Happy 3rd Anniversary to Al-Arsy Family ^___^

Masih tergambar dengan jelas, dag dig dug hatiku di bulan Ramadhan itu, saat kubersiap melamar kamu sayang.

Aku masih ingat betul. Setelan batik cokelat hadiah dari perguruan muhammadiyah tebet timur, dipadu pantalon krem dan sepatu kulit imitasi yang juga bernuansa cokelat plus kopiah hadiah dari ayahmu, adalah kostumku di hari yang mendebarkan sekaligus menyenangkan itu.

Sementara kamu di ujung sana. begitu anggun dengan gaun merah muda yang berpadu ciamik dengan kerudung berwarna orange segar. Penampilanmu begitu cerah, tapi tidak bisa menyembunyikan sikapmu yang salah tingkah di balik wajah yg tertunduk malu-malu. Sesekali kamu menegakkan pandangan, hingga tampak rona merah senyum manis itu, tapi tak cukup lama kamu sanggup bertahan, kamu tundukkan lagi wajahmu buru-buru. Dan aku pun tersipu. hihihi ^___^. Kalau saja bisa, aku ingin mengatakan kepadamu : aku merasakan salah tingkah yang samaaa… (Hahahaa…, PD bangeet ye gw… :-P )

Setelah proses lamaran usai, aku pikir ketegangan urat syarafku akan mengendur dan segera relaksasi. ternyata aku salah. justru perasaan ini makin tak menentu menjelang hari pernikahan kami. Senang bercampur haru, dan tentunya debar hati menanti hari paling bersejarah dalam hidup kami. Rangkaian doa terus teruntai, persiapan fisik dan mental difinalkan, dengan satu harapan : keberkahan sebelum, pada saat, dan setelah pernikahan.

Mengingat saat-saat pertama aku denganmu menorehkan kesan indah yg tak kan tergantikan. Cerita tentang bagaimana kita mengutamakan kesamaan visi dan misi dalam prinsip2 pribadi, dalam hal membangun sebuah keluarga, dalam hal memposisikan diri di tengah-tengah 2 keluarga besar, adalah pelajaran yang sangat berharga.

Kini, setelah 3 tahun kita menjalankan biduk rumah tangga ini, aku pun semakin mencintaimu. Mungkin kamu anggap aku menggombal saja. Itu sepenuhnya hakmu sayang :-) . Dan hakmu pula untuk percaya bahwa aku tidak sedang menggombalimu. Ini puisi untukmu sayang… :-)

Aku tidak sedang merayumu

Karena aku tidak mengatakan senyummu lembut ibarat Cahaya rembulan. Sebab wajah rembulan itu tidak semulus wajahmu

Aku tidak sedang membujukmu

Karena aku tidak mengatakan kamu seperti mawar merah yang sedang merekah. Sebab mawar itu bertangkai duri, tak seperti pelukanmu yang hangat menentramkan hati.

Aku tidak sedang membuatmu ge-er.

Karena aku tidak mengatakan keindahanmu bak berlian Afrika. Sebab berlian mahal itu pun bisa dibeli dengan harta, sementara keindahanmu adalah sempurnanya  kekuatan dan kelemahan yang tak ternilai harganya.

Aku pun tidak sedang menggombalimu.

Karena aku tidak mengatakan aku memujamu. Sebab pujaanku dialah Allah saja, yang tak pernah luput menghadiahkan mawaddah dan rahmah antara aku dan kamu.

Rembulan tak cukup mewakili senyummu, mawar tak pantas mengibaratkan kepedulianmu, berlian tak layak menggantikan keindahanmu, dan aku pun tak bermakna tanpa kasih sayang itu. Karena kamu adalah seseorang, bukan sesuatu. Kamu adalah wanitaku.

Aku tegaskan lagi.

Aku tidak sedang merayumu, aku tidak sedang membujukmu, aku tidak sedang membuatmu ge-er dan pastinya aku pun tidak sedang menggombalimu…

Aku… hanya… mencintaimu. Itu saja.

Banyak hikmah yg begitu luar biasa selama 3 tahun ke belakang. Mulai dari debaran masa-masa pengantin baru, urai air mata saat calon bayi pertama kita tak sempat melihat dunia, keharuan dan kebahagiaan saat kamu hamil kedua, kesibukan koass-mu dan urusan kantorku yg penuh cerita dan dinamika, hingga saat ini kita mulai membangun pondasi dan struktur tarbiyah untuk membaikkan setiap anggota keluarga. Tsaqeef Maqalid Al Arsy, buah cinta kita yang pertama, sekaligus anggota baru keluarga kita, adalah bukti bahwa Allah memberikan amanah agar kita terus bergerak menjadi lebih baik.

Menjadi keluarga yang lebih baik dari waktu ke waktu bukanlah perkara mudah. Dari sekian banyak nasihat, saran, dan pengalaman, aku menemukan dua pelajaran berharga di rumah tangga kita. Dan aku yakin masih banyak lagi pelajaran yg akan kita resapi bersama.

Pertama, jadilah pengantin baru sampai kapanpun. Sebab “kasih sayang”, sebagai ibu dari “cinta”, adalah ungkapan yg sejatinya bukan musiman. Tidak seperti durian, mangga dan rambutan, kasih sayang seperti buah kelapa yg eksis kapan saja tak peduli kemarau atau hujan.

Ekspresi kasih sayang dalam bentuk pujian, nasihat, dan bukti isi hati yang diungkapkan secara verbal di antara kita,serta antara kita dengan anak-anak kita adalah tiang-tiang penyangga harmoni, bukan sekedar perabot aksesori. Keluarga yg menjebakkan setiap anggota timnya ke dalam rutinitas hak dan kewajiban rumah tangga semata, kemudian melupakan ekspresi, hanya akan menjadikan ucapan “semoga menjadi keluarga yang penuh sakinah, mawaddah, dan rahmat” sebagai harapan yang berhenti di batas-batas teori.

Kedua, jadilah pribadi pembuat zona nyaman, bukan sekedar penumpang zona nyaman. Ini merupakan prinsip yang penting dalam upaya menumbuhkembangkan kualitas setiap anggota keluarga.

Istilah “zona nyaman” sering diungkap di berbagai wacana tentang wirausaha, pengembangan potensi diri, tips2 orang sukses, revolusi paradigma dan sebagainya. Istilah ini pun paling sering dirangkai dengan kata “keluar”. “Keluarlah dari zona nyaman”, adalah motivasi yang cukup gampang disetujui oleh akal pikiran, tetapi tidak cukup mudah menggetarkan kelembaman alam bawah sadar kita. Beralih dari sesuatu yang jelas-jelas enak ke sesuatu yang belum jelas enak tidaknya, tentu saja sulit bagi sebagian besar audiens. Kalau saja tidak sulit, maka acara-acara motivasi mungkin tidak seramai sekarang.

“Keluarlah dari zona nyaman, lalu buatlah zona nyaman baru”. Mungkin pernyataan ini lebih mampu berdamai dengan kecenderungan umum manusia yang suka kenyamanan. Pengalaman selama ini dalam keluarga kita, terus membuat ” zona nyaman” baru adalah sikap mental kita dalam meningkatkan kualitas rumah tangga. Setiap kali zona nyaman terbentuk, kita tidak tinggal diam, tetapi terus berusaha mengembangkan zona baru yg lebih nyaman.

Zona nyaman baru yang terus kita bangun antara lain dalam prinsip2 mendidik anak,kita memilih pola otoritatif (bukan “otoriter” lho)  yang berfokus pada “membangun aturan-aturan tentang penghargaan, kepercayaan diri, dan kepedulian”.  Pola ini kita terus bangun dengan mengkombinasikan seluruh warisan positif dari cara orang tua kita mendidik semasa kita kecil, berjuang sekuat tenaga utk mengabaikan sejarah pola didik yang tidak konstruktif bagi fisik dan psikologi anak, dan tentunya terus mencari inspirasi parenting dari nash dan literatur islami.

Zona nyaman baru lainnya yang sangat penting adalah interaksi dengan keluarga besar. Kita sama-sama bersepakat bahwa kita bukan memiliki sepasang orang tua dan sepasang mertua, melainkan kita memiliki dua pasang orang tua kandung. Ini menjadi prinsip kita dalam bergaul di tengah-tengah dua keluarga besar, dengan tetap memperhatikan karakter umum yang mendasari pola interaksi di masing2 keluarga.

Istriku sayang… Sungguh luar biasa cara Allah  mendidik kita dalam bahtera rumah tangga ini. Perjalanan ini masih panjang, dan setiap pengalaman yang Allah anugerahkan adalah guru  yang punya jutaan tanda jasa karena telah mendewasakan kita; guru yang terus menemani dan selalu siap menjawab pertanyaan kita dengan beragam hikmah.

Ya Allah, Rabb pencipta cinta dan kasih sayang, satukanlah hati kami dalam cinta kepada-Mu, teguhkanlah jiwa dan raga kami dalam ketaatan kepada-Mu, kuatkanlah kesabaran kami dalam menempuh jalan dakwah-Mu, anugerahkanlah kami putra-putri yg shalih dan shalihah yang menyejukkan mata dan menjadi generasi kuat harapan umat, dan jadikanlah keluarga kami sebagai keluarga yang senantiasa bersyukur kepada-Mu. Ya Allah, kabulkanlah doa kami. Aamiin…

Ami Alidina en Tsaqeef sayaang…, happy 3rd anniversary yaah ^____^

Strategi Abu Lahab

Tadi siang ikut pengajian ust. Muhsinin di kantor. Ada satu pernyataan yang menarik sekaligus menggelitik.

“Jika saja Abu Lahab lebih cerdas sedikit, maka ia akan berpura-pura beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian ia bisa menjadikan “keimanan”-nya itu sebagai strategi untuk menyalahkan firman Allah yang baru saja turun (surat Al-Lahab) ketika Rasulullah SAW mensyiarkan Islam secara kolosal untuk pertama kalinya kepada Bani Abdi Manaf.”

Ceritanya bermula ketika Abu Lahab, salah satu paman Rasulullah, berkata kasar kepada Nabi SAW dalam pertemuan keluarga besar itu. “Celaka engkau Muhammad, apa hanya untuk urusan ini engkau mengumpulkan kami?”, begitulah sergah Abu Lahab saat Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya aku adalah pembawa peringatan tentang adzab yang besar!”.

Umpatan Abu Lahab terhadap Nabi yang lemah lembut ini berujung pada turunnya surat Al-Lahab 1-5.

Surat ini secara tegas menyematkan atribut “CELAKA” kepada Abu Lahab. Surat ini menjadi tamparan keras bagi sang paman secara langsung di TKP, tanpa basa basi dan tanpa jeda waktu yang signifikan.

Lalu mengapa Abu Lahab dikatakan kurang cerdas? Logikanya sangat sederhana: kalau saja Abu Lahab “beriman” sementara surat Al-Lahab menyatakan ia celaka, tentu saja hal ini menjadi “kontradiksi” yang bisa melemahkan posisi Islam. Namun pada kenyataannya Abu Lahab tidak memilih strategi ini. Ia dan timnya justru memilih strategi ofensif yang semakin menunjukkan ketidakmampuan mereka sendiri untuk menandingi argumentasi ajaran Islam. Yang jelas, Abu Lahab memang tidak diperkenankan Allah untuk menggunakan cara munafik seperti itu. Bahkan, hidayah islam dan iman telah menjauh darinya disebabkan Abu Lahab sendiri yang menutup hatinya dari seruan Rasulullah SAW. Na’udzubillah min dzaalik.

Read more…

Kotak TAR

Fiuuhh… setelah sekian lama absen menulis, alhamdulillah saat ini sedang menggelorakan lagi semangat melukis kata di atas kanvas blog :D .

Ternyata baru terasa, kaku juga menuliskan ide dalam rangkaian huruf kalau setiap ide yang terbetik langsung masuk kotak TAR (nTAR aja ah nulisnya).

Istri saya yang baik hati tak pernah bosan mengingatkan: “ayo ayaah, nulis lagi!”. “Hehehe, bukannya ga mau nulis, ami sayaang, cuma pas mau nulis kayak ga ada ide gitu deh :) “. Selalu saja ada alasan untuk menunda aktivitas menulis; capek lah, banyak kerjaan lah, dan setumpuk alasan klasik lainnya. Padahal masih banyak orang yang jauh lebih sibuk dari saya, tetapi masih menyempatkan menulis minimal satu halaman setiap pekannya. Jadi malu saya :-p .

Read more…

Untuk yang akan segera menikah, berencana menikah, Ingin Menikah, sudah menikah, ataupun ragu menikah

-diambil dari blog istri-

Di Sebuah Kamar yang menjadi saksi tangis dan tawa kita, 23.45 WIB

Bismillah..

Belum bisa tidur,, padahal besok pagi harus dobel masak sekalian buat bekal makan siang kamu di kantor :) , karena hari selasa adalah jadwal pengajian tafsir ba’da dhuhur di kantor, jadi ga pulang deh siangnya. sambil nongkrongin facebook, iseng2 bikin note di samping kamu yg sudah tertidur pulas,, kamu lucu banget sih kalo lagi tidur begitu, sayang.. kayak anak kecil,hehe.

tak terasa, sudah 57 matahari terbit kita saksikan berdua setelah sekian lama melihat cerahnya sendiri saja.Sepertinya baru kemarin kamu mengikrarkan ijab qabul sambil menjabat tangan Bapak, dan ‘membeli’ kehalalanku atasmu dengan seperangkat alat shalat, surat Ar-Rahmaan, dan uang sebesar 307 Ribu Rupiah 86 Real.

Momen indah yang begitu menegangkan sekaligus mengharukan.
‘Hal Jazaa’ul ihsaani illaa al-ihsaan…’
subhanallah,,,betapa ayat yang kamu lantunkan dengan lantang itu mengirim ribuan volt arus listrik ke sekujur tubuhku,, ‘apakah balasan untuk suatu kebaikan selain kebaikan(pula)?’.. berkali teriring ayat itu dengan kalimat ‘fabiayyi aalaa’i rabbikumaa tukadzdzibaan’

hal jazaa'ul ihsaani illaa al-ihsaan..

hal jazaa'ul ihsaani illaa al-ihsaan..

agar tiada kufur diriku hingga senantiasa ingat bahwa Allah-lah yang telah Menghimpun kita berdua dalam mahligai ini, bukan karenamu, bukan karenaku. innal hamda lillaah.. tiada habis lautan syukurku kepada Engkau yang telah mengirimkanku sebuah kebaikan yang kan menuntunku kepada kebaikan hingga akhirnya aku dikembalikannya kepadaMu dalam sebuah kebaikan pula, aamiin..

_ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ __ _ _ _ _ _ _ _ _

Pernikahan itu indah dan menenangkan. Semoga tidak terlalu terburu-buru aku mengatakannya mengingat dua purnama saja belum genap aku menjadi bagian kisahnya. Namun ijinkan aku menuliskan itu untuk meyakinkan para rekan yang tengah ragu melangkah menghampirinya.
Beberapa ada yang bertanya baik dengan serius ataupun sekedar membuka obrolan tentang bagaimana rasanya menikah atau tentang apakah yang jadi berbeda antara sebelum dan sesudah menikah(hayo, ngaku.. siapa yg pernah nanya begituu?:D:D ). Karena sepertinya itu adalah the most lovable question setelah pertanyaan ‘dah isi belom?’-hmmmmm, hehe,,doakan yang terbaik yaa.. ikhtiar mah tetep insya Allah ^^- sehingga membuatku berpikir lagi untuk tidak sekedar menggugurkan kewajiban dengan menjawab:
‘yaaa.. jelas beda, ntar rasain sendiri deh pas udah nikah:)’.

Hmm, teman,, setelah menikah sebagai seorang perempuan tentu perbedaan yang paling pertama kurasakan usai mitsaaqan ghalidzaa itu terucap adalah berpindahnya pengutamaan ketaatanku setelah kepada Allah yaitu dari orang tuaku kepada beliau, suamiku.
Perginya aku ke suatu tempat adalah atas ijinnya,
memutuskannya aku atas suatu perkara adalah atas persetujuannya,
pilihanku atas busana yang kukenakan adalah atas ridhanya,
berteman aku dengan seseorang adalah dengan restunya,
bukan lagi atas orang tuaku terlebih dahulu.Jelas bukan, perbedaannya? :-)

Sejak aku mulai membuka mata di pagi hari hingga ku memejam mata pada malamnya, yang ada di sisiku bukan lagi sebuah angin sepi, tapi ada seseorang di sini. Aku telah menjadi seorang istri, ada tanggung jawab dan hak di pundakku yang tentunya sangat berbeda dibanding aku semasa sendiri saja. Ada seseorang yang harus kuurusi dan kulengkapi kebutuhannya. Aku sebagai istri bertanggung jawab untuk mengurus dirinya, dari mulai membuatkan minuman hangat di pagi hari, menyiapkan sarapan,memastikan bahwa ada pakaian matching dan telah siap ia gunakan untuk berangkat ke kantor, mengupayakan semaksimal mungkin agar ia tidak jatuh sakit, merawatnya ketika mulai flu dan bersin-bersin agar tidak menjadi parah, dsb. Aku juga bertanggungjawab mengelola tempat tinggalnya dan memenej keuangan rumah tangganya.

Read more…

Dua Ratus Jutaan atau Empat Ratus Jutaan?

Di tengah gelombang apatisme politik sebagian kalangan masyarakat menjelang pemilu legislatif, kita semakin dibuat ‘geli’ dengan munculnya berita-berita mengenai pemilih fiktif, anggota TNI aktif yang masuk ke dalam DPT, munculnya nama anak umur 6 tahun di antara nama para pemilih dewasa, dan sekian kasus menggelikan lainnya. Sudah terlalu lelah kita untuk mengeluh, karenanya kita boleh sedikit tertawa melihat dan menyaksikan carut-marut ini agar –mudah-mudahan- ada hikmah dan pelajaran yang bisa kita petik.

Sangat mudah bagi kita untuk menuduh bahwa ada ‘permainan’ di balik itu semua, tetapi terlepas dari tuduhan standar itu, marilah kita sama-sama sadari bahwa memang sistem informasi kependudukan di negeri ini relatif masih lemah dan rentan ‘human error’ baik yang disengaja maupun tidak :P .

Dari kelemahan sistemik ini saja, kita pun patut tertawa jika banyak partai politik berani menjanjikan harga BBM yang murah, pendidikan murah bahkan gratis, sembako murah, peningkatan taraf hidup keluarga miskin, pelayanan kesehatan terbaik yang menyentuh seluruh lapisan masyarakat, dan sekian banyak janji-janji aduhai lainnya. Semua itu, menurut para pejabat politik negeri ini adalah untuk RAKYAT. Pertanyaan sederhananya adalah: rakyat yang mana, keluarga miskin yang mana? Padahal aparat pemerintahan sendiri masih kebingungan dalam mendata rakyat yang layak mencontreng kertas suara saat Pemilu nanti. Itu baru satu aspek, yakni “layak memilih”, bagaimana jika ditambah dengan aspek “mana yang benar-benar miskin atau pura-pura miskin”, “mana yang anak yatim”, “mana anak cerdas yang patut mendapat beasiswa”, “mana orang yang beneran kaya atau pura-pura kaya”, “mana yang asli Jawa atau Sunda”? Apa ga kelimpungan tuh? Sudah sanggupkah kita? Hihihi, tampaknya tidak berlebihan jika saya menjawab : belum.

Read more…

Zhahir dan Tersembunyi

Penduduk Indonesia ini sepertinya memang gemar mencampuradukkan bahasa. Campuraduk bahasa ini bukan hal asing lagi dalam keseharian kita, bahkan di suasana Lebaran sekalipun.

Kita sering mendengar istilah (yang selalu diucapkan tidak lengkap atau sering salah tatabahasanya) “minal aidin wal faizin”. Dalam ungkapan ini penduduk Indonesia masih konsisten karena seluruh kosakata dalam istilah ini berasal dari Bahasa Arab. Namun, istilah ini kemudian diiringi dengan ungkapan “Mohon maaf lahir dan bathin” yang menunjukkan ketidakkonsistenan kita. Supaya terlihat sedikit lebih konsisten, harusnya kita menggunakan istilah “Mohon maaf zhahir dan bathin” atau “Mohon maaf lahir dan tersembunyi :)

Hati pada Cermin

Dunia itu bagai nenek tua yang cantik jelita. Kecantikannya begitu merayu para penghuninya untuk juga tampil menawan. Tidak ada makhluk yang paling ingin tampil rupawan selain manusia. Setiap hari sebagian besar manusia bersolek di depan cermin sebelum berangkat ke sekolah, ke pasar, ke kantor, atau ke tempat kesibukan lainnya. Mereka ingin tampil sempurna, harum, percaya diri, dan mempesona agar kesuksesan dan keindahan mewarnai hari-hari yang mereka lalui.

Terkadang atau bahkan sering, kita terlena dengan segenap aktivitas bersolek. Kita tenggelam ke dalam lautan materialisme, merasa cukup puas dan percaya diri dengan bedak-bedak harta yang mencemongi wajah kita, merasa bangga dengan sekian banyak fasilitas dan kelebihan yang kita punyai, merasa hebat dengan pangkat dan kekuasaan yang kita miliki.

Sebagian kita lupa bahwa perhiasan dunia yang membuat diri kita tampil indah itu seperti air garam di lautan sana. Meminumnya hanya akan menambah haus dan menciptakan dahaga berikutnya. Di saat kehausan tak berujung melanda mereka, sebagian yang lain malah mencibir semua perhiasan itu. Mereka menganggap gemerlapnya hanya akan membuat lupa kepada Allah, padahal sebenarnya mereka lah yang lupa bahwa Allah meminta mereka agar tak lupa dengan kebahagiaan dunia Read more…

Ikhlas itu Dinamis, Bergerak, dan Kunci Prestasi

Adalah suatu anugerah yang luar biasa, ketika kesempatan untuk menelisik ruang-ruang rahasia kehidupan hadir di hadapan kita. Aku pun berlomba agar Tuhanku berkenan mencurahkan anugerah itu, meskipun aku sadar bahwa hati yang kesat cemerlang menjadi syaratnya. Itulah yang tampaknya berat bagiku. Kuakui, masih jauh kecemerlangan itu dari hati ini. Ketika kita memiliki hati yang bersih, kita bisa merasakannya, dan ketika kita memiliki hati yang kotor, kita pun tak mampu mendustainya. Sebab hati adalah raja diri. Ia lah pemimpin yang “menuntun” langkah ke jalan yang lurus atau berbelok. Ia lah yang menyambut tamu agung berupa hidayah-Nya, atau menerima ajakan berperang raja-raja negeri syaithan.

Saudaraku,
Sebuah ungkapan sarat makna mengemuka dalam pembelajaran tentang hati. Ungkapan itu berbunyi “seolah-olah ilmu tentang hati hanya berbicara tentang keikhlasan”. Sedemikian pentingnya keikhlasan, sampai-sampai ia menjadi primadona dalam konstelasi ilmu hati. Lantas, apa yang ada dalam benak kita tentang keikhlasan?

Meskipun begitu banyak literatur yang menerangkan tentang keikhlasan, tak bisa kita pungkiri bahwa begitu sering kita dicekoki oleh pemahaman yang mempersepsikan keikhlasan secara salah. Ikhlas seringkali disetarakan dengan “rela”. Penyetaraan ini menjadi tidak tepat karena sebenarnya “kerelaan” hanyalah salah satu aspek dalam makna ikhlas. Pada kesempatan lain, ikhlas sering juga dipersepsikan dengan makna “sedikit”. Persepsi ini acapkali kita jumpai dalam aktivitas pemberian sedekah. “Berilah sedekah seikhlasnya”, demikian ungkapan yang akhirnya diterjemahkan sebagai “berilah sedekah meskipun sedikit”. Persepsi lain yang kurang tepat adalah ikhlas dipahami sebagai sikap mental yang menunjukkan ketidaksungguhan. Kita mungkin pernah mendengar pernyataan “Silakan bantu/kerjakan seikhlasnya”. Pernyataan ini sama saja dengan izin (atau bahkan menjadi sumber motivasi negatif) dari si pembuat pernyataan kepada orang yang dituju untuk “membantu” atau “mengerjakan” secara sembarangan atau tidak optimal. Dengan demikian, penambahan imbuhan “se-nya” pada kata “ikhlas” telah benar-benar mendegradasi makna ikhlas itu sendiri.

Terlepas dari persepsi-persepsi yang kurang tepat seputar keikhlasan, entitas ini memang berada dalam ranah transendental yang definisinya tak selalu mudah dipraktikkan sehingga persepsi-persepsi itu hadir—mungkin—sebagai “solusi praktis” dalam menerjemahkan istilah “ikhlas”.

Akar kata dari “ikhlas” bermakna “bening, tidak ada noda yang tercampur sedikitpun”. Selanjutnya, secara istilah ”ikhlas” diartikan sebagai pengharapan terhadap ridha Allah semata dan tidak mengiringinya dengan pengharapan terhadap ridha dari selain Allah, apalagi hanya mengharap ridha dari selain Allah. Oleh karena itu, wajarlah jika lawan dari sifat ikhlas disebut juga syirik kecil, yakni ketika kita menyandingkan makhluk sejajar dengan Allah sebagai pihak yang dimintai keridhaannya.

Read more…

Corsa Maxi : Edisi Pertama

Pembaca yang budiman…

Kita ketemu di edisi pertama Corsa Maxi nih… Apa sih Corsa Maxi itu? Sengaja sih dibuat kebarat-baratan (dan agak maksa, hehe) padahal kepanjangannya cukup ndeso :-P , yaitu Cari Obrolan Saat Makan Siang. Doain aja, semoga ane konsisten untuk terus menyajikan Corsa Maxi sebagai sarana refreshing :D .

Kali ini, wartawan Corsa Maxi (CM) bergerilya di kantin Fiddarain, tepatnya di belakang kampus Universitas Harapan Bangsa. CM memilih secara acak salah satu mahasiswa yang lagi asyik makan siang. Namanya Akromann (AKR).

CM  : “Assalaamualaikum, mas”

AKR : “Waalaikum salam warahmatullahi wabarakatuh”

CM  : “Maap nih ganggu, saya wartawan dari Corsa Maxi. Mo ngajak ngobrol-ngobrol sebentar boleh yaa. Siapa tau dapet isu terbaru nih dari kalangan mahasiswa :DRead more…

Targhib wa Tarhib

Apa yang kita butuhkan

adalah kepercayaan

Apa yang jangan pernah terlintas

adalah ketakutan yang tak bertuan

Ketika yakinmu luruh berderai

langkahku sontak menderu

mematung terdiam di jalan ini

mencari cahaya dalam temaram

kala mendung pun hilang berganti

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.