jump to navigation

Untuk yang akan segera menikah, berencana menikah, Ingin Menikah, sudah menikah, ataupun ragu menikah Juni 12, 2009

Posted by alfikr in Uncategorized.
3 comments

-diambil dari blog istri-

Di Sebuah Kamar yang menjadi saksi tangis dan tawa kita, 23.45 WIB

Bismillah..

Belum bisa tidur,, padahal besok pagi harus dobel masak sekalian buat bekal makan siang kamu di kantor :) , karena hari selasa adalah jadwal pengajian tafsir ba’da dhuhur di kantor, jadi ga pulang deh siangnya. sambil nongkrongin facebook, iseng2 bikin note di samping kamu yg sudah tertidur pulas,, kamu lucu banget sih kalo lagi tidur begitu, sayang.. kayak anak kecil,hehe.

tak terasa, sudah 57 matahari terbit kita saksikan berdua setelah sekian lama melihat cerahnya sendiri saja.Sepertinya baru kemarin kamu mengikrarkan ijab qabul sambil menjabat tangan Bapak, dan ‘membeli’ kehalalanku atasmu dengan seperangkat alat shalat, surat Ar-Rahmaan, dan uang sebesar 307 Ribu Rupiah 86 Real.

Momen indah yang begitu menegangkan sekaligus mengharukan.
‘Hal Jazaa’ul ihsaani illaa al-ihsaan…’
subhanallah,,,betapa ayat yang kamu lantunkan dengan lantang itu mengirim ribuan volt arus listrik ke sekujur tubuhku,, ‘apakah balasan untuk suatu kebaikan selain kebaikan(pula)?’.. berkali teriring ayat itu dengan kalimat ‘fabiayyi aalaa’i rabbikumaa tukadzdzibaan’

hal jazaa'ul ihsaani illaa al-ihsaan..

hal jazaa'ul ihsaani illaa al-ihsaan..

agar tiada kufur diriku hingga senantiasa ingat bahwa Allah-lah yang telah Menghimpun kita berdua dalam mahligai ini, bukan karenamu, bukan karenaku. innal hamda lillaah.. tiada habis lautan syukurku kepada Engkau yang telah mengirimkanku sebuah kebaikan yang kan menuntunku kepada kebaikan hingga akhirnya aku dikembalikannya kepadaMu dalam sebuah kebaikan pula, aamiin..

_ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ __ _ _ _ _ _ _ _ _

Pernikahan itu indah dan menenangkan. Semoga tidak terlalu terburu-buru aku mengatakannya mengingat dua purnama saja belum genap aku menjadi bagian kisahnya. Namun ijinkan aku menuliskan itu untuk meyakinkan para rekan yang tengah ragu melangkah menghampirinya.
Beberapa ada yang bertanya baik dengan serius ataupun sekedar membuka obrolan tentang bagaimana rasanya menikah atau tentang apakah yang jadi berbeda antara sebelum dan sesudah menikah(hayo, ngaku.. siapa yg pernah nanya begituu?:D:D ). Karena sepertinya itu adalah the most lovable question setelah pertanyaan ‘dah isi belom?’-hmmmmm, hehe,,doakan yang terbaik yaa.. ikhtiar mah tetep insya Allah ^^- sehingga membuatku berpikir lagi untuk tidak sekedar menggugurkan kewajiban dengan menjawab:
‘yaaa.. jelas beda, ntar rasain sendiri deh pas udah nikah:)’.

Hmm, teman,, setelah menikah sebagai seorang perempuan tentu perbedaan yang paling pertama kurasakan usai mitsaaqan ghalidzaa itu terucap adalah berpindahnya pengutamaan ketaatanku setelah kepada Allah yaitu dari orang tuaku kepada beliau, suamiku.
Perginya aku ke suatu tempat adalah atas ijinnya,
memutuskannya aku atas suatu perkara adalah atas persetujuannya,
pilihanku atas busana yang kukenakan adalah atas ridhanya,
berteman aku dengan seseorang adalah dengan restunya,
bukan lagi atas orang tuaku terlebih dahulu.Jelas bukan, perbedaannya? :-)

Sejak aku mulai membuka mata di pagi hari hingga ku memejam mata pada malamnya, yang ada di sisiku bukan lagi sebuah angin sepi, tapi ada seseorang di sini. Aku telah menjadi seorang istri, ada tanggung jawab dan hak di pundakku yang tentunya sangat berbeda dibanding aku semasa sendiri saja. Ada seseorang yang harus kuurusi dan kulengkapi kebutuhannya. Aku sebagai istri bertanggung jawab untuk mengurus dirinya, dari mulai membuatkan minuman hangat di pagi hari, menyiapkan sarapan,memastikan bahwa ada pakaian matching dan telah siap ia gunakan untuk berangkat ke kantor, mengupayakan semaksimal mungkin agar ia tidak jatuh sakit, merawatnya ketika mulai flu dan bersin-bersin agar tidak menjadi parah, dsb. Aku juga bertanggungjawab mengelola tempat tinggalnya dan memenej keuangan rumah tangganya.

Hidup dengan orang yang tadinya asing di bawah satu atap yang sama selama 7×24 jam dalam sepekan bukanlah hal yang mudah, aku harus menyesuaikan kebiasaan yang telah lama kubawa sejak kecil dengan kebiasaannya yang juga telah menjadi adatnya sedari dulu.
Misalnya saja, aku tidak bisa tidur tanpa kipas angin yang menyala sedangkan suamiku sangat tidak tahan jika menghadap kipas angin selama tidur, alhasil kadang aku harus berela diri kepanasan sepanjang malam atau suamiku terpaksa kembung-kembung dan masuk angin saat bangun di pagi hari sehingga aku harus memijatnya^^.
Atau aku yang suka dengan makanan yang bergenre asin dan tidak terlalu suka manis, sedang suamiku sangat suka makanan yang manis dan berkecap, apapun masakannya harus ada kecap di meja:-) (yang awalnya sangat aneh bagiku, masa soup jagung macaroni dikecapin*__*, tapi lama-lama ya terbiasa juga, hehe) sehingga aku harus menyesuaikan saat memasak makanan, ketika kucicipi sudah terasa pas kutambah satu/dua sendok gula atau kecap sehingga menjadi pas untuk suamiku, dulu waktu belum tau trik-nya masakanku selalu dibilang kurang manis melulu, -ya kan, mas?- hehe,..

Aku katakan pernikahanku indah bukan berarti tidak ada riak-riak dalam rumah tanggaku. Ombak kecil itu biasa, orang bilang sebagai bumbu katanya, tapi sungguh ungkapan itu bukan bohong, itu benar-benar bumbu yang menyedapkan dan membuat indah.
Sejak awal memutuskan menikah dan dengan siapa akan menikah, perbedaan yang sifatnya prinsip, seperti visi, misi, komitmen yang perlu ditunaikan satu sama lain, keselarasan cara pandang,dsb sebaiknya harus telah diseleksi sedetail mungkin sehingga ke depannya nanti tidak perlu ada konflik besar yang bukan lain dan jelas pasti biasanya berasal dari perbedaan hal-hal prinsip seperti tadi. Yang tinggal hanyalah pasir-pasir dan sedikit kerikil kecil yang melengkapi pesona pernikahan itu sendiri, pesona saat saling merajuk dan meminta maaf, pesona saat berhasil memecahkan keheningan dengan rayuan dan gombalan yang membuat rindu,pesona ketika sama-sama menemukan bagaimana harus saling menyikapi saat aku sedang begini dan suamiku sedang begitu.

seni mengukir pesona dengan pasir dan kerikil...

seni mengukir pesona dengan pasir dan kerikil...

Seni mengukir pesona dengan pasir dan kerikil,, bukankah itu layak disebut indah? ^_^

Kukatakan juga bahwa pernikahan itu menenangkan. Kadangkala, sebagian orang mendefinisikan bahwa rasa biasa, tak lagi bergejolak seperti dulu sebelum menikah,tak lagi menggebu-gebu layaknya dahulu belum saling memiliki, dsb adalah refleksi dari kebosanan yang merupakan ancaman bagi pernikahan.
Tapi kami berdua mencoba memandangnya dari sudut yang berbeda, bagi kami ketidakmenggebuan itu adalah rasa tenang, ketidakbergejolakan lagi itu adalah rasa aman, yang merupakan wujud dari sebuah anugerah dan nikmat yang luar biasa yang tiada akan dinikmati jika belum merasakan pernikahan. Karena itulah Al-Quran menyebutnya sebagai Sakinah. Rasa tenang, aman, damai karena telah ada seseorang di sisi. Rasa tentram, nyaman, dan lega yang justru menciptakan kasih sayang yang menggelora lebih daripada yang pernah kita duga.
Menenangkan bukan?^_^

Yang juga menjadi sangat berbeda bagiku setelah menikah adalah dengan gratis aku dianugerahi sebuah keluarga lagi. Sekarang aku punya 2 Ibu dan Bapak, saudara perempuanku ditambah lagi 3 orang, saudara iparku ditambah juga 3 orang, aku juga punya keponakan kandung 3 orang dalam sekejap. Menyenangkan bukan?^^.
Sebagai orang baru, aku harus pintar-pintar bersikap dan mengelola diri dalam bersosialisasi dengan mereka. Bagi papa dan mama, aku adalah anak bungsu mereka bukan lagi menantu. Saudara ipar bukan lagi ipar karena sudah menjadi kakak kandungku sendiri. Menyenangkan sekali menjadi bungsu :) -bukan kamu lagi bungsunya, mas^_^-. Tidak perlu memark-up diri di hadapan mereka, cukup menjadi diri sendiri dan menyesuaikan sebaik mungkin sehingga rasa saling mencintai itu bisa tumbuh dari hari ke hari dengan alami.
_ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ ___ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _

Every Day I Love You, Mas.. Insya Allah.. ^_^

Every Day I Love You, Mas.. Insya Allah.. ^_^

Aku selalu terkesan dengan kasih sayangmu itu setiap hari. Ada saja sikapmu yang membuatku merasa menjadi yang paling berharga bagimu.

Dibuat istimewa oleh orang yang sangat istimewa membuatku tak henti bersyukur dan bertahmid bahwa Milik Allah-lah segala Puji.

Subhanallah, lindungilah kami berdua, Ya Allah..
Berikanlah kekuatan kepada kami agar bisa menciptakan keindahan dan ketenangan ini selamanya sampai kami kembali Engkau himpun dalam Surgamu.. Hasbunallah.. cukuplah Engkau sebagai Pelindung dan Penolong bagi kami.


Fawatstsiqillahumma Raabithatahaa, Wa Addim wuddahaa…

-Semoga Bermanfaat-

Happily, Ever After.. Aamiin..

Happily, Ever After.. Aamiin..

Dua Ratus Jutaan atau Empat Ratus Jutaan? April 4, 2009

Posted by alfikr in Nasional.
Tags: ,
1 comment so far

Di tengah gelombang apatisme politik sebagian kalangan masyarakat menjelang pemilu legislatif, kita semakin dibuat ‘geli’ dengan munculnya berita-berita mengenai pemilih fiktif, anggota TNI aktif yang masuk ke dalam DPT, munculnya nama anak umur 6 tahun di antara nama para pemilih dewasa, dan sekian kasus menggelikan lainnya. Sudah terlalu lelah kita untuk mengeluh, karenanya kita boleh sedikit tertawa melihat dan menyaksikan carut-marut ini agar –mudah-mudahan- ada hikmah dan pelajaran yang bisa kita petik.

Sangat mudah bagi kita untuk menuduh bahwa ada ‘permainan’ di balik itu semua, tetapi terlepas dari tuduhan standar itu, marilah kita sama-sama sadari bahwa memang sistem informasi kependudukan di negeri ini relatif masih lemah dan rentan ‘human error’ baik yang disengaja maupun tidak :P .

Dari kelemahan sistemik ini saja, kita pun patut tertawa jika banyak partai politik berani menjanjikan harga BBM yang murah, pendidikan murah bahkan gratis, sembako murah, peningkatan taraf hidup keluarga miskin, pelayanan kesehatan terbaik yang menyentuh seluruh lapisan masyarakat, dan sekian banyak janji-janji aduhai lainnya. Semua itu, menurut para pejabat politik negeri ini adalah untuk RAKYAT. Pertanyaan sederhananya adalah: rakyat yang mana, keluarga miskin yang mana? Padahal aparat pemerintahan sendiri masih kebingungan dalam mendata rakyat yang layak mencontreng kertas suara saat Pemilu nanti. Itu baru satu aspek, yakni “layak memilih”, bagaimana jika ditambah dengan aspek “mana yang benar-benar miskin atau pura-pura miskin”, “mana yang anak yatim”, “mana anak cerdas yang patut mendapat beasiswa”, “mana orang yang beneran kaya atau pura-pura kaya”, “mana yang asli Jawa atau Sunda”? Apa ga kelimpungan tuh? Sudah sanggupkah kita? Hihihi, tampaknya tidak berlebihan jika saya menjawab : belum.

Kalau mendata rakyat untuk mencontreng kertas Pemilu saja masih kalang kabut, bagaimana mungkin kita dapat menyediakan mata rantai yang efektif dan efisien untuk mendistribusikan hasil janji-janji manis itu secara tepat sasaran dan menjunjung tinggi keadilan sampai ke telapak tangan yang benar-benar membutuhkan? Bagaimana mungkin kita bisa meneladani komitmen pelayanan Umar bin Khattab ketika beliau memanggul gandum untuk diberikan ke seorang perempuan dan anaknya yang sedang kelaparan? Hmm…

Sejauh pengamatan saya, semua parpol mengumbar janji-janji yang hampir senada satu sama lain : terkesan normatif dan/atau masih berkutat di seputar sembako murah, pendidikan murah, lapangan kerja terbuka luas, dan kesehatan yang murah serta terjangkau. Namun, saya belum menemukan ada parpol yang secara gamblang memiliki program spesifik seperti “memperbaiki pelaksanaan sistem kependudukan di Indonesia berbasis Teknologi Informasi secara terpusat serta terpelihara secara jujur dan profesional” (wahai pembaca, kasih tau ya kalau ada!^^).

Kita seyogyanya berbaik sangka bahwa para kader parpol beritikad baik dan benar-benar melaksanakan janji-janji manis itu. Anggaplah akses ke pelayanan kesehatan gratis bertambah banyak sebesar 100%, tetapi janganlah heran kalau masih saja ada warga negeri kita Indonesia ini yang ditolak mentah-mentah untuk mendapatkan pelayanaan gratis itu hanya karena dirinya tidak memiliki KTP yang menjadi syarat penerbitan surat keterangan miskin. Si warga mengeluh : “Mahal banget sih biaya bikin KTP nya ”

Jadi, mari kita dukung para caleg dan parpol yang mau memprioritaskan program perbaikan sistem informasi kependudukan; sebuah program yang cenderung tidak sepopuler sembako dan BBM murah, hehe. Dengan begitu, kita pun bisa yakin bahwa penduduk Indonesia saat ini masih dua ratus jutaan, bukan empat ratus jutaan :P . ^_^V

Zhahir dan Tersembunyi Oktober 8, 2008

Posted by alfikr in Numpang Lewat.
2 comments

Penduduk Indonesia ini sepertinya memang gemar mencampuradukkan bahasa. Campuraduk bahasa ini bukan hal asing lagi dalam keseharian kita, bahkan di suasana Lebaran sekalipun.

Kita sering mendengar istilah (yang selalu diucapkan tidak lengkap atau sering salah tatabahasanya) “minal aidin wal faizin”. Dalam ungkapan ini penduduk Indonesia masih konsisten karena seluruh kosakata dalam istilah ini berasal dari Bahasa Arab. Namun, istilah ini kemudian diiringi dengan ungkapan “Mohon maaf lahir dan bathin” yang menunjukkan ketidakkonsistenan kita. Supaya terlihat sedikit lebih konsisten, harusnya kita menggunakan istilah “Mohon maaf zhahir dan bathin” atau “Mohon maaf lahir dan tersembunyi :)

Hati pada Cermin September 22, 2008

Posted by alfikr in Inspirasi.
5 comments

Dunia itu bagai nenek tua yang cantik jelita. Kecantikannya begitu merayu para penghuninya untuk juga tampil menawan. Tidak ada makhluk yang paling ingin tampil rupawan selain manusia. Setiap hari sebagian besar manusia bersolek di depan cermin sebelum berangkat ke sekolah, ke pasar, ke kantor, atau ke tempat kesibukan lainnya. Mereka ingin tampil sempurna, harum, percaya diri, dan mempesona agar kesuksesan dan keindahan mewarnai hari-hari yang mereka lalui.

Terkadang atau bahkan sering, kita terlena dengan segenap aktivitas bersolek. Kita tenggelam ke dalam lautan materialisme, merasa cukup puas dan percaya diri dengan bedak-bedak harta yang mencemongi wajah kita, merasa bangga dengan sekian banyak fasilitas dan kelebihan yang kita punyai, merasa hebat dengan pangkat dan kekuasaan yang kita miliki.

Sebagian kita lupa bahwa perhiasan dunia yang membuat diri kita tampil indah itu seperti air garam di lautan sana. Meminumnya hanya akan menambah haus dan menciptakan dahaga berikutnya. Di saat kehausan tak berujung melanda mereka, sebagian yang lain malah mencibir semua perhiasan itu. Mereka menganggap gemerlapnya hanya akan membuat lupa kepada Allah, padahal sebenarnya mereka lah yang lupa bahwa Allah meminta mereka agar tak lupa dengan kebahagiaan dunia (lagi…)

Ikhlas itu Dinamis, Bergerak, dan Kunci Prestasi Juli 14, 2008

Posted by alfikr in Inspirasi.
9 comments

Adalah suatu anugerah yang luar biasa, ketika kesempatan untuk menelisik ruang-ruang rahasia kehidupan hadir di hadapan kita. Aku pun berlomba agar Tuhanku berkenan mencurahkan anugerah itu, meskipun aku sadar bahwa hati yang kesat cemerlang menjadi syaratnya. Itulah yang tampaknya berat bagiku. Kuakui, masih jauh kecemerlangan itu dari hati ini. Ketika kita memiliki hati yang bersih, kita bisa merasakannya, dan ketika kita memiliki hati yang kotor, kita pun tak mampu mendustainya. Sebab hati adalah raja diri. Ia lah pemimpin yang “menuntun” langkah ke jalan yang lurus atau berbelok. Ia lah yang menyambut tamu agung berupa hidayah-Nya, atau menerima ajakan berperang raja-raja negeri syaithan.

Saudaraku,
Sebuah ungkapan sarat makna mengemuka dalam pembelajaran tentang hati. Ungkapan itu berbunyi “seolah-olah ilmu tentang hati hanya berbicara tentang keikhlasan”. Sedemikian pentingnya keikhlasan, sampai-sampai ia menjadi primadona dalam konstelasi ilmu hati. Lantas, apa yang ada dalam benak kita tentang keikhlasan?

Meskipun begitu banyak literatur yang menerangkan tentang keikhlasan, tak bisa kita pungkiri bahwa begitu sering kita dicekoki oleh pemahaman yang mempersepsikan keikhlasan secara salah. Ikhlas seringkali disetarakan dengan “rela”. Penyetaraan ini menjadi tidak tepat karena sebenarnya “kerelaan” hanyalah salah satu aspek dalam makna ikhlas. Pada kesempatan lain, ikhlas sering juga dipersepsikan dengan makna “sedikit”. Persepsi ini acapkali kita jumpai dalam aktivitas pemberian sedekah. “Berilah sedekah seikhlasnya”, demikian ungkapan yang akhirnya diterjemahkan sebagai “berilah sedekah meskipun sedikit”. Persepsi lain yang kurang tepat adalah ikhlas dipahami sebagai sikap mental yang menunjukkan ketidaksungguhan. Kita mungkin pernah mendengar pernyataan “Silakan bantu/kerjakan seikhlasnya”. Pernyataan ini sama saja dengan izin (atau bahkan menjadi sumber motivasi negatif) dari si pembuat pernyataan kepada orang yang dituju untuk “membantu” atau “mengerjakan” secara sembarangan atau tidak optimal. Dengan demikian, penambahan imbuhan “se-nya” pada kata “ikhlas” telah benar-benar mendegradasi makna ikhlas itu sendiri.

Terlepas dari persepsi-persepsi yang kurang tepat seputar keikhlasan, entitas ini memang berada dalam ranah transendental yang definisinya tak selalu mudah dipraktikkan sehingga persepsi-persepsi itu hadir—mungkin—sebagai “solusi praktis” dalam menerjemahkan istilah “ikhlas”.

Akar kata dari “ikhlas” bermakna “bening, tidak ada noda yang tercampur sedikitpun”. Selanjutnya, secara istilah ”ikhlas” diartikan sebagai pengharapan terhadap ridha Allah semata dan tidak mengiringinya dengan pengharapan terhadap ridha dari selain Allah, apalagi hanya mengharap ridha dari selain Allah. Oleh karena itu, wajarlah jika lawan dari sifat ikhlas disebut juga syirik kecil, yakni ketika kita menyandingkan makhluk sejajar dengan Allah sebagai pihak yang dimintai keridhaannya.

Saudaraku,
Ada sebuah pertanyaan mendasar terkait dengan pengharapan terhadap ridha Allah : seperti apa aktivitas ”mengharap ridha Allah”?. Jawaban yang paling mudah adalah kita berdoa kepada Allah agar dihindarkan dari sifat riya/pamer dan hanya mengharapkan pahala dari Allah semata. Selanjutnya kita pun berulang-ulang kali membangun persepsi dan memotivasi diri sambil berkata dalam hati : ”Saya melakukan ini hanya karena Allah, bukan karena ingin dilihat atau dipuji orang lain”. Dalam rangka mendukung ikhtiar ini, kita yang belajar ikhlas pun berusaha semaksimal mungkin untuk menyembunyikan kebaikan yang kita lakukan agar tak diketahui khalayak ramai.

Semoga kita tidak puas hanya dengan berdoa dan menyembunyikan kebajikan yang kita lakukan. Semoga kita tidak memisahkan konstelasi ikhlas dari konsep ikhtiar, yakni bersungguh-sungguh, berprestasi, dan profesional dalam beramal. Ha inilah yang tampaknya perlu disemarakkan lebih baik lagi dalam konteks belajar mengikhlaskan hati. Ikhlas harus pula identik dengan upaya bekerja keras dan cerdas sebagai efek positif dari niat yang lurus karena demikianlah yang dituntunkan Allah swt. Ikhlas itu bukan sekedar pasrah, sekedar bersembunyi ketika mengerjakan kebaikan, dan sekedar berdoa, lalu berdiam diri sembari menunggu hujan emas turun dari langit.

Bekerja keras dan cerdas secara profesional sesuai dengan karakter amal yang kita lakukan adalah juga sumber keridhaan Allah swt sehingga aspek-aspek ikhtiar ini menjadi bagian yang tak terpisahkan dari makna ikhlas itu sendiri. Seorang guru boleh jadi belum sempurna ikhlasnya, apabila ia tidak menyiapkan materi dan silabus pengajaran dengan sebaik-baiknya. Seorang pembantu rumah tangga boleh jadi belum sempurna ikhlasnya, ketika ia tidak berupaya memisahkan pakaian yang luntur dari pakaian yang tidak luntur pada saat mencuci pakaian. Seorang pegawai boleh jadi belum sempurna ikhlasnya ketika tidak berupaya optimal untuk mencapai target pekerjaan yang telah ditetapkan. Seora pelajar boleh jadi belum sempurna ikhlasnya, apabila ia bermalas-malasan dalam mengerjakan tugas-tugas sekolah. Jadi, ikhlas itu sesuatu yang dinamis, bergerak, dan kunci prestasi.

Terkait dengan kedinamisan implementasi keikhlasan, tampaknya kita perlu sedikit membahas perihal keutamaan menyembunyikan amal kebajikan. Menyembunyikan amal memang menjadi bentuk upaya mengikhlaskan hati. Namun, hal ini tidak serta merta menghadirkan logika bahwa jika tidak menyembunyikan amal, berarti tidak ikhlas. Muhammad bin Shalih Al-Munajjid dalam bukunya yang berjudul ”Silsilah Amalan Hati” mengutip pendapat Ibnu Qudamah dan kemudian merincikan prinsip-prinsip dalam memperlihatkan dan menyembunyikan amal sebagai berikut :
# Amal perbuatan yang dianjurkan oleh sunnah untuk dikerjakan secara rahasia hendaknya dikerjakan secara rahasia.
# Amal perbuatan yang dianjukan oleh sunnah untuk dikerjakan dengan terang-terangan, hendaknya dikerjakan dengan cara terang-terangan.
# Amal perbuatan yang dapat dilakukan, baik secara rahasia maupun terang-terangan, jika orang yang bersangkutan termasuk orang yang kuat menanggung pujian orang lain atau celaan mereka, maka bagi dia boleh dilakukan secara terang-terangan. Akan tetapi, jika dia termasuk orang yang tidak kuat menyangga hal tersebut, maka hendaklah dia mengerjakannya dengan sembunyi-sembunyi. Dari penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa jika jiwa seseorang kuat untuk menghindar dari riya’, tidaklah mengapa baginya jika menonjolkan amalnya, karena sesungguhnya dalam keadaan seperti itu hal yang lebih baik adalah dengan menonjolkannya, agar dapat diteladani oleh yang lain.

Dari paparan Al-Munajjid di atas, kita bisa memahami bahwa memperlihatkan atau menyembunyikan amal bukanlah parameter absolut keberhasilan kita dalam mengikhlaskan hati, melainkan tetap hanya sebagai usaha untuk meraih keikhlasan itu sendiri. Oleh karena itu, tak selayaknya kita merasa cukup seolah-olah berada dalam zona aman ketika kita sudah ”berhasil” menyembunyikan amal kita. Jika kita demikian, jadilah kita pribadi yang statis dan belum tentu juga Allah menilai kita sebagai manusia yang ikhlas. Kita harus bergerak, melatih diri, dan terus berusaha agar semakin hari semakin kuat menanggung pujian atau celaan sehingga niat yang hadir sejak awal tetap lurus ketika memberikan contoh teladan yang baik melalui sebagian amal kita.

Keteladanan yang dapat kita contohkan melalui amal-amal kita adalah poin prestasi tingkat berikutnya dari implementasi keikhlasan karena hal ini menunjukkan kita tidak sedang memikirkan diri sendiri, tetapi juga sedang memberikan manfaat bagi orang lain. Adalah prestasi yang lebih hakiki, ketika kita menjadi pribadi yang bermanfaat bagi lingkungan kita, daripada sekedar menjadi pribadi yang berprestasi untuk kepentingan diri sendiri.

Saudaraku,
Di atas semua rangkaian kata yang terjalin ini, Al-Munajjid menuturkan bahwa sesungguhnya ikhlas adalah rahasia antara Allah dan hamba-Nya, tiada yang mengetahuinya, baik malaikat pencatat amal perbuatan maupun syaithan yang berupaya merusak amal sang hamba. Bahkan, kita pun mungkin tidak yakin seratus persen bahwa setiap niat yang terbetik sejak sebelum amal, pada saat beramal, dan setelah amal, benar-benar terjaga kemurniannya. Inilah jua yang menjadi pelajaran bagi kita dalam konteks dinamika dan progresivitas keikhlasan, yakni tiada alasan bagi kita untuk ”puas” dan merasa ikhlas. Kita harus terus berlatih untuk meraih keikhlasan yang lebih baik. Anggaplah kehidupan ini sebagai sarana untuk berlatih ikhlas sepanjang masa, sehingga kita kita terus bergerak, dinamis, dan semakin bersemangat untuk meraih prestasi. Aamiin.

Corsa Maxi : Edisi Pertama Juli 4, 2008

Posted by alfikr in Nasional.
4 comments

Pembaca yang budiman…

Kita ketemu di edisi pertama Corsa Maxi nih… Apa sih Corsa Maxi itu? Sengaja sih dibuat kebarat-baratan (dan agak maksa, hehe) padahal kepanjangannya cukup ndeso :-P , yaitu Cari Obrolan Saat Makan Siang. Doain aja, semoga ane konsisten untuk terus menyajikan Corsa Maxi sebagai sarana refreshing :D .

Kali ini, wartawan Corsa Maxi (CM) bergerilya di kantin Fiddarain, tepatnya di belakang kampus Universitas Harapan Bangsa. CM memilih secara acak salah satu mahasiswa yang lagi asyik makan siang. Namanya Akromann (AKR).

CM  : “Assalaamualaikum, mas”

AKR : “Waalaikum salam warahmatullahi wabarakatuh”

CM  : “Maap nih ganggu, saya wartawan dari Corsa Maxi. Mo ngajak ngobrol-ngobrol sebentar boleh yaa. Siapa tau dapet isu terbaru nih dari kalangan mahasiswa :D(lagi…)

Targhib wa Tarhib Mei 5, 2008

Posted by alfikr in Uncategorized.
8 comments

Apa yang kita butuhkan

adalah kepercayaan

Apa yang jangan pernah terlintas

adalah ketakutan yang tak bertuan

Ketika yakinmu luruh berderai

langkahku sontak menderu

mematung terdiam di jalan ini

mencari cahaya dalam temaram

kala mendung pun hilang berganti

Sang Seremonialis April 10, 2008

Posted by alfikr in Inspirasi, Nasional.
6 comments

Hari itu Badu tampak begitu semangat dan ceria. Ada apa gerangan? Ternyata Badu berencana untuk menemui Sekum yayasan yang menaungi unit dakwah tempat ia beraktivitas. Ia dan seorang temannya akan mengajukan proposal peringatan Hari Lingkungan Hidup kepada Sekum Yayasan. Acara peringatan itu secara garis besar terdiri atas Lomba Gerak Jalan Sehat sambil membersihkan sampah yang berserakan, Gerakan Tanam Pohon di beberapa sudut kota, Lomba Menghias Bak Sampah, dan Demonstrasi Pengolahan Sampah Organik.

Dengan lancarnya Badu menjelaskan panjang lebar rencana kegiatan dalam proposal kegiatan Lingkungan Hidup itu, sembari berharap sang Sekum terpesona dan menyetujui rencana tersebut. Setelah beberapa menit melakukan presentasi, akhirnya ucapan Badu sampai juga pada ‘titik’. Sang Sekum yayasan pun menimpali dengan singkat, “Sudah selesai?”. “Sudah, pak!”, ujar Badu dengan mata yang berbinar-binar.

“Badu, mengapa sih harus bikin acara yang gede kayak gini?? Apa esensinya?”, tanya Sekum yayasan.

“Untuk memotivasi peserta agar cinta lingkungan hidup, pak”, jawab Badu masih bersemangat.

“Apa kamu yakin dua ratusan peserta itu akan ingat dan melaksanakan pesan-pesan pada acaramu itu di keseharian mereka? Kok saya ga yakin ya… Bukannya seringkali semangat di awal pas hari H, tapi setelah itu lupa?”, cecar Sekum yayasan. (lagi…)

Dimulai dari nol Maret 30, 2008

Posted by alfikr in Inspirasi.
11 comments

“Dimulai dari angka nol ya pak”, begitulah kira-kira ungkapan dalam iklan salah satu perusahaan minyak di Indonesia yang mulai sering menghiasi layar kaca. Kalau kita perhatikan, isi dari iklan itu merupakan deskripsi itikad dan rencana baik perusahaan pengiklan untuk memberikan layanan yang jujur dan prima kepada masyarakat. Itu semua terwakili dengan pernyataan yang inspiratif: “dimulai dari angka nol”. [Ini bukan promosi lho, cuma sekedar contoh:D]

Secara manusiawi, semua kita pasti—setidaknya—akan mencium aroma kebaikan di balik ungkapan “dimulai dari nol”. Jika kita mengisi bensin dan petugasnya mengucapkan “dimulai dari angka nol”, kita akan termotivasi untuk menyakini kejujuran si petugas dan sistem pengisian bahan bakar yang digunakan. Jika seorang pengusaha sukses mengucapkan “saya memulainya dari nol”, maka akan tergambarkan bagaimana gigihnya ikhtiar sang pengusaha yang tak kenal menyerah dan rela jatuh-bangun sehingga bisa sukses di kemudian hari. Jika kita menimbang sesuatu, maka kita akan percaya dengan hasil timbangan itu jika jarum penunjuknya berawal dari angka nol. (lagi…)

Sekuntum Mawar Untukmu Maret 17, 2008

Posted by alfikr in Tentang Cinta.
19 comments

Aduhai indah nian, ya Allah, mawar yang Engkau hadiahkan untukku. Ia lah permata hatiku, yang menebar sejuk dan harum ke segara penjuru hati hamba. Merah mahkotanya adalah cinta kasih-Mu. Hijau segar kelopaknya adalah kekuatan-Mu untuk diri yang lemah ini. Untai tangkai berdurinya adalah ujian keimananku agar tak pernah sedetik pun berpaling, mencari pengganti Diri-Mu. Aromanya adalah terapi jiwaku yang ingin selalu bersandar pada-Mu, bergantung pada kuasa dan kehendak agung-Mu…

Mawar ini adalah bukti betapa sayang-Mu pada hamba; lebih luas dari alam semesta-Mu; lebih dalam dari samudera biru-Mu; lebih lembut dari sutera surga-Mu; lebih kokoh dari langit dan bumi-Mu. Betapa elok rupanya, membuat mata zhahir dan bathin hamba tak kuasa menahan haru. Air mata cinta mengalir, menyejukkan wajah dan hatiku, saat kunikmati keindahannya. Saat sendiri di tengah malam, saat terbina dalam ukhuwah, adalah saat saat terindah…ketika sang mawar mekar bersemi…menebar harum yang terus mewangi…

Engkau telah tetapkan ya Allah. Mawarku juga untuk hamba-Mu, teman hidupku. Saat ini, hanya Engkau yang Maha Tahu rahasia itu. Kepada siapa kurangkaikan mawar terindah ini, agar terjalin dua kuntumnya di dua hati yang bersatu selamanya; agar sempurna jalan yang harus ditempuh dalam kemuliaan agama-Mu; agar tentramnya selalu bercahaya di sepanjang jalan menuju ridha-Mu.

Terkadang hati ini gundah dan tak sabar menunggu. Saat itulah sejatinya, Engkau menguji kesetiaanku pada-Mu. Saat itu pula, musuhku yang paling nyata menertawakan kelemahanku; saat tanpa sadar, kaki ini melangkah menjauh dari-Mu; saat tanpa sadar, hati ini berharap pada makhluk-Mu, bukan pada-Mu. Ampuni hamba, ya Allah. Sungguh, hamba tidak tahu, sedang Engkau Mengetahui segalanya. Engkau mengetahui yang terbaik untuk hamba-Mu.

Aku hanya bisa mengerahkan ikhtiar dan menghulurkan doa. Harap dan cemas berpadu, tunduk di bawah kebesaran-Mu. Rabbii, aku tak berharap kesempurnaan, tetapi hamba merindukan harmoni yang selalu menggubah nada-nada cinta-Mu, di dalam mahligai mawar yang terangkai indah. Rabbii, aku tak mau melayang dalam angan yang panjang. Karenanya, hamba memohon kekuatan dan ketegaran agar terjaga dalam kekhusyukan, membara dalam persiapan jiwa dan raga, menanti hari yang tak pernah dilupakan. Itulah hari, saat hamba mengucapkan dan Engkau pun menyaksikan : “Sekuntum mawar ini kurangkaikan untukmu, teman sejatiku…”