dasar yang wajib dipelajari dan diaplikasikan oleh semua pengurus organisasi. Pada intinya, setiap pengurus harus memiliki kemampuan untuk menyampaikan informasi kepada komunikan sedemikian sehingga komunikan itu menangkap informasi dengan baik, memahaminya, dan meresponnya secara relevan berdasarkan isi informasi dan maksud penyampaiannya.  

“Komunikasi efektif” memang menjadi materi dasar bagi setiap pengurus organisasi dan biasanya diberikan pada awal kiprah si pengurus. Namun ironisnya, kita sebagai para pengurus organisasi seringkali lengah dalam aspek ini sehingga komunikasi justru menjadi tidak efektif dan berbagai masalah pun bermunculan. Mengapa demikian? Hmm…boleh jadi kita belum meraih “efek-efek tersirat” dalam suatu proses komunikasi!

Saudaraku,
Komunikasi efektif seyogyanya tidak sekedar identik dengan “komunikan menangkap, memahami dan melaksanakan pesan komunikator dengan baik dan benar”. Namun, komunikasi lah yang seharusnya juga menjadi cahaya pengetahuan sehingga komunikan dan komunikator  memahami bahwa “ini” baik dan benar serta “itu” tidak baik dan tidak benar. Komunikasi lah yang seharusnya juga melahirkan motivasi sehingga komunikan dan komunikator mau dan mampu mengerahkan kontribusi terbaik kapan dan dimana pun. Komunikasi lah yang seharusnya juga menghadirkan empati sehingga komunikan dan komunikator semakin bijak menempatkan diri dalam suasana diri  dan memahami kondisi satu sama lain. Komunikasi lah yang seharusnya juga meluruskan persepsi sehingga komunikan dan komunikator yakin bahwa apa yang mereka pikirkan tentang berbagai hal di lingkup organisasi itu sesuai dengan kondisi sebenarnya. Komunikasi lah yang seharusnya juga menjadi sarana muhasabah jama’i karena dengan itu komunikan dan komunikator saling mengingatkan dan menasehati. Hal-hal inilah yang saya namakan sebagai “efek-efek tersirat” yang seharusnya hadir dalam proses komunikasi. 

Salah satu hambatan dalam meraih “efek-efek tersirat” dalam komunikasi adalah kebiasaan memendam berbagai hal yang seharusnya dikomunikasikan. Terlepas dari karakter kita masing-masing, sikap “memendam” masalah-masalah yang signifikan dalam lingkup sistem organisasi bukanlah sesuatu hal yang tepat untuk dipilih. Oleh sebab itu, kita harus pandai-pandai memilah dan memilih mana masalah pribadi dan mana masalah yang menyangkut sistem organisasi. Masalah pribadi bisa kita pendam atau kita curhat-kan kepada orang lain. Namun, masalah yang menyangkut sistem organisasi, tidak bisa tidak, harus kita komunikasikan.

Saudaraku,
Kalau Anda perhatikan, sebenarnya bukanlah komunikasi  yang bisa menyelesaikan segenap masalah keorganisasian. Namun, komunikasi lah yang menghasilkan pengetahuan yang dibutuhkan, motivasi terbaik, empati yang diharapkan, persepsi yang lurus, dan semangat perbaikan diri dan organisasi yang senantiasa mantap. Hal-hal inilah sebagai entitas penting yang memudahkan kita dalam menyelesaikan segenap masalah. Dengan demikian pula, insya Allah komunikasi tidak hanya berperan sebagai proses penyampaian pesan belaka, tetapi menjadi washilah pula untuk mendapatkan mutiara hikmah yang luar biasa banyaknya. Kita bisa belajar banyak hal, bahkan hanya dari satu sesi komunikasi saja.

Wallaahu a’lam.

Saudara Kandung November 10, 2007

Posted by alfikr in Tentang Cinta.
3 comments

Siapakah orang-orang yang paling spesial dalam hidup Anda? Tentu Anda memiliki jawaban masing-masing. Siapapun yang Anda anggap spesial, pastilah Anda pernah atau seringkali mengalami saat-saat yang mengesankan dan tak kan terlupakan bersama mereka.

Sahabat-sahabat Anda, apakah mereka begitu spesial bagi Anda? Saya yakin jawabannya adalah: “Tentu saja. ‘Sahabat’ adalah predikat bagi teman yang bukan sekedar teman. Ada suatu ikatan persaudaraan yang amat kuat dan begitu indah di antara dua orang sahabat. Ya…, suatu ikatan yang kekuatannya seringkali menyamai (atau bahkan lebih dari) ikatan nasab ”.

Keluarga Anda, apakah mereka begitu spesial bagi Anda? Saya yakin jawabannya adalah: “Ya iya lah…”. Ketika kita lahir sebagai bayi kecil, maka keluarga adalah yang pertama kali menyambut kita. Orang tua kita dan kakak-kakak kita lah yang senantiasa mendampingi kita dengan kasih sayang mereka. Apabila kita mempunyai adik, maka kita pun mencurahkan segenap kecintaan kita kepadanya. Namun, apa yang sering terjadi kita kita beranjak dewasa? Kita menempuh pendidikan di luar kota atau bahkan di luar negeri. Kemudian, mungkin kita bekerja di perantauan yang jauh dari rumah kita sendiri. Kita selanjutnya bertemu sahabat-sahabat setia di tempat kita beraktivitas dan akhirnya menganggap mereka sebagai saudara sendiri.

Saat kehangatan begitu terasa di tengah-tengah lingkaran persahabatan, pernahkah kita merenungkan kembali keberartian keluarga, khususnya saudara-saudara kandung, yang sudah lama tak bersua? Satu hal yang pasti, mereka lah yang paling mengenal kita (setelah orang tua) meskipun kita tidak menyadarinya. Mereka lah yang telah Allah tanamkan benih cinta dan pengetahuan tentang bagaimana kita sebenarnya. Mungkin mereka lebih jarang memuji atau mengkritik kita daripada sahabat-sahabat kita sendiri, tetapi mereka lah yang paling tahu sisi-sisi positif dan negatif diri kita yang paling mendasar meski kita tak pernah membicarakan sisi-sisi itu dengan mereka dan mereka pun tak pernah bertanya.

Saudara kandung seringkali tidak memuji atau mengkritik dengan kata-kata, tetapi mereka memuji dan mengkritik dengan perhatian dan cinta yang tak pernah lekang. Kita mungkin seringkali tak menyadari ketika mereka memuji atau mengkritik kita, tetapi kita begitu mampu menangkap pesan-pesan itu melalui perubahan perilaku kita. Kita menjadi sangat termotivasi untuk memperbaiki diri meski kita jarang mengucapkan kepada mereka: ”Terimakasih ya kak, kakak sudah memotivasi saya” atau ”Terimakasih ya dek, adek sudah memotivasi saya”. Hmm…sebaliknya, kita mungkin begitu sering mengucapkan ungkapan terimakasih kepada sahabat-sahabat kita di kampus atau di organisasi yang telah banyak menyampaikan hikmah-hikmah kehidupan dengan kalimat-kalimat terindah.

Saat kita merenungkan keberartian saudara-saudara kandung kita, mari kita yakinkan diri bahwa merekalah orang-orang pertama yang paling berjasa dalam kehidupan kita. Mereka telah memberikan pelajaran dan motivasi yang sangat berharga meskipun kita menganggapnya ”hanya” sekedar ungkapan cinta sesama saudara yang terikat nasab. Kita mungkin sering berujar (minimal dalam hati): ”Wajar, dong, dia sayang ama gue. Dia kan kakak/adik gue” atau ”Sikap kakak/adik gue terhadap gue baik, tapi kaya’nya wajar-wajar aja. Namanya juga kakak/adik sendiri”. Hmm…mari kita renungkan lagi, bahwa di balik kewajaran sikap saudara kandung kita, di balik sikap mereka yang terkesan”biasa-biasa saja”, tersimpan sebuah harapan agar kita menjadi yang terbaik dan tersimpan sejumlah nasihat yang seringkali sulit dilukiskan dengan kata-kata.

Jangan segan-segan untuk mengingat kembali saat-saat yang begitu bermakna bersama saudara-saudara kandung kita dan jangan pula berhenti berharap agar saat-saat itu terus kita alami hari ini dan esok. Seperti Anda yang telah dan terus akan mengalami saat-saat yang penuh makna bersama saudara-saudara kandung Anda, saya pun demikian adanya.

Cerita Tiga Wanita

Semoga Allah memudahkan saya untuk bersyukur kepada-Nya dan melindungi saya dari ketinggian hati dengan apa yang akan saya ceritakan berikut ini. Semoga cerita berikut menjadi sumber motivasi buat saya pribadi dan mudah-mudahan untuk Anda juga. Semoga pula, apa yang saya ceritakan ini tidak menyeret saya ke dalam ’jurang’ ghibah. Aamiin.

Saya ingin bercerita sedikit tentang ketiga orang kakak perempuan saya. Setelah ibu dan ayah saya, mereka lah yang paling berjasa sehingga menjadi washilah pembentukan kepribadian saya saat ini. Kakak saya yang pertama, dia lah si sulung yang tak jauh berbeda dari semua anak sulung di setiap keluarga. Si sulung memiliki perasaan yang sangat sensitif, jauh melebihi sensitivitas adik-adik perempuannya. Dari sensitivitas itu, hadir cinta yang lembut melindungi dan rasa khawatir pertanda sayang. Begitu lah kakak pertama saya. Dia lah sosok pemimpin dan penjaga bagi adik-adiknya. Dia lah yang tak sungkan memandikan saya ketika saya baru masuk sekolah dasar. Dia lah yang paling keras dan tegas di antara kedua kakak saya yang lain ketika mengurus ketiga adiknya, terutama saya si bungsu. Namun di balik sifat keras dan tegas itu, tersimpan kasih sayang yang begitu lembut. Sampai saat ini, perhatian dan cinta si sulung tak berkurang kepada kami. Dia lah si sulung yang tak pernah absen mengecek kondisi orang tua dan adik-adiknya ketika berada di lokasi yang cukup jauh. Sebuah pesan singkat yang dia kirimkan ke telepon seluler saya terasa begitu sederhana, lugas, dan singkat: ”Masih di kantor? Lembur ya?” Hmm… saat saya renungkan lagi, pesan yang sederhana itu mendadak berubah menjadi sesuatu yang begitu berarti.

Kakak saya yang kedua, dia lah kakak yang paling penyabar. Dia memang tak sekeras dan setegas si sulung, tetapi justru kelemahlembutannya menjadi harmoni kasih sayang di antara kami. Saat saya masih kecil, dia lah yang cukup sering membantu ibu mempersiapkan kebutuhan-kebutuhan saya. Dia memang persis ibu saya. Masih segar dalam ingatan saya sewaktu saya mengerjakan makalah sebagai tugas mata pelajaran Agama Islam kelas I SMU. Kala itu saya bisa dikategorikan sebagai pengetik komputer pemula sehingga kesalahan kecil saya anggap sesuatu yang besar. Entah mengapa, tanpa sengaja saya menghapus semua tulisan di layar komputer yang sudah berpuluh-puluh halaman itu. Sayangnya, saya tidak bisa ’menghadirkan’ kembali ribuan huruf yang menyusun makalah tersebut. Semua hilang begitu saja. Saya sangat bersedih sampai akhirnya menangis karena sekitar dua hari lagi makalah itu harus dikumpulkan. Belum kering air mata yang mengalir di pipi, kakak kedua saya berusaha membantu saya untuk mengetikkan kembali makalah itu. Dengan sabar dan tenang, ia meminta saya menyiapkan buku-buku referensinya. Dia pun mengambil posisi di depan komputer dan mulai memainkan jari-jarinya di atas keyboard. Saat itu saya masih shock; masih terbayang dalam benak saya ratusan paragraf yang lenyap dalam sekejap, padahal saya membutuhkan waktu lebih dari seminggu untuk menyusunnya.

Kakak kedua saya mungkin tidak menyadari bahwa langkah sederhana yang penuh cinta itu berhasil meledakkan motivasi saya. Saya kembali bersemangat untuk mengerjakan makalah itu. Alhamdulillah wa asyukuru ilallah, saya berhasil menyelesaikan makalah itu dalam sisa waktu yang singkat. Meskipun hasil akhirnya tidak sebanyak sebelumnya, saya justru berbahagia karena dapat menyajikannya dengan padat tanpa kehilangan poin-poin pentingnya. Inilah yang mungkin menjadi hikmah dari peristiwa tersebut. Segala puji bagi Allah yang telah menghadirkan cinta, cinta yang membuahkan motivasi untuk mencapai hasil yang jauh lebih optimal, cinta yang melahirkan kesadaran bahwa selalu ada hikmah yang menunggu untuk diraih.

Berbeda dengan kakak pertama dan kedua, sosok kakak ketiga saya adalah pribadi yang rada serius tapi santai. Karena jarak usianya paling dekat dengan saya, maka jadilah dia teman main dan teman berantem saya sewaktu kecil. Saat bermain petak umpet, takadal, dan permainan anak-anak lainnya dengan serombongan anak kecil di komplek perumahan tempat saya tumbuh, hampir selalu ada saya dan kakak saya yang ketiga ini.

Saat pukulan dan tendangan dari tangan dan kaki yang mungil melayang ke sana kemari di dalam rumah, berarti saat itu saya sedang adu fisik dengan kakak ketiga saya (he..he..tapi ga sadis-sadis amat kok, ga ampe benjol, paling cuma bikin nangis doing [saya yang nangis maksudnya, he…he :P ]).

 

Kegembiraan yang hadir saat bermain bersama dan emosi yang meluap saat berkelahi dengan kakak ketiga saya di masa kecil berhasil menjadikannya sebagai saudara kandung yang paling dekat dengan saya. Kalau dipikir-pikir, kakak ketiga memang tidak terkesan sebagai pengayom seperti kakak pertama dan kedua, tetapi justru di sinilah letak keistimewaannya. Posisinya sebagai ‘teman’ membuat saya belajar banyak tentang arti persaudaraan. Ada kalanya timbul kegembiraan dan ada kalanya muncul kejengkelan di antara kami, tetapi semua ini justru membuat kami semakin dekat. Gembira dan jengkel tak lebih dari sekedar warna-warna dalam ikatan persaudaraan. Ketika cinta yang mendasarkannya, maka warna-warna itu berpadu begitu rupa menggoreskan keindahan yang khas di dalam hati. Inilah pelajaran yang saya dapatkan dari kakak ketiga.

Terus terang, keberartian ketiga kakak perempuan saya baru benar-benar saya renungkan ketika kami beranjak dewasa. Saat ini sebagian besar dari mereka telah menikah dan punya anak. Meskipun demikian, alhamdulillah saya tidak merasa kekurangan kasih sayang dari mereka di tengah-tengah kesibukan mereka bekerja, mengurus suami, dan mengasuh putra-putrinya tercinta. Kasih sayang mereka tidak hilang atau berkurang, tetapi mewujud sedemikian rupa ke dalam bentuk yang berbeda. Mereka memang tidak lagi mengurus kebutuhan-kebutuhan saya seperti ketika saya masih kanak-kanak. Interaksi eksplisit di antara kami pun tak sesering dulu karena masing-masing sudah memiliki kesibukan tersendiri di lokasi yang berbeda. Namun, kasih sayang itu justru lebih mengesankan dan…semakin sulit untuk dilukiskan dengan kata-kata. Kesan itu hadir dengan sendirinya dan semakin indah ketika direnungkan kembali. Semoga Allah senantiasa memelihara kasih sayang di antara kita dan saudara kandung kita.

***

Cerita di atas bisa digolongkan sebagai ‘apa-apa yang indah’ dalam hubungan kita dengan saudara kandung. Boleh jadi, ada juga ‘kerikil-kerikil’ kecil yang menghambat laju cinta kita bersama mereka. Komentar salah satu teman saya di bawah artikel “Saudara Kandung (1)” patut menjadi bahan renungan berkaitan dengan kehadiran ‘kerikil-kerikil’ itu. Di setiap keluarga, boleh jadi terdapat saat-saat ketika kerikil itu kita temui juga. Ketika jalan dipenuhi kerikil, apa yang harus kita lakukan? Kita tidak mungkin berhenti karena waktu kehidupan terus berputar. Kita pun tidak mungkin berbalik ke belakang, karena waktu kehidupan terus bergerak maju ke depan. Yang bisa kita lakukan hanyalah melewati kerikil-kerikil itu dengan ikhtiar dan doa. Semoga kita tidak pernah menyerah untuk memperbaiki apa yang harus diperbaiki, menyingkirkan kerikil-kerikil itu agar jalan di hadapan mudah ditempuh, dan mencari permata di antara celah-celah kumpulan kerikil.

Bagaimanapun kondisi saudara kandung kita, mereka tetaplah manusia yang ditentukan Allah untuk bertalian darah dengan kita. Kehadiran mereka bukanlah suatu kebetulan, tetapi menjadi keputusan Allah yang penuh manfaat, baik manfaat yang tampak maupun tidak. Ketika Allah menetapkan seseorang sebagai saudara kandung kita, insya Allah dia lah yang terbaik dan paling tepat untuk kita.

Wallahu a’lam

Partisi-Partisi Ikhtiar November 10, 2007

Posted by alfikr in Inspirasi.
2 comments

Berat Suatu Beban

Saya membaca sebuah fragmen menarik di sebuah blog tentang kuliah manajemen stress yang diberikan oleh Stephen Covey (mungkin Anda sudah pernah membacanya di buku-buku Covey). Ceritanya kurang lebih sebagai berikut: 

Stephen Covey mengangkat segelas air dan bertanya kepada para siswanya: “Seberapa berat menurut perkiraan Anda segelas air ini?” Para siswa menjawab mulai dari 200 gram sampai 500 gram. Kemudian, Covey memberikan tanggapannya. “Ini bukan masalah berat absolutnya, tetapi tergantung berapa lama Anda memegangnya.”, sahut Covey.

“Jika saya memegangnya selama satu menit, tidak masalah. Jika saya memegangnya selama satu jam, lengan kanan saya akan sakit. Dan jika saya memegangnya selama satu hari penuh, mungkin Anda harus memanggilkan ambulans untuk saya. Beratnya sebenarnya sama, tetapi semakin lama saya memegangnya, maka bebannya akan semakin berat.”, kata Covey. 

“Jika kita membawa beban kita terus menerus, lambat laun kita tidak akan mampu membawanya lagi. Beban itu akan meningkat beratnya. Apa yang harus kita lakukan adalah meletakkan gelas tersebut, istirahat sejenak sebelum mengangkatnya lagi. Kita harus meninggalkan beban kita secara periodik, agar kita dapat lebih segar dan mampu membawanya lagi.”, lanjut Covey.

Intisari yang disampaikan oleh Covey dalam kuliah tersebut adalah cara yang sebaiknya ditempuh dalam menghadapi beban-beban kehidupan. Setiap jenis beban memiliki “wilyah pemenuhan”-nya sendiri. Jika wilayah pemenuhan suatu beban bercampur dengan wilayah pemenuhan satu atau lebih beban lainnya, maka risiko stress yang berkepanjangan akan menghantui. Sebagai contoh sederhana, misalnya kita diserahi setumpuk beban pekerjaan di kantor. Sepulangnya kita ke rumah dari kantor, maka sebaiknya beban itu tidak kita bawa ke rumah, karena wilayah pemenuhan beban itu adalah kantor, bukan rumah. Saat kita di rumah adalah saat kita “meninggalkan” beban pekerjaan kantor dan beristirahat sejenak sebelum “mengangkatnya” lagi dengan kesegaran yang lebih prima. Lebih jauh, mungkin di rumah kita pun memiliki beban tersendiri yang memang harus diselesaikan. Beban rumah pun jangan sampai dibawa ke ruang kerja karena hanya akan menurunkan produktivitas kita. 

Contoh lain yang lebih dekat dengan kehidupan mahasiswa adalah mengenai beban kuliah dan organisasi. Sebelum kita menuju ruang kuliah, kita harus sebisa mungkin “meninggalkan” beban amanah organisasi di sekretariat organisasi itu. Saat berada di ruang kuliah, kita harus sedapat mungkin “beristirahat” dari beban amanah kita di organisasi dan berkonsentrasi untuk memahami mata kuliah yang disampaikan. Begitu pula saat kita sedang beraktivitas di organisasi, jangan sampai beban-beban kuliah melemahkan semangat kita dalam menyelesaikan amanah-amanah organisasi.  

“Jembatan Beban”

Mencegah persinggungan “wilayah” pemenuhan beban mungkin bukan hal yang selalu mudah untuk dilakukan. Adakalanya suatu jenis beban kita anggap besar sekali sehingga “terpaksa” harus dipikirkan atau diselesaikan bukan di “wilayah” yang semestinya. Meskipun demikian, hal ini tentu saja akan menyebabkan produktivitas kita terus menurun jika kita biarkan begitu saja. Kita harus terus melatih diri agar lama-kelamaan persinggungan itu semakin kecil dan akhirnya hilang sama sekali. Saya menerapkan sebuah latihan sederhana yang saya sebut “Jembatan Beban” sebagai upaya untuk mengurangi efek persinggungan “wilayah-wilayah” pemenuhan beban kehidupan. 

Latihan “Jembatan Beban” bisa diterapkan ketika suatu beban dianggap cukup besar dan harus segera diselesaikan, tetapi kita merasa kekurangan waktu untuk menyelesaikan beban tersebut di “wilayah”-nya sendiri. Dalam penerapan latihan ini, kita harus mengidentifikasi rutinitas-rutinitas harian apa saja yang bisa dijadikan sebagai “jembatan beban”. Rutinitas-rutinitas itu haruslah yang berciri “tidak membutuhkan konsentrasi atau fokus yang tinggi”, misalnya mandi pagi dan sore, menumpang angkutan umum saat bepergian, menunggu pesanan makanan di warung, dan makan siang. Dengan demikian, kita tidak bisa dan tidak boleh menjadikan aktivitas ibadah ritual (seperti shalat dan berdoa), aktivitas kuliah, aktivitas bekerja di kantor, dan yang sejenisnya sebagai “jembatan beban”.

Selanjutnya, kita memanfaatkan waktu yang terlewati selama berada di “jembatan beban” untuk memikirkan beban besar yang belum sempat kita selesaikan atau melakukan aktivitas-aktivitas minor yang sekiranya dapat mendukung penyelesaian beban besar itu. Apa yang kita pikirkan adalah rencana-rencana berikutnya dalam penyelesaian beban itu kelak ketika kita kembali ke “wilayah” pemenuhannya. Jadi, bisa dibilang kita berusaha menghemat waktu penyelesaian beban itu. Ketika kita kembali ke “wilayah” pemenuhan beban tersebut, kita berharap bisa langsung melakukan aktivitas inti dalam rangka menyelesaikannya  tanpa perlu direpotkan dengan aktivitas-aktivitas minor atau harus berlama-lama memikirkan rencana penyelesaiannya dari nol.  

 

Saya ingin berbagi pengalaman tentang salah satu contoh latihan “Jembatan Beban” ini. Ceritanya adalah ketika saya sedang sibuk-sibuknya mengerjakan Tugas Akhir (TA). Kala itu, saya sedang lumayan pusing memperbaiki bug (kesalahan) pada kode program saya dan saya tidak bisa beralih ke hal yang paling pokok dari program saya jika bug itu masih ada, padahal deadline TA semakin dekat :( . Saya telusuri kembali baris-baris kode itu, kemudian saya renungkan kembali algoritmanya, saya ubah sedikit beberapa baris kode, lalu saya kompilasi ulang. Hal ini berulang kali saya lakukan, tetapi bug-nya masih adaaa aja. Nah, dalam kondisi rada stress seperti itu, tiba-tiba saya “sakit perut” dan “pengen ke belakang“. Selama (maaf) di kamar mandi, saya pelan-pelan berusaha merenungkan kembali bug itu. Alhamdulillah, saya dapat membayangkan solusinya ^_^. Setelah kembali duduk di depan layar monitor, saya mencoba menerapkan solusi tersebut dan…Alhamdulillah lagi, bug itu akhirnya berhasil dihilangkan. Jadi, tidak hanya perut yang “lega”, pikiran juga ikut lega…bo! :D . Alhamdulillah

Latihan “Jembatan Beban”, bagaimanapun juga, bukanlah alternatif solusi yang terbaik di setiap saat. Latihan ini hanyalah cocok dalam kondisi-kondisi yang cukup atau sangat urgen, itu pun kalau kita tidak memiliki alternatif lain yang lebih baik. Sebab, pada hakikatnya persinggungan wilayah pemenuhan beban tetap terjadi. Dalam hal ini, rutinitas harian yang menjadi “jembatan beban” lah yang menjadi “korban” persinggungan itu. Rutinitas tersebut memang biasanya tidak terganggu secara signifikan ketika kita menjadikannya sebagai “jembatan beban”, tetapi sejujurnya memang lebih enak apabila kita menjalankannya dengan santai tanpa harus “ditumpangi” beban yang cukup besar :) .

Selain itu, latihan “Jembatan Beban” ini sebenarnya memiliki sedikitnya tiga macam keterbatasan. Pertama, kita sebaiknya tidak menerapkan latihan ini jika kita bersama orang lain saat menjalankan rutinitas-rutinitas yang berpotensi sebagai “jembatan beban”. Misalnya, saat kita bersantap siang bersama para kolega, kita sebaiknya lebih memosisikan santap siang itu sebagai kesempatan berbincang ringan dengan mereka, bukan sebagai “jembatan beban” (kecuali bincang-bincang itu memang ditujukan untuk membahas si beban besar). Kedua, tidak selamanya latihan “jembatan beban” mampu menghasilkan solusi yang siap pakai sehingga bisa saja kita malah semakin pusing. Ketiga, latihan ini justru bisa menyebabkan turunnya produktivitas jika kita tidak bijak dalam menerapkannya. Misalnya, kita berlama-lama di kamar mandi hanya karena memikirkan beban besar yang kita bawa sebelum mandi. Nah, kalau seperti ini, bukan hanya produktivitas kita yang turun, kita pun akan menjadi sasaran kekesalan orang yang mengantre di luar kamar mandi :D

Dengan demikian, latihan “Jembatan Beban” pada hakikatnya berada pada garis transisi antara ketidakdisiplinan dan kedisiplinan dalam menyelesaikan beban-beban kehidupan. Dilihat dari sisi kedisiplinannya, maka latihan “Jembatan Beban” ini berfungsi sebagai pencegah agar suatu beban yang signifikan tidak masuk ke “wilayah” pemenuhan beban signifikan lainnya melalui pemanfaatan “jembatan beban”. Sementara itu, jika dilihat dari sisi ketidakdisiplinannya, latihan ini sewaktu-waktu bisa mengusik suasana rutinitas harian yang dijadikan “jembatan beban” sehingga mungkin saja menurunkan produktivitas kita.

Jika kita mampu memperkirakan bahwa setiap beban dapat dipenuhi di “wilayah”-nya masing, maka semoga kita mampu berdisiplin untuk tidak mencampurkan satu “wilayah” dengan “wilayah” lainnya dan otomatis kita tidak membutuhkan latihan “Jembatan Beban”. Jika suatu beban dianggap membutuhkan waktu penyelesaian lebih dari yang tersedia, maka boleh jadi kita memerlukan latihan “Jembatan Beban” ini. Ketika kita berniat menerapkan latihan “Jembatan Beban”, kita harus menyadari bahwa kita tidak boleh sering-sering atau berlama-lama berada di garis transisi ini. Mari kita jadikan garis transisi ini sebagai jalan untuk melangkah ke depan sehingga kita benar-benar berada di garis kedisiplinan dalam menyelesaikan beban-beban kehidupan kita. 

Penuhi Kembali “Gelas” Kita yang Kosong

Paradigma mengenai beban kehidupan yang disampaikan Covey atau pakar-pakar lainnya sebenarnya dan sesungguhnya telah terangkum sejak empat belas abad yang lalu di dalam al-Quran al-Kariim. Lebih dari itu, Allah memaktubkan dalam firman-Nya inti solusi dari masalah-masalah manajemen waktu yang dibicarakan para pakar sampai saat ini.  

Salah satu surat yang kandungannya mampu menjawab masalah penanganan beban kehidupan dengan sangat luar biasa adalah surat Al-Insyirah. Secara spesifik, inti solusi dari masalah tersebut tercantum pada ayat ke-7 dari surat ini yang secara umum diterjemahkan sebagai berikut:

“Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain”.

Menurut Quraish Shihab dalam buku “Wawasan Al-Quran”, kata faraghta pada ayat di atas (yang diartikan sebagai “selesai [dari sesuatu urusan]“) berasal dari kata faragha yang bermakna kosong setelah sebelumnya penuh, baik secara material maupun immaterial. Kata faragha ditemukan sebanyak enam kali dalam al-Quran dengan berbagai bentuk derivasinya, namun semuanya tetap merujuk pada makna yang sama. Sebagai contoh, gelas yang tadinya penuh berisi air, lalu airnya diminum atau tumpah sampai habis, maka gelas tersebut berada dalam kondisi faragha. Contoh lain adalah ketika hati kita resah, kemudian hati kita menjadi tenang atau plong, berarti hati kita pun berada dalam kondisi faragha. Dari sini, dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa kondisi kosong yang dimaksud dalam arti kata faragha selalu diawali oleh adanya sesuatu yang mengisi “wadah” kosong itu sampai penuh.

Penafsiran ayat ke-7 dari surat Al-Insyirah ini semakin menarik ketika kita memahami makna kata fan-shab yang diterjemahkan sebagai “kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain”. Masih menurut Quraish Shihab, fan-shab secara bahasa berarti berat atau letih. Pada mulanya, kata ini bermakna menegakkan sesuatu sampai nyata dan mantap (seperti yang dapat dipahami pada surat Al-Ghasyiyah:19). Kata ini juga berakar sama dengan kata nashib yang diindonesiakan menjadi “nasib”. Seperti yang biasa dipahami, “nasib” terkait dengan sesuatu yang telah nyata, jelas, dan sulit dielakkan. 

Jika pemaknaan faragha dan fan-shab di atas kita terapkan pada maksud ayat ke-7 dari surat Al-Insyirah, maka kita akan mendapatkan satu kesatuan terjemah yang luar biasa dalam dan “berat”, yakni jika kita berada berada dalam kondisi luang (faragha) setelah sebelumnya kita telah “penuh” atau sibuk bekerja, maka bersungguh-sungguhlah mengerjakan yang lainnya sampai engkau letih atau menegakkan sesuatu yang baru sampai terlihat nyata (fan-shab). Sebuah imbauan untuk bergegas atau bersegera begitu nyata dalam ayat ini, karena Allah memilih kata sambung fa pada kata fan-shab. Dalam kaidah bahasa Arab, kata fa dan tsumma memiliki makna yang mirip, tetapi tidak sama. Kata tsumma dipakai untuk menunjukkan adanya jeda waktu yang cukup signifikan antara satu peristiwa dengan peristiwa lainnya. Sebaliknya, kata fa dipakai untuk menunjukkan bahwa tidak ada jeda waktu yang signifikan antara satu peristiwa dengan peristiwa lainnya. Dengan demikian, Allah menginginkan agar kita langsung mengerjakan (tidak menunda-nunda) aktivitas kedua setelah menyelesaikan aktivitas pertama dan begitu lah seterusnya. Subhaanallaah

Makna yang lebih dalam dari ayat ke-7 dari surat Al-Insyirah di atas insya Allah menjadi salah satu strategi penting untuk mengelola beban-beban kehidupan, bahkan seluruh aktivitas kita. Ketika kita telah bersungguh-sungguh dan optimal (anshab) dalam menyelesaikan suatu beban kehidupan di “wilayah”-nya sehingga sampai pada kondisi faragha, maka kita harus segera beralih untuk menyelesaikan beban yang lain (fan-shab). Ketika “gelas” diri kita telah kosong setelah sebelumnya penuh, maka semestinya kita segera mengisinya sampai penuh kembali. Jadi, kita tidak sekedar “meninggalkan” atau “beristirahat dari” beban pertama lalu diam saja, tetapi kembali menguatkan fokus dan mengerahkan kekuatan kita untuk menyelesaikan beban berikutnya agar beban-beban itu bisa selesai tanpa perlu memanfaatkan “jembatan beban”.

Sedikitnya terdapat dua poin penting dalam ayat ke-7 ini yang insya Allah dapat memudahkan kita untuk berdisiplin dalam menyelesaikan setiap beban kehidupan di “wilayah”-nya masing-masing. Dua poin tersebut adalah kesungguhan dan kesegeraan (tidak menunda-nunda) dalam berikhtiar. Dengan kesungguhan, kita memiliki peluang yang sangat besar untuk menyelesaikan beban dengan kualitas yang telah ditentukan sesuai target waktu yang ditetapkan. Dengan kesegeraan, kita mampu mengefisienkan waktu penyelesaian beban dan memiliki peluang untuk mengalokasikan waktu tambahan untuk beban lain yang dianggap lebih berat. Dengan kesungguhan dan kesegeraan, maka insya Allah kita mampu meminimalkan overlapping dalam penyelesaian beban kehidupan sekaligus meminimalkan latihan “jembatan beban”. Dengan demikian, insya Allah satu sebab ketenangan berhasil kita raih, satu risiko stress berkepanjangan mampu kita hindari, dan beberapa langkah menuju kesuksesan telah kita tempuh. 

Pertanyaan yang mungkin muncul kemudian adalah: kapan kita beristirahat?? Sebelum menjawab pertanyaan ini, ada baiknya kita samakan dulu persepsi mengenai istirahat. Ada dua jenis istirahat, yakni istirahat non-produktif dan istirahat produktif. Istirahat non-produktif sebenarnya merupakan wujud dari kemalasan sedangkan istirahat produktif adalah istirahat yang berorientasi pada penyegaran dan pengumpulan kekuatan diri (self- refreshment dan self-rechargement). Ciri-ciri istirahat non-produktif adalah lama waktunya tidak jelas (cenderung berkepanjangan), tidak direncanakan dengan baik apa saja aktivitas-aktivitas yang dilakukan selama istirahat, dan mungkin masih menyisakan kemalasan setelah waktu istirahat itu berakhir. Hal sebaliknya terjadi pada aktivitas istirahat produktif setelah kita letih bekerja. Nah, istirahat produktif inilah yang akan secara alami berada dalam konteks kesungguhan dan kesegeraan. Jadi, apabila kita menetapkan bahwa setelah melakukan aktivitas A kita harus beristirahat, maka sebaiknya kita langsung beristirahat dan tidak menunda-nundanya. Insya Allah apabila kita bersungguh-sungguh dalam beristirahat, kita akan meraih semangat dan kekuatan yang tetap besar untuk aktivitas berikutnya.

Saudaraku…
Etos kerja yang Allah ajarkan ini sangatlah luar biasa. Melalui etos inilah Allah memotivasi hamba-hamba-Nya untuk mengoptimasi setiap partisi ikhtiar mereka. Namun, boleh jadi kita masih sering mengabaikannya dan menjadi pribadi yang sering “terlena” dalam satu pekerjaan sehingga kehilangan banyak waktu untuk pekerjaan lainnya. Kita tidak boleh menyerah. Saya mengajak diri saya sendiri dan Anda semua untuk terus berikhtiar menyempurnakan setiap amanah kita dengan kesungguhan dan kesegeraan dalam menjalankannya. Semoga Allah memberi kemudahan kepada kita. Aamiin. 

Wallahu a’lam