Happy 3rd Anniversary to Al-Arsy Family ^___^
Masih tergambar dengan jelas, dag dig dug hatiku di bulan Ramadhan itu, saat kubersiap melamar kamu sayang.
Aku masih ingat betul. Setelan batik cokelat hadiah dari perguruan muhammadiyah tebet timur, dipadu pantalon krem dan sepatu kulit imitasi yang juga bernuansa cokelat plus kopiah hadiah dari ayahmu, adalah kostumku di hari yang mendebarkan sekaligus menyenangkan itu.
Sementara kamu di ujung sana. begitu anggun dengan gaun merah muda yang berpadu ciamik dengan kerudung berwarna orange segar. Penampilanmu begitu cerah, tapi tidak bisa menyembunyikan sikapmu yang salah tingkah di balik wajah yg tertunduk malu-malu. Sesekali kamu menegakkan pandangan, hingga tampak rona merah senyum manis itu, tapi tak cukup lama kamu sanggup bertahan, kamu tundukkan lagi wajahmu buru-buru. Dan aku pun tersipu. hihihi ^___^. Kalau saja bisa, aku ingin mengatakan kepadamu : aku merasakan salah tingkah yang samaaa… (Hahahaa…, PD bangeet ye gw…
)
Setelah proses lamaran usai, aku pikir ketegangan urat syarafku akan mengendur dan segera relaksasi. ternyata aku salah. justru perasaan ini makin tak menentu menjelang hari pernikahan kami. Senang bercampur haru, dan tentunya debar hati menanti hari paling bersejarah dalam hidup kami. Rangkaian doa terus teruntai, persiapan fisik dan mental difinalkan, dengan satu harapan : keberkahan sebelum, pada saat, dan setelah pernikahan.
Mengingat saat-saat pertama aku denganmu menorehkan kesan indah yg tak kan tergantikan. Cerita tentang bagaimana kita mengutamakan kesamaan visi dan misi dalam prinsip2 pribadi, dalam hal membangun sebuah keluarga, dalam hal memposisikan diri di tengah-tengah 2 keluarga besar, adalah pelajaran yang sangat berharga.
Kini, setelah 3 tahun kita menjalankan biduk rumah tangga ini, aku pun semakin mencintaimu. Mungkin kamu anggap aku menggombal saja. Itu sepenuhnya hakmu sayang
. Dan hakmu pula untuk percaya bahwa aku tidak sedang menggombalimu. Ini puisi untukmu sayang… :-)
Aku tidak sedang merayumu
Karena aku tidak mengatakan senyummu lembut ibarat Cahaya rembulan. Sebab wajah rembulan itu tidak semulus wajahmu
Aku tidak sedang membujukmu
Karena aku tidak mengatakan kamu seperti mawar merah yang sedang merekah. Sebab mawar itu bertangkai duri, tak seperti pelukanmu yang hangat menentramkan hati.
Aku tidak sedang membuatmu ge-er.
Karena aku tidak mengatakan keindahanmu bak berlian Afrika. Sebab berlian mahal itu pun bisa dibeli dengan harta, sementara keindahanmu adalah sempurnanya kekuatan dan kelemahan yang tak ternilai harganya.
Aku pun tidak sedang menggombalimu.
Karena aku tidak mengatakan aku memujamu. Sebab pujaanku dialah Allah saja, yang tak pernah luput menghadiahkan mawaddah dan rahmah antara aku dan kamu.
Rembulan tak cukup mewakili senyummu, mawar tak pantas mengibaratkan kepedulianmu, berlian tak layak menggantikan keindahanmu, dan aku pun tak bermakna tanpa kasih sayang itu. Karena kamu adalah seseorang, bukan sesuatu. Kamu adalah wanitaku.
Aku tegaskan lagi.
Aku tidak sedang merayumu, aku tidak sedang membujukmu, aku tidak sedang membuatmu ge-er dan pastinya aku pun tidak sedang menggombalimu…
Aku… hanya… mencintaimu. Itu saja.
Banyak hikmah yg begitu luar biasa selama 3 tahun ke belakang. Mulai dari debaran masa-masa pengantin baru, urai air mata saat calon bayi pertama kita tak sempat melihat dunia, keharuan dan kebahagiaan saat kamu hamil kedua, kesibukan koass-mu dan urusan kantorku yg penuh cerita dan dinamika, hingga saat ini kita mulai membangun pondasi dan struktur tarbiyah untuk membaikkan setiap anggota keluarga. Tsaqeef Maqalid Al Arsy, buah cinta kita yang pertama, sekaligus anggota baru keluarga kita, adalah bukti bahwa Allah memberikan amanah agar kita terus bergerak menjadi lebih baik.
Menjadi keluarga yang lebih baik dari waktu ke waktu bukanlah perkara mudah. Dari sekian banyak nasihat, saran, dan pengalaman, aku menemukan dua pelajaran berharga di rumah tangga kita. Dan aku yakin masih banyak lagi pelajaran yg akan kita resapi bersama.
Pertama, jadilah pengantin baru sampai kapanpun. Sebab “kasih sayang”, sebagai ibu dari “cinta”, adalah ungkapan yg sejatinya bukan musiman. Tidak seperti durian, mangga dan rambutan, kasih sayang seperti buah kelapa yg eksis kapan saja tak peduli kemarau atau hujan.
Ekspresi kasih sayang dalam bentuk pujian, nasihat, dan bukti isi hati yang diungkapkan secara verbal di antara kita,serta antara kita dengan anak-anak kita adalah tiang-tiang penyangga harmoni, bukan sekedar perabot aksesori. Keluarga yg menjebakkan setiap anggota timnya ke dalam rutinitas hak dan kewajiban rumah tangga semata, kemudian melupakan ekspresi, hanya akan menjadikan ucapan “semoga menjadi keluarga yang penuh sakinah, mawaddah, dan rahmat” sebagai harapan yang berhenti di batas-batas teori.
Kedua, jadilah pribadi pembuat zona nyaman, bukan sekedar penumpang zona nyaman. Ini merupakan prinsip yang penting dalam upaya menumbuhkembangkan kualitas setiap anggota keluarga.
Istilah “zona nyaman” sering diungkap di berbagai wacana tentang wirausaha, pengembangan potensi diri, tips2 orang sukses, revolusi paradigma dan sebagainya. Istilah ini pun paling sering dirangkai dengan kata “keluar”. “Keluarlah dari zona nyaman”, adalah motivasi yang cukup gampang disetujui oleh akal pikiran, tetapi tidak cukup mudah menggetarkan kelembaman alam bawah sadar kita. Beralih dari sesuatu yang jelas-jelas enak ke sesuatu yang belum jelas enak tidaknya, tentu saja sulit bagi sebagian besar audiens. Kalau saja tidak sulit, maka acara-acara motivasi mungkin tidak seramai sekarang.
“Keluarlah dari zona nyaman, lalu buatlah zona nyaman baru”. Mungkin pernyataan ini lebih mampu berdamai dengan kecenderungan umum manusia yang suka kenyamanan. Pengalaman selama ini dalam keluarga kita, terus membuat ” zona nyaman” baru adalah sikap mental kita dalam meningkatkan kualitas rumah tangga. Setiap kali zona nyaman terbentuk, kita tidak tinggal diam, tetapi terus berusaha mengembangkan zona baru yg lebih nyaman.
Zona nyaman baru yang terus kita bangun antara lain dalam prinsip2 mendidik anak,kita memilih pola otoritatif (bukan “otoriter” lho) yang berfokus pada “membangun aturan-aturan tentang penghargaan, kepercayaan diri, dan kepedulian”. Pola ini kita terus bangun dengan mengkombinasikan seluruh warisan positif dari cara orang tua kita mendidik semasa kita kecil, berjuang sekuat tenaga utk mengabaikan sejarah pola didik yang tidak konstruktif bagi fisik dan psikologi anak, dan tentunya terus mencari inspirasi parenting dari nash dan literatur islami.
Zona nyaman baru lainnya yang sangat penting adalah interaksi dengan keluarga besar. Kita sama-sama bersepakat bahwa kita bukan memiliki sepasang orang tua dan sepasang mertua, melainkan kita memiliki dua pasang orang tua kandung. Ini menjadi prinsip kita dalam bergaul di tengah-tengah dua keluarga besar, dengan tetap memperhatikan karakter umum yang mendasari pola interaksi di masing2 keluarga.
Istriku sayang… Sungguh luar biasa cara Allah mendidik kita dalam bahtera rumah tangga ini. Perjalanan ini masih panjang, dan setiap pengalaman yang Allah anugerahkan adalah guru yang punya jutaan tanda jasa karena telah mendewasakan kita; guru yang terus menemani dan selalu siap menjawab pertanyaan kita dengan beragam hikmah.
Ya Allah, Rabb pencipta cinta dan kasih sayang, satukanlah hati kami dalam cinta kepada-Mu, teguhkanlah jiwa dan raga kami dalam ketaatan kepada-Mu, kuatkanlah kesabaran kami dalam menempuh jalan dakwah-Mu, anugerahkanlah kami putra-putri yg shalih dan shalihah yang menyejukkan mata dan menjadi generasi kuat harapan umat, dan jadikanlah keluarga kami sebagai keluarga yang senantiasa bersyukur kepada-Mu. Ya Allah, kabulkanlah doa kami. Aamiin…
Ami Alidina en Tsaqeef sayaang…, happy 3rd anniversary yaah ^____^






